Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 12


__ADS_3

Gadis itu terjaga dan merasakan tubuhnya begitu hangat. Selimut tebal, kasur empuk dan langit-langit kamar yang tidak asing baginya. Tentu saja itu kamarnya, tetapi masalahnya, Nessa baru sadar semalam tengah sibuk mengemas orderan pelanggan di beranda. Dan setelahnya ia tak ingat apa pun, alias tertidur.


Tanya Kak Gama aja kali ya?


Niat hati ingin mempertanyakan hal itu, namun rasanya tak tepat. Apalagi ada mbak There yang tengah membersamainya. Sudah pasti nanti akan menjadi salah paham. Nessa pun mengurungkan niat itu.


"Pagi Ma, pagi Mbak There, Kak Gama?" sapa Nessa sebagai orang terakhir yang mengunjungi meja makan.


"Pagi," jawab Mama Rianti dan Mbak There hampir bebarengan. Kak Gama sendiri hanya tersenyum tanpa bersuara. Senyum yang selalu manis dalam ingatan Nessa.


Nah kan, masih pagi saja otakku sudah oleng jika tentang Kak Gama. Padahal kemarin begitu bersemangat untuk melupakannya, tetapi faktanya berbicara tak semudah melakoninya.


"Gimana keadaan Mama? Apa merasa sudah lebih baik?" tanya Nessa terdengar nada khawatir.


"Sudah sayang, eh ya nanti kamu bisa pulang tepat waktu? Ada sahabat Mama yang akan datang ke rumah, dia ingin mengenalmu sayang," ucap Mama Rianti yang terdengar sudah tidak enak hati.


"Iya Ma, bisa. Nanti Nessa pulang cepat," ujar Nessa menyanggupi.


"There, nanti Mama mau ngomong juga sama kamu, Nak?" ucap Mama lirih.


"Boleh Ma, kenapa nggak sekarang aja," ujar There datar.


"Sayang, aku berangkat dulu ya? Ness, mau bareng nggak?" tawar pria itu.


"Nggak Mas, Nessa biar nanti dianter aku saja, aku sekalian mau keluar."


Belum sempat gadis itu menjawab, Mbak There sudah menyahut. Rasanya kesal, namun juga tak bisa beralasan. Lagian tumben-tumbenan kakaknya itu mau mengantar.


"Ya sudah, aku berangkat ya?" pamit pria itu beranjak.

__ADS_1


"Ayo Mbak berangkat, Mbak There mau sekalian ke mana?"


Kebetulan pembantu mereka sudah datang pagi-pagi sekali, jadi bisa jagain ibu sekalian. Sebelum beranjak, Nessa kembali menghubungi Kang Adi ojek langganan barang miliknya yang setia menjadi kurir pribadi Nessa ke rumah. Antar jemput barang sebelum sampai di tempat agen pengiriman. Sejauh ini orang itu bisa diandalkan dan kerjanya cukup bagus.


"Kang, langsung diambil di ruang tengah ya, semua barang sudah aku kemas, tinggal dibawa saja. Nuhun Kang," ucap Nessa seperti biasanya.


"Siap Neng," jawab Kang Adi lalu beranjak.


***


"Ma, ngobrolnya nanti saja ya, There mau berangkat," ujar perempuan itu pamit. Mama mengangguk, kedua putrinya berujar pamit bersama.


Nessa memasuki mobil Mbak There lalu duduk dengan nyaman di samping kemudi. Mobil mulai berjalan membaur dengan kendaraan lainnya.


"Semalam tidur jam berapa, Ness?" tanya kakaknya tumben-tumbenan.


"Orderan kamu banyak juga, kenapa nggak sewa ruko atau toko saja, mudah jangkauannya."


"Kamu bisa pakai uang aku dulu kalau mau," tawar perempuan itu sungguh-sungguh.


"Nanti saja Mbak, sementara begini dulu, lagian aku masih sibuk magang yang baru berjalan, takut waktunya nggak terbagi."


