Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 32


__ADS_3

"Seandainya mati juga tidak mungkin