Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 50


__ADS_3

Gama Hardiyoga, pria tampan dan mapan. Muda, sukses, banyak digandrungi wanita dari kalangan atas sampai yang biasa. Satu-satunya pewaris GH corporation, sebuah anak perusahaan advertising yang kini dinaunginya. Lahir dari keluarga sultan yang tidak kurang suatu apa pun sejak dini.


Sayangnya karir yang mulus dan harta yang berlimpah tak menjadikan pria itu sukses dalam rumah tangganya. Bahkan semenjak jalinan pertamanya terkuak dengan There, sang ibu sudah terang-tetangan menyatakan protes atas hubungan mereka. Namun, ayah dan ayah There yang begitu akrab itu sudah saling klop dengan hubungan putra putrinya.


"Akhirnya kamu pulang juga," sambut Bu Marta dingin. Menyambut putranya yang sejatinya selalu perempuan itu rindukan.


Bu Marta memang tidak menyukai There karena peringainya yang kurang pas menurut dirinya. Tapi tidak juga membenci, seorang nenek itu tetap berharap cucu dari anaknya yang akan meneruskan kerajaan bisnis keluarganya nanti. Mengingat Gama adalah anak satu-satunya.


"Maaf, Ma, jarang mengunjungi Mama," ucap pria dua puluh tujuh tahun itu sembari menyalim takzim ibundanya tercinta dan juga ayahnya.


"Apa sudah ada tanda-tanda istrimu mengandung? Bawa ke sini kalau istrimu sudah hamil. Mama selalu malu saat arisan ditanya teman-teman Mama tentang cucu."


"Ma, Gama baru saja pulang, kenapa harus mempertanyakan hal itu. Biarkan dia duduk dengan nyaman dulu," protes Pak Adi.


"Biarin saja Pa, kalau memang sama-sama sibuk ya biar promil, atau cari cara biar bisa cepat hamil. Ini seharusnya sudah warning Pa, tiga tahun!" omel Bu Marta kesal.


Seharusnya putra putri mereka mulai serius dengan program keturunan. Walaupun anak itu suatu garis keturunan takdir, tapi setidaknya ada usaha yang dijalani.


"Segera Ma, tapi bukan There," jawab Gama jujur.


"Apa maksud kamu, Gam? tanya Bu Marta terperangah.

__ADS_1


"Gama bercerai dengan There, Ma," jawab Gama apa adanya.


"Cerai? Mama tidak menyuruh untuk bercerai, Mama ingin kalian sama-sama meluangkan waktu untuk bisa promil."


"Tapi itu tidak mungkin, Ma, semua sudah terjadi dan gugatan dari pengadilan pun sudah aku layangkan. Tinggal menunggu proses final," ucapnya cukup tenang.


"Ada yang perlu Gama sampaikan, Gama ingin menikah lagi, dan calonnya sudah ada."


"Secepat itu? Kamu selingkuh?" tuduh Mama cepat merespon.


"Maaf, Ma, ampuni perbuatan Gama yang membuat Mama dan Papa kecewa. Tapi itu benar adanya, Gama akui itu salah dan Gama benar-benar menyesal. Gama ingin bertanggung jawab, tolong restui kami, saat ini perempuan itu bahkan sedang mengandung cucu Mama."


"Ampuni Gama, Ma, Gama khilaf, Gama sadar dan ingin segera mengakhirinya dosa ini dengan segera mempertanggung jawabkan perbuatan Gama."


"Siapa perempuan itu?" tanya Bu Marta terasa sesak.


Apa pun alasanya, Bu Marta jelas menentang sikap putranya, apalagi dirinya seorang perempuan. Perselingkuhan jelas membuatnya ikut terluka.


"Nessa, Ma, adik angkat There!" jelas Gama jujur.


"Apa! Kamu sudah tidak waras!" satu pukulan mendarat sempurna di pipi pria itu. Panas dan terasa sakit, tapi tidak lebih sakit dari melihatnya yang begitu murka. Gama hanya menikmati dengan wajah tertunduk pengampunan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Mama melahirkan anak dari rahim Mama, seperti kamu Gama!" murka Mama memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Tenang Ma, Mama tenang dulu, jaga emosi Mama," cegah Pak Adi ikut sedih sekaligus prihatin dengan kondisi rumah tangga putranya.


"Bagaimana Mama bisa tenang! Astaga ... Papa! Kelakuan anakmu benar-benar sudah di luar kendali."


Perempuan itu langsung bisa menerang jauh dengan pemikirannya tentang kacauan keadaannya saat ini.


"Saat ini Nessa di rumah sakit Ma, karena keadaannya lemah. There menyerangnya kemarin karena Gama mengakuinya."


"Mama Rianti, kalau itu di luar kendali Gama. Beliau saat ini tengah kritis di rumah sakit, bila ada waktu Mama bisa datang menjenguknya."


"Tolong restui kami, Ma, aku mencintainya. Walaupun kita mengawali dengan cara yang salah, aku ingin menebus dosa ini dan memperbaikinya."


"Mama tidak tahu harus ngomong apa, yang jelas Mama akan memberi restu jika kamu sudah menyelesaikannya dengan benar dan mampu meng-handle semuanya. Baru Mama akan mempertimbangkannya."


"Terima kasih, Ma, Pa, aku harap Mama dan Papa meluangkan waktunya untuk ini. Sekali lagi, Gama mohon ampun atas perilaku Gama yang sudah membuat Mama dan Papa kecewa."


Gama cukup menyesal, dan tentu saja merasa bersalah dengan semua orang. Semoga Tuhan mengampuni perbuatannya yang menyimpang.


Setidaknya Gama sedikit lega setelah mengadu dengan kedua orang tuanya tentang masalah yang tengah ia hadapi. Hanya harus menyakinkan Nessa untuk yakin memperjuangkan hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2