"Mbak There mau ke mana?" tanya Nessa dengan heran.


"Kerja lah, ada pemotretan di daerah sini aja. Jadi bisa sekalian nganter kamu ke kantor. Eh ya Ness, ngomong-ngomong Mas Gama di kantor gimana? Apa dia dingin seperti biayasanya atau malah caper dengan karyawan lainnya.


"Aku jarang ketemu Mbak, sepenglihatan aku biasa saja. Mbak beruntung ya punya suami setia," celetuk Nessa tiba-tiba. Selalu ada rasa yang ngilu saat menyadari pria yang dicintainya adalah orang yang sama dan tidak mungkin terbagi.


"Ya, dia masih setia, entahlah besok, aku tidak tahu dan tidak menjamin," jawab There sambil melirik Nessa. Entah mengapa gadis itu menangkap gelagat yang kurang nyaman. Kakaknya itu tipe wanita yang kalau ngomong suka tak enak didengar walau benar sekalipun.

__ADS_1


"Ness, tolong aku titip Mas Gama ya, kamu sekalian awasi belakangan ini sikapnya berbeda, ya walaupun aku yakin, Mas Gama tipe setia," ucapan There seakan menohok dinding hatinya. Titip, apa jadinya kalau menitipkan pada orang yang salah.


"Iya Mbak," jawab perempuan itu mengangguk.


There mengantar sampai depan kantor suaminya, namun hanya sekilas menurunkan langsung pergi.


Tidak ada yang patut dicurigai di kantor. Kak Gama terlihat tidak ada aktivitas yang mencurigakan. Kalau pun dekat dengan perempuan, itu pun hanya Nessa yang sering dimintai bantuan. Sekretaris pria itu juga Pak Bayu. Cowok tulen walau sedikit gemulay.


Apa mbak There mulai menaruh curiga padaku kalau aku punya rasa dengan suaminya? Ah, nggak-nggak, tak akan aku biarkan semua itu terjadi. Aku tidak boleh merusak kebahagiaannya.


Sesampai di kantor, Nessa bekerja seperti biasa. Hari ini Kak Gama juga tak terlihat, kenapa tiba-tiba Nessa berharap dipanggil ke ruangannya. Sungguh otak sucinya telah ternodai dengan pikiran Gama, dan Gama. Sampai-sampai susah sekali mengingat pria lain.


"Ness, makan siang bareng yuk!" ajak Arka menghampiri mejanya.


"Eh, boleh Ka, mau di mana?"


"Ness, kamu dipanggil ke ruang Pak Gama!" seru Bayu menghampiri.


"Sekarang?" tanya gadis itu merasa tak enak hati terhadap Arka.


"Nggak pa-pa, aku tunggu aja, nanti nyusul ya?" ujar Arka santai.


Sebenarnya Nessa senang perihal ini, entah mengapa sesuatu yang sedari tadi dalam pikirannya terealisasi. Dipanggil ke ruangan kakak iparnya.


Ekspektasi tidak sesuai realita, saat Nessa masuk, ternyata sudah ada Mbak There di sana. Sontak hal itu membuat gadis itu merutuki sikapnya yang terlampau antusias. Kalau hanya untuk menjadi obat nyamuk dua sejoli yang terlihat mesra.


"Sayang, suapin ya sepertinya makan dari tanganmu lebih enak," ujarnya yang terdengar memuakan.


"Ness, sini deh, makan siang bareng, ini untuk kamu?" ujar Mbak There perhatian.

__ADS_1


"Mbak, kebetulan aku masih kenyang, baru ngemil tadi, buat yang lain saja," tanpa disadari atau tidak, Nessa terlihat sewot dan langsung beralasan meninggalkan ruangan kembali dari pada harus melihat dua sejoli itu mengumbar romantis. Ada perasaan ngilu yang mendera hatinya. Seperti tertancap duri, kecil namun sakitnya terasa.


__ADS_2