
"Ngapain ngikutin sih, pulang sana!" usir Nessa pada Gama yang seakan tak mau menyerah.
"Kamu nggak kasihan sama aku, datang jauh-jauh cuma demi ketemu sama kamu. Buat jemput kamu," ujar Gama terlihat murung.
"Aku nggak nyuruh kamu ke sini, kalau merasa tidak nyaman jangan datang. Kepergian aku sudah cukup mewakili perasaan aku terhadap kamu saat ini. Lupakan semua yang pernah terjadi."
"Semudah itu, kamu memang pandai mempermainkan perasaan orang lain."
"Kalau hubungan kita menjadi penyesalan terhadap dirimu, atau bahkan sesuatu yang membuatmu benar-benar terluka dan merasa bersalah. Kamu tidak harus merasa begitu, hubungan aku bahkan sudah rumit sebelum kamu datang. Nessa, dengan atau tanpa kamu hadir pun, aku tidak lagi bisa bersama There. Kita hanya akan terus saling menyakiti bila bersama."
"Ayo pulang, Ness. Kita menikah!" bujuk Gama menyakinkan.
Nessa tak menyahut, ia berdiri dari duduk lalu beranjak begitu saja karena hari menjelang senja. Gama terus mengekor perempuan itu. Ia berjalan di atas butiran pasir putih tanpa alas. Tiba-tiba mulut Nessa mengaduh, sesuatu keinjek kakinya.
"Nes! Kamu nggak pa-pa?" tanya Gama khawatir. Berjongkok meneliti kakinya yang memerah. Kerang tajam yang bersarang di bawah pasir melukai kakinya.
"Nggak pa-pa kok," tolak Nessa nyengir. Merasakan kakinya yang sedikit perih. Gama mengusapnya dengan lembut lalu meniupnya.
"Nggak pa-pa gimana? Itu luka, merah gitu."
"Berhenti peduli padaku, kamu membuatku semakin tidak nyaman."
"Sayangnya aku tidak bisa, bagaimana mungkin aku tidak peduli dengan calon ibu dari anak-anakku," ucapnya bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Nessa melirik dengan salah tingkah, ia hampir bisa mengikis rasa itu. Bahkan menguburnya, kalau perlakuan pria itu semanis ini Nessa benar-benar takut pertahanannya runtuh.
Perempuan itu berjalan pelan, memakai sendalnya. Sebelum pulang menyempatkan mampir di sebuah warung langganannya untuk membeli makan malam.
"Bu, nasi dua bungkus ya?" pesan Nessa begitu saja.
Gama hanya diam mengamati perempuan yang masih terlihat dingin terhadapnya. Pria itu menanti Nessa yang tengah menunggu pesanan.
"Ini mbak," ujar penjual tersebut menyodorkan bungkusan dengan kantong plastik.
"Terima kasih," ucap perempuan itu sembari melakukan pembayaran.
Nessa kembali berjalan pulang ke kost yang tak begitu jauh dengan pantai. Mengabaikan Gama yang saat ini masih setia mengikutinya. Ingin rasanya bersikap bodo amat, tapi sayangnya hatinya sedikit masih membara.
Gama menghentikan langkahnya saat netra miliknya bertemu dengan sorot tajam Bima yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Sepertinya pria itu memang sengaja menunggunya.
"Bim! Baru sampai?" sapa Nessa sedikit kaget mendapati sahabatnya sudah muncul saja di sana.
"Iya, kurang lebih lima belas menitan," jawab pria itu datar. Melirik tak suka pada Gama yang berdiri tak jauh dari Nessa.
Suasana pun menjadi aneh saat kedua pria dewasa yang sama-sama dekat itu kompak ingin masuk ke gadis itu.
"Jangan berebut, bisa kan duduk dengan tenang," ujar Nessa mencoba biasa saja.
__ADS_1
Perempuan itu masuk ke dalam membersihkan diri. Meninggalkan dua pria yang kini tengah duduk di bersama tanpa bertegur sapa.
"Kalian tidak ada yang minat bicara?" tanya Nessa gemas sendiri melihat keduanya hanya saling diamm
Perempuan itu menjamu dengan makanan yang sempat Nessa beli sebelum pulang.
"Lho bukannya dua porsi untuk aku dan kamu? Kamu gimana?" tanya Gama kurang setuju saat Nessa memberikan satu porsi lagi untuk Bima.
"Aku belum terlalu lapar, kalian makanlah!" ujar Nessa benar adanya. Rasa lapar yang sempat singgah menguap begitu saja melihat keduanya saling diam.
"Kalau begitu kamu makan punyaku Ness," tawar Gama langsung ambil sikap.
"Enggak Mas, kamu makan dulu aja," ujar Nessa kalem.
"Ibu hamil itu cepat lapar, bagaimana kalau sepiring kita makan berdua," ujar Bima yang seketika membuat Gama mendelik tak terima.
"Kalian kenapa sih, pada mau makan apa nggak? Aku mau makan yang lainnya. Bisa habiskan isi piring masing-masing!" Nessa meninggikan suaranya kesal.
Gama dan Bima akhirnya makan dalam diam. Sementara Nessa mengambil biskuit untuk cemilan dan membuat susu untuk dirinya. Tiba-tiba Nessa merasa kram saat hendak berdiri dari duduk. Membuat kedua pria itu langsung panik berdiri dan mendekat.
"Ness!" Bima dan Gama kompak menyeru.
"Jangan ada yang mendekat, duduk di kursinya masing-masing atau aku akan mengusir kalian berdua," ancamnya di tengah rasa sakit yang menyerang.
__ADS_1