Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 37


__ADS_3

Situasi yang sulit dicerna membuat Nessa langsung melepas tautan tangannya dengan lirikan tajam. Namun, Gama malah menggenggamnya semakin erat hingga membuat Nessa mengambil sikap langsung berhenti. Apa pria itu tidak berpikir, bagaimana cemasnya Nessa bila Mbak There melihat, atau curiga dengan gerak-gerik keduanya.


Nessa berhenti, Gama pun otomatis ikut berhenti. Dengan cepat Nessa menghempas tangannya.


"Kenapa Mas?" tanya There dengan wajah bingung.


"Umm ... Mbak, tolong sampaikan ke mama, aku tidak bisa ikut makan malam bersama mereka karena aku mendadak kurang enak badan," alibi Nessa yang entah digubris atau tidak.


Sungguh Nessa tidak minat hadir malam ini, ia terlalu takut kedua keluarga itu membahas perjodohannya.


"Lho, gimana sih? Ini kan acara kamu? Sakit dikit nggak pa-pa nanti kalau udah ketemu Rasyid juga pasti sembuh," ujar There menarik tangan Nessa agar mengikutinya.


Gama yang peka menjadi gemas melihat istrinya yang seolah-olah paling bersemangat dalam hal ini. Ia tahu persis apa yang dirasakan Nessa saat ini, bahkan mungkin emang benar sedikit kurang enak badan lantaran ulah mereka kemarin malam yang jelas masih terbayang.


"Re, jangan dipaksa kalau tidak nyaman, kamu nggak lihat adikmu sedang kurang sehat," tegur Gama berharap mampu sedikit membantu kegalauan perempuan itu yang sejujurnya juga keresahan dirinya.


"Beneran sakit? Ya kamu jelasin sendiri sana sama mama, nggak jelas banget sih!" There terlihat kesal.


"Sayang, kalau acara makan malam ini gagal kita dinner aja yuk ... udah lama juga kan kita nggak kencan," ujar There manja. Membuat Nessa sedikit sumpek mendengarnya. Ia berlalu begitu saja tanpa kata.

__ADS_1


"Kapan-kapan aja ya, aku juga sebenarnya capek pingin istirahat," kilah Gama tak ada minat.


Sebenarnya kasihan dengan There , tapi ia juga harus pandai menjaga perasaan Nessa saat ini. Ia merasa begitu bersalah melihatnya yang muram tanpa kata. Ingin rasanya membawa gadis itu ke dalam pelukanannya, namun situasi ini yang membelenggu dirinya.


Diam-diam Gama lega malam ini tidak ada pertemuan keluarga antara Rasyid dan Nessa. Tentu saja pria itu tidak akan membiarkan keduanya semakin dekat, perasaannya saat ini pada adik iparnya bukanlah perasaan biasa, Nessa benar-benar telah menguasai dirinya dan Gama merasa hampir Gila terus memikirkannya.


***


Pagi harinya Gama tidak menemukan Nessa di ruang makan. Biasanya mereka akan sarapan bersama dan kesempatan bagi Gama untuk menawarkan tumpangan berangkat. Sayangnya pria itu tidak menemukan kekasihnya yang entah mengapa begitu Gama rindukan.


Hampir semalaman tidak bisa terpejam karena memikirkan perempuan itu. Ingin menyelinap keluar mencari tahu nyatanya semalaman istrinya begitu menempel, membuat pria itu kesusahan sendiri. Tidak bertemu dengan Nessa sebentar saja mampu membuat harinya uring-uringan. Entahlah, hati dan pikiran pria itu sudah dipenuhi dengan namanya. Bahkan kalau diukur, Nessa hampir memenuhi, untuk There sendiri hampir tak tersisa rasa itu, hanya ada rasa kasihan yang terus mendera.


Saat Gama melintasi kubikel meja kerjanya nampak kosong, padahal sudah jam masuk kantor. Membuat Gama resah sendiri. Handphone Nessa juga tidak bisa dihubungi, tentu saja membuat Gama semakin bertambah stress.


"Bay, tunda meetingnya, kosongkan jadwal apa pun siang ini. Tolong handle, aku sedang butuh waktu sendiri."


Gama seperti orang tidak waras yang kehilangan arah. Tidak melihat senyumnya seharian saja mampu merubah moodnya menjadi kacau balau.


"Kamu di mana sih Ness, angkat dong telepon aku," ujar pria itu uring-uringan.

__ADS_1


Di kantor nggak ada, Gama mencoba pulang ke rumah saking penasarannya, namun nggak ada juga.


"Lho, Mas, kok udah pulang, tumben?" tanya There keheranan.


"Owh ya, ada berkas yang ketinggalan," ujar Gama berlalu langsung menuju lantai atas.


Tepat melintas di depan kamar Nessa, Gama yang cukup penasaran membuka pintu kamarnya begitu saja. Nihil, perempuan yang ia cari tidak ada di sana. Mendadak pikiran buruk menghantuinya, Gama benar-benar takut Nessa meninggalkan hatinya yang saat ini sudah terpaut padanya.


Pria itu keluar dengan perasaan kacau, masuk kamar dirinya seperti orang linglung.


"Mas, udah ketemu?"


"Iya sudah, aku balik kantor lagi ya?" ujar pria itu lalu.


"Ya ampun Mas, nggak sekalian makan siang aja di rumah ini kan sebentar lagi istirahat, lagian lain kali kalau ada yang ketinggalan cukup telepon saja nanti aku antar," ujar perempuan itu pengertian.


"Pekerjaan aku masih banyak, maaf aku langsung balik ke kantor," ujar Gama cepat.


Bukan niat hati mengabaikan istrinya, tapi mendapati fakta Nessa tidak ada di mana-mana membuatnya galau berat.

__ADS_1


__ADS_2