
Malam pertama di rumahnya sendiri setelah sempat tinggal di rumah mertuanya dua hari. Tidak banyak yang berubah ketika Nessa kembali pulang ke rumah itu. Semua masih terlihat sama dan begitu terawat. Rumah dengan sejuta kenangan sebelum mereka menjadi halal.
"Selamat datang kembali sayang, di rumah kita," ucap Gama tersenyum sumringah sembari membuka pintu.
"Aku benar-benar kembali ke sini lagi Mas, semua seperti mimpi bagiku," jawab Nessa jujur. Karena semenjak kejadian itu yang menyebabkan kesalahan pahaman keduanya, sungguh Nessa berusaha melupakan semuanya dan mencoba memperbaiki diri. Ternyata Tuhan begitu baik padanya, ia kembali dengan orang yang sama dengan status yang berbeda.
Gama sibuk menurunkan barang belanjaan, Nessa ikut membantu memasukan ke ruang dapur. Keduanya nampak kompak mengemas satu sama lain.
"Kalau capek, istirahat saja, biar ini aku yang beresin," ucap Gama serius.
"Mana bisa begitu Mas, kamu juga pasti capek, biar kita kerjakan sama-sama saja ya," jawab Nessa santai. Kembali menata barang belanjaan pada tempatnya. Di rak-rak dapur yang telah tersedia.
"Itu sisanya besok saja, ayo hentikan!" cegah Gama merasa tak setuju. Pengantin baru itu perlu beristirahat mengingat besok juga sudah habis masa cutinya.
"Biarin aja, besok ada orang yang bersihin rumah, sekalian mengemas sisanya."
"Tapi Mas, nanggung," ujar Nessa merasa enggan.
"Sayang, boleh minta tolong, buatkan kopi saja untukku, nanti bawa ke kamar saja ya, aku mau mandi sebentar." Trik Gama agar istrinya mau mendengarkan.
"Iya Mas, siap! Apa perlu aku siapkan air hangat untukmu," tawar perempuan itu cukup perhatian.
"Nggak usah sayang, gampang besok, biar malam ini aku siapin sendiri. Kamu tolong buatin kopi aja ya?" ujarnya lembut.
__ADS_1
Nessa mengangguk, meninggalkan keriwehan yang masih ada. Lekas menuang kopi dan gula ke dalam gelas, sembari merebus air sedikit dalam panci.
satu cangkir kopi ia bawa dengan hati-hati. Menaruhnya di atas nakas. Suaminya masih mandi, dan mungkin sebentar lagi Nessa akan menyusul untuk mandi. Sambil menunggu suaminya selesain, Nessa menyiapkan gantinya.
Suara derit pintu yang terbuka mengalihkan tatapan perempuan itu. Nessa menoleh, tertunduk malu saat suaminya keluar dengan percaya diri sekali tanpa baju. Hanya dengan handuk pria itu melilitkan tubuh bagia bawahnya.
Nessa membuat muka malu, walaup sudah menjadi kekasih halalnya, rasa itu terlalu canggung bila menyimak tubuhnya.
"Ini pakaian ganti untukku?" tebab Gama menghampiri ranjang.
"Iya, itu kopinya Mas, aku mau ke kamar mandi," pamit Nessa cepat.
Gama tersenyum sendiri melihat tingkah Nessa yang malu-malu. Pria itu jelas gemas sendiri.
"Kenapa aku deg degan sih!" keluh Nessa merasa jedag jedug mengingat tubuh kekar suaminya membuat perempuan itu panas dingin.
"Aduh ... pakai acara lupa lagi, gimana keluarnya," batin Nessa resah.
Perempuan itu sedikit mengintip, setelah membuka pintunya perlahan. Jelas saja itu membuat Gama menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Apa sayang," seru Gama mengalihkan tatapannya dari layar macbook. Pria itu tengah meneliti laporan yang dikirim Bayu padanya.
"Hmm ... aku lupa bawa handuk Mas, bisa minta tolong!" pintanya lirih sekaligus malu.
__ADS_1
Gama menutup macbooknya lalu beranjak mengambil handuk bersih dari lemari, berjalan mendekati istrinya yang masih bersembunyi di balik pintu.
"Sayang, ini handuknya," ucap pria itu setengah menggoda. Enggan beranjak dari tempatnya.
"Mas, mana? Tanganku tidak sampai, kamu ngerjain aku ya?" tuduh perempuan itu sedikit kesal.
"Makanya buka, nggak pa-pa kok terlihat dikit, nanti juga bakalan aku buka," ujar pria itu tersenyum.
"Mas, aku dingin," keluh perempuan itu membuat Gama langsung menghentikan aksi usilnya.
"Cepat ganti bajumu, Sayang, aku akan menunggu dengan sabar," ujarnya tetap belum beranjak.
"Astaghfirullah ... Mas, ngapain?" Perempuan itu kaget tetiba Nessa keluar suaminya masih menunggu di depan pintu dengan santainya.
"Nungguin istri aku lah, kamu mandi dan ganti baju lama banget, sengaja atau gimana, hmm?" Gama mengikis jarak, mengendus dengan perangai nakal.
"Hmm ... rambut kamu basah, sini aku bantuin keringin," ujar Gama perhatian. Menuntun istrinya agar duduk di kursi meja rias. Pria itu mengambil hairdryer lalu membantu mengeringkan mahkota indah istrinya.
"Udah," ucap pria itu merapihkan dengan sisir. Pria itu mengemas kembali lalu mengembalikan pada tempat semula.
"Makasih," ujarnya mendadak gugup.
"Hmm ... cantik banget sih!"
__ADS_1
Gama merangkum kedua bahu istrinya lalu memijitnya perlahan. Menatap wajah ayunya dari pantulan kaca rias.
"Sayang, aku menginginkannya malam ini," bisik pria itu tepat di belakang telinganya. Sedikit menggigit kecil hingga membuat kulit perempuan itu meremang seketika.