Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 77


__ADS_3

Acara hari itu selesai dengan berbarengnya matahari tenggelam. Nessa langsung menuju kamarnya sementara Gama masih mendampingi beberapa kerabat yang hadir. Pria itu baru beranjak ketika panggilan sholat berkumandang.


Bergegas menuju masjid terdekat, bersama dengan keluarga pria lainnya. Baru kembali usai jamaah dan langsung menemui istrinya.


"Assalamu'alaikum ....!" sapa Gama sembari membuka pintu.


"Waalaikumsalam ....!" jawab Nessa menghentikan sejenak kegiatannya lalu menyambut suaminya dengan senyum terkembang.


"Perlu bantuan?" tawar Gama diiringi senyum tipis yang terus mengulas wajahnya. Definisi dari bahagia lahir batin.


"Nggak usah Mas, bentar lagi selesai," ujar perempuan itu malu-malu.


Gama mendekat, menangkup kedua bahu istrinya dari belakang. Mengamati keduanya dari pantulan kaca rias yang tengah dipakai istrinya. Tercetak jelas rona merah di pipi kekasih halalnya. Ah, Nessa sangat manis.


"Aku ganti dulu ya?" pamit pria itu sebelum beranjak sempat mendaratkan ciuman sekilas di pipinya.


Nessa hanya mengangguk dengan senyuman. Kembali melanjutkan menghapus riasanya dengan telaten. Setelahnya ke kamar mandi untuk bersih-bersih, lalu menunaikan kewajiban umat muslim terlebih dahulu.


Sementara Gama sendiri masih menemani kerabat dan saudara yang masih ramai di ruang keluarga. Mereka masih ngumpul di rumah mama ikut serta mensukseskan acara pernikahannya.


"Gam, istrimu mana?" tanya salah satu kerabat.


"Tadi lagi sholat di kamar, sebentar Tante, Gama panggil," ujar pria itu beranjak.


Gama kembali ke kamar, tidak menemukan perempuan itu di sana. Rupanya ada di ruang ganti, pria itu pun mengetuk pintu perlahan.


"Sayang, aku boleh masuk?"

__ADS_1


"Bentar Mas, aku lagi ganti," sahut Nessa dari dalam.


"Aku tunggu di bawah ya? Ada adeknya mama sama yang lainnya pengen kenalan sama kamu lebih dekat," ujar pria itu menginfokan.


Pintu dibuka, Nessa keluar dengan gamis ungu dan kerudung senada. Membuat Gama terkesima beberapa saat.


"Iya Mas, ayo!" ujar perempuan itu siap keluar dengan balutan busana sederhana yang membalut tubuh proporsionalnya.


"Cantik banget sih istrinya Mas Gama," puji pria itu pada istrinya sendiri.


Nessa tersenyum, "Kamu jangan menggodaku terus Mas, nanti aku meleleh," jawabnya sambil berjalan keluar.


Indahnya bertatapan dengan yang halal. Terasa sejuk dalam pandangan, ada setiap pahala dan barokah di dalamnya.


"Sayang, ini semua keluarga Mama sama Papa. Mereka tinggalnya di luar kota semua, bahkan ada yang di Kalimantan." Gama memperkenalkan silsilah keluarganya.


Nessa menyambut dengan ramah, perempuan itu beramah tamah dengan keluarga besar Hardiyoga. Mereka asyik bercengkrama sembari makan bersama-sama keluarga besar.


Pengantin baru itu pamit meninggalkan ruangan yang masih begitu ramai. Tentu saja dengan ledekan yang sempat mampir bernada candaan.


"Semuanya, izin istirahat dulu ya?" pamit Gama diakhiri senyum.


"Lebih awal lebih baik Gam, selamat malam pertama," jawab salah satu kerabat mengacungkan jempolnya. Sepasang pengantin itu hanya membalas dengan senyuman sebelum akhirnya beranjak.


Setelah sampai kamar, mendadak ngantuk itu malah hilang berganti bingung dan canggung. Sempat beberapa kali mau berbicara dalam keadaan berbarengan.


"Kamu duluan mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Mas duluan aja," ujar Nessa mendadak canggung luar biasa.


"Sini dong, duduknya deketan," ujar Gama menepuk sisi kasur. Nessa bergerak merapat lebih dekat.


"Terima kasih, akhirnya mau nerima aku yang banyak kekurangan ini. Semoga mulai hari ini kita akan selalu mengasihi dalam suka maupun duka," ucap Gama penuh rasa syukur.


"Aku deh kayaknya yang harus ngomong gitu, kamu sabar banget menanti aku hingga di titik ini. Padahal kan pasti banyak banget di luar sana yang ngantri ingin jadi pasanganmu," ujar Nessa yakin.


"Karena kamu adalah jodoh yang tepat yang Allah kirimkan untuk menjadi belahan jiwaku. Yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nantinya. Aamiin."


Gama mengusap pipinya sekilas dengan ibu jarinya, lalu mengikis jarak menciumnya dengan penuh perasaan. Bahagia dan rasanya terbayar sudah penantian panjang selama ini dengan lika-likunya sampai di titik kata SAH.


"Mmm ... apa malam ini udah siap?" tanya pria itu tersenyum menggoda.


"Siap apa, Mas?" Ini jelas Nessa pura-pura tidak pintar.


"Ihk ... gemes banget, siap itu lah," ujarnya tersenyum.


"Itu apa sih, ngomong yang jelas?" Nessa terkekeh geli sambil menatap suaminya. Kenapa setelah menikah dan dinyatakan sah malah lebih canggung.


"Takut kamu nggak nyaman, pasti capek juga kan?"


"Mas mau langsung minta? Di luar masih ramai loh, kamar sebelah juga ramai."


"Iya sih, itu dia. Kamu sabar nggak kalau besok saja."


"Ya Allah ... yang ada aku yang pengen nanya kaya gitu. Mas sabar kan nunggu besok?"

__ADS_1


"Nggak kayaknya, kamu terlalu disayangkan untuk dianggurin malam ini."


"Eh!"


__ADS_2