
Belakangan Gama menjadi super sibuk sekali. Pria itu masih tetap tinggal di rumahnya yang dulu, yang pernah menjadi tempat singgah Nessa dulu sebelum berangkat ke luar negeri.
Pria itu menempati karena selain tempatnya nyaman, di situ juga meninggalkan banyak kenangan tentang keduanya.
"Astaghfirullah ... apa yang saya pikirkan," tegur Gama pada diri sendiri. Cepat-cepat istighfar ketika hati dan pikirannya mulai oleng lagi.
Cepat-cepat pria itu mengambil wudhu, lalu melaksanakan tiga rakaat maghrib begitu terdengar kumandang adzan. Pria itu sedang melatih diri untuk tepat waktu. Meninggalkan semua urusan dunia, dan benar-benar menerapkan disiplin dengan mendahulukan apa yang seharusnya dikerjakan.
"Bay, aku mau ke mushola terdekat, ya, sekalian jalan di sekitar kompleks," pamit Gama senja itu. Mereka baru saja pulang dari kantor beberapa menit lalu. Setelah bebersih pria itu langsung menuju tempat ibadah. Biasanya akan pulang habis isya sekalian jamaah di sana. Terkadang menunggu ustadznya turun menunggu kajian setelahnya. Begitulah kira-kira keseharian Gama yang sudah mulai berjalan.
Awalnya terasa aneh, sesuatu yang baik itu memang harus sedikit dipaksakan agar terbiasa. Mencoba dengan hati lapang, dan malah sekarang ketagihan. Ia akan merasa ada yang kurang atau semacam tidak tenang bila belum mengerjakan kewajiban sholat. Kedamaian mulai terasa ia dapatkan saat hatinya benar-benar kembali pada-Nya. Bahkan di suatu ketika, setelah menghadap Ustadz Aka, Gama menangis dalam diam. Merenungi semua kesalahan dan dosanya.
Dia terlalu mencintai dunia hingga lalai pada Tuhan. Padahal ia diberikan rezeki yang tak pernah putus. Apa ini termasuk sebuah ujian? Atau teguran?
"Ustadz, saya sangat membenci dengan takdir yang menimpa saya. Saya benar-benar marah dan kecewa, tetap hidup saya merasa blangsak sekalipun saya mencoba berontak."
"Semua akan kembali pada dalamnya qalbu yang Mas miliki. Sejauh apa pun Anda melangkah, kalau tempat pijakannya salah, sakit," kata Ustadz Aka.
__ADS_1
"Saya harus bagaimana, Ustadz?"
"Cukup ikhlas dulu, lepaskan semua amarah. Bersyukur untuk hari ini dengan apa yang Allah titipkan. Bisa jadi kamu membenci sesuatu, tetapi menurut-Nya itu baik," ucap Ustadz Aka bijak.
Semua itu benar adanya, setelah Gama benar-benar di titik putus asa dan tak bersemangat. Tuhan seakan memberikan cahaya lewat orang-orang baik yang menaunginya.
"Perkara nanti jodoh ataupun bukan, jangan terlalu memaksa walaupun tetap ikhtiar. Ia tidak akan lari meski rintangan yang menghadang terjal. Senantiasa mendekat, semakin dekat dengan orang yang tepat dan di hari yang paling baik menurut-Nya."
Apakah ini hari yang paling tepat menurut konsep jodoh pilihan Tuhan? Hingga tanpa diduga, Gama begitu terkejut mendapati Nessa ada di meja yang sama malam ini. Tadinya pria itu baru pulang dari masjid, buru-buru datang ke rumah ibunya karena panggilan itu. Gama sama sekali tidak tahu kalau ibunya juga mengundang Nessa.
"Waalaikumsalam! Nah ini orangnya yang ditunggu muncul juga, sampai lapar!" omel Bu Marta mendapati putranya sudah datang tanpa kurang suatu apa pun.
"Maaf Ma, tadi nggak tahu kalau telepon, tumben Mama ngajak makan malam sedikit maksa?" ujar Gama sembari menghampiri papahnya. Menyalim keduanya dengan takzim.
Perubahan Gama yang cukup wao itu dirasakan kedua orang tuanya. Gama lebih enak diajak ngobrol, dan beliau seperti melihat Gama masa SD saat selalu patuh dan pamit pada sang Mama. Keduanya begitu dekat. Sekarang ibu dari satu anak itu merasakan putranya kembali. Dia tumbuh dewasa dengan pribadi yang lebih baik lagi.
"Tante, ini saus udangnya udah, coba koreksi rasa," ujar perempuan itu menghampiri meja. Usut punya usut kedua perempuan beda generasi itu tengah demo masak untuk menyiapkan acara makan malam itu.
__ADS_1
"Owh oke, Nak, siapp!" jawab Bu Marta bergegas.
Sementara Gama sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Pemandangan yang sangat langka dan itu seperti mimpi baginya. Di mana ada dua perempuan yang sangat Gama sayangi tengah kompak menyiapkan masakan untuk keluarganya. Seumur dulu pernah menikah, Mama tidak pernah sekalipun melakukan kegiatan serupa dengan sang mantan.
Setitik embun membasahi pelupuk matanya, jelas Gama terharu melihat itu. Buru-buru ia menghapusnya dan segera menormalkan pandangannya. Beristighfar banyak-banyak untuk menghalau perasaan yang mulai tidak tahu diri.
Satu tepukan mendarat sempurna di pundaknya. Ternyata Pak Adi yang diam mengamati.
"Jangan terlalu lama menunda sebuah kebaikan, kami merestuinya, Nak," ucap beliau memberikan dukungan penuh.
"Aku merasa belum pantas sampai di titik ini, kalau saja ada kesempatan kedua aku ingin segera mengkhitbahnya," ucap Gama tertunduk. Kembali ke meja makan menanti ibu dan juga Nessa yang ikut membantu menyiapkan makan malam. Entah apa yang mereka obrolan selama ini. Bahkan kedekatan keduanya Gama baru ketahui.
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, nampak Bu Marta mempersilahkan tamu mereka. Masih sama-sama diam, karena merasa bingung dan mendadak canggung serta deg degan. Padahal sebelumnya tidak pernah sehebat ini. Kenapa sekarang hanya menatap wajahnya sekilas saja membuat hatinya kebat kebit tak karuan.
Usai makan malam yang penuh dengan suasana canggung dan bingung. Tiba-tiba Bu Marta dengan terang meminta Nessa untuk menjadi sebagian dari keluarganya. Itu artinya Bu Marta sedang melamarnya kah?
"Nak Nessa? Maukah kamu menjadi mantu Mama Nak, istri untuk Gama?"
__ADS_1