
Pertemuan yang tak disengaja, bahkan harum mint dan aroma tubuh keduanya begitu terasa menguar di area indera penciumannya. Memberikan kenyamanan bagi siapa pun yang berada di dekatnya. Sesaat mereka hanya diam.
Setelah beberapa detik saling diam, keduanya memberi jarak. Gama menarik dirinya dengan kikuk, sementara Nessa terdiam dan masih sedikit shock. Keduanya duduk saling membelakangi dengan bingung.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap pria itu lirih.
Nessa tidak marah, namun juga tidak mungkin mengumbar bahwa dirinya merasa senang mendapat insiden itu. Bisa malu kalau perasaannya selama ini semakin diketahuinya.
"Tidak usah dibahas, hanya sebuah insiden yang tidak penting," balas Nessa dengan hati berdegup.
"Kalau begitu aku kembali ke kamar, nyalakan saja saklarnya insya Allah sudah menyala."
"Hmm, terima kasih," jawab Nessa masih dalam posisi yang sama.
Terdengar langkah kaki menjauh lalu pintu tertutup, sepertinya kak Gama sudah keluar dari kamarnya barulah Nessa berani menengok sembari bernapas lega.
"Huh ....!" Ia mengelus dadanya seakan terbebas dari rasa tegang. Untung saja tadi dalam keadaan setengah gelap, rona di wajahnya masih bisa diselamatkan. Melangkah cepat menekan tombol saklar lalu sedikit berlari menuju ranjang. Membenamkan wajahnya di bantal dengan perasaan tak karuan.
"Sial, kenapa nggak bisa tidur sih," gerutu Nessa tak habis pikir. Hatinya tak bisa bersikap normal gegara sentuhan panas itu.
"Ya ampun ... nggak bisa dibiarin, nggak mungkin aku kaya gini. Ingat Nessa, Kak Gama suami Mbak There dan kamu harus tahu diri, atau kamu akan mendapat karmanya." Nessa terus bermonolog dalam hatinya. Merutuki perasaannya yang terlampaui berbeda dari biasanya.
Semalaman ia tak bisa tidur, bahkan harum tubuhnya yang tertangkap pada indera penciumannya seakan membekas tak tersisa. Paginya jelas ia mendapat bonus mata panda. Concealer yang ia pakai tak cukup membantu, terbukti ibu mengamatinya dengan detail.
"Kamu kenapa berangkat sepagi ini, Ness. Kamu begadang?" tanya mama Rianti merasa aneh. Seharusnya normalnya jam kantor itu lebih dari jam tujuh dan ini masih sekitar pukul enam.
"Semalam ada nyelesain tugas kampus Ma. Iya Ma, takut nanti macet di jalan, Nessa kan karyawan baru jadi harus lebih disiplin. Nessa berangkat ya Ma," pamit gadis itu.
Sebenarnya itu hanya alibinya saja, ia sengaja menghindari diri demi menyelamatkan hatinya yang mulai rusuh. Ia tidak bisa menjamin akan baik-baik saja bertatap muka dengan orang yang tak sengaja telah mencuri ciumannya.
Sementara Gama, bangun seperti biasanya. Bersiap berangkat kerja. Awalnya ia kembali ingin menawarkan tumpangan, namun adik iparnya itu ternyata sudah berangkat lebih dulu.
"Gama berangkat dulu, Ma," pamit pria itu meninggalkan sarapan.
"Iya Nak, kamu nggak sarapan juga," tanya Mama merasa heran.
"Nanti saja di kantor, Mama baik-baik di rumah," ucap pria itu berpamitan. Ada Bik Narti yang sudah datang, jadi pria itu akan merasa lebih tenang.
Gama berangkat dengan hati bertanya-tanya, pasalnya Nessa berangkat di waktu tak lazim. Sepagi-paginya karyawan berangkat itu pukul tujuh dan itu pun sudah terlalu rajin. Pria itu tak mau ambil pusing, melajukan mobilnya berbaur dengan kendaraan lain. Sampai di kantor langsung disambut beberapa pekerja lainnya.
"Pagi Pak Gama!"
"Pagi," jawab Gama ramah. Menabur senyum setiap melangkah melewati kubikel karyawan.
Netranya bertemu dengan adik iparnya, gadis itu pun mengangguk sopan layaknya karyawan biasa lainnya. Tidak bisa dipungkiri hatinya sedikit berbeda kala menatap matanya, ada rasa yang entah.
__ADS_1
"Ness, tolong kamu bawain dokumen ini ke ruang Pak Gama ya, aku mau kerjain yang lain."
"Hah, saya Mbak," tanya Nessa bingung sendiri.
"Iya, sok cepet sudah ditunggu," ujar Mbak Hana menyeru.
"Iya Mbak," patuh Nessa lekas beranjak. Sebenarnya ia ragu namun mengingat pekerjaan anak magang memang dominan dengan bantu-bantu tentu saja ia tidak bisa menolaknya. Cuman dia hanya tak habis pikir, ke ruang atasan kenapa tidak yang lain saja.
Nessa melangkah pasti menuju ruangan dengan pintu kayu berwana coklat itu. Mengetuk beberapa kali lalu masuk setelah dipersilahkan.
"Maaf Pak, dokumennya," ucap Nessa gugup.
"Terima kasih Ness, kamu tidak usah seformal itu kalau hanya berdua," ucap pria itu santai.
"Hanya berusaha profesional, Pak, di rumah Kakak aku tetapi kalau di sini atasan aku," ucap gadis itu menunduk tanpa berani menatap matanya.
"Kalau begitu saya permisi, Pak!"
"Ness, apa kamu sengaja menghindariku? Aku minta maaf kalau membuat kamu tidak nyaman, tapi itu benar hanya sebuah kecelakaan."
"Tidak, eh, maksud aku, tidak sama sekali menghindari, hanya saja tadi ada sedikit kegiatan lainnya jadi harus berangkat lebih awal," kilah gadis itu mencari alasan.
"Owh ... syukurlah kalau begitu."
"Ya, aku kembali ke mejaku dulu," pamitnya canggung. Segera meninggalkan ruangan. Nessa yakin jika berlama-lama bertatap, ia tidak akan pandai berbohong setelahnya.
"Woe ... sorry nunggu dari tadi?" tanya Nessa menghampiri sahabatnya.
"Yah ... lumayan, cabut!" ujarnya semangat.
Nessa memasuki mobil Bima, duduk di samping kemudi. Melempar tasnya ke jok belakang.
"Kita ke mana dulu," ujarnya memberi kebebasan.
"Pulang dulu lah, ya kali jalan pakai baju formal kaya gini. Nggak asyik banget."
Mobil melaju menuju rumah Nessa, Bima sengaja pamit dengan ibunya Nessa kalau mereka hendak keluar. Mama Rianti tentu memperbolehkannya sebab sudah kenal dengan teman putrinya tersebut sejak lama.
"Tante Rianti itu masih sama ya, lembut banget walaupun anaknya bandel kaya kamu nggak ketulungan."
Mereka sudah berada di mobil tengah perjalanan ke cafe.
"Iya, makanya aku nggak bisa kalau nggak nurut, walaupun sebenarnya aku lebih nyaman tinggal sendiri tapi kasihan mama."
"Ah ya, jadi sebenarnya ada yang mau aku omongin ke kamu. Nanti saja setelah sampai biar ngobrolnya enak."
__ADS_1
"Oke, siap menjadi pendengar setiamu nona manis," puji pria itu melajukan mobilnya.
"Harusnya aku bawa motor, lebih seru nggak sih jalan malam kek gini."
"Boleh dicoba besok malam minggu. Gimana?"
"Siap lah!"
Mereka memilih tempat yang nyaman sembari menikmati secangkir espresso. Hingga malam menyapa keduanya masih terlibat saling curhat, lebih tepatnya Nessa yang curhat tentang kejadian semalam dengan Gama dan itu membuat Bima tak mampu berkata. Entahlah iya harus menanggapi seperti apa.
Saat masih asyik mengobrol, tiba-tiba sahabatnya itu menutupi wajahnya dengan buku menu, membuat gadis itu bertanya-tanya.
"Kenapa Bim, dia siapa? Kamu kenal?" tanya Nessa melihat arah pandang Bima.
Terlihat seorang wanita cantik baru masuk tengah menggandeng tangan seorang pria dengan mesra.
"Pacar aku, cih ... dia selingkuh juga, dasar perempuan sama saja!" gerutu Bima mengomel.
Nessa tertawa kecil, si raja player ini ternyata juga bisa diselingkuhi. Nessa pikir hanya Bima yang pandai mendua.
"Kenapa? Mau nertawain? Sok cabut!"
"Kamu nggak tegur cewek kamu? Kalau suka perjuangin lah!"
"Bukan selera aku, cewek kaya gitu mah nggak pantas buat diperjuangin. Ayo ah pulang!"
Bima menarik tangan Nessa keluar dari kafe.
"Eh, kok pulang, kamu cinta? Buktinya takut kehilangan?"
"Siapa bilang, aku cuma takut dia melihat kita, terus kamu jadi bulan-bulanan pacar aku, nggak ingat apa kapan hari pernah kejadian kaya gitu."
"Kamu sih, banyak banget ceweknya, aku yang jadi sasaran!" cebik gadis itu sedikit sebal mengingat kejadian waktu itu.
"Biarin, yang penting bukan istri orang!" jawabnya sembari menyindir.
"Tapi selingkuh juga kan, mending suami orang tetap setia. Kamu mah nggak ngerti." Nessa menyorot sengit.
"Semoga bisa menemukan jalan yang tepat, ayo pulang!" ucapnya sembari mengacak rambutnya pelan.
"Jalan pulang maksudnya?" Ia terkekeh
Bima mengantar gadis itu cukup larut.
"Hati-hati di jalan!" ucapnya dengan lambaian tangan.
__ADS_1
Nessa membuka pintu perlahan. Rumah sudah sepi, ibu juga pasti sudah tidur.
"Baru pulang? Ini terlalu malam untuk ukuran gadis, sebaiknya perbaiki pergaulanmu!" tegur Gama menghentikan langkahnya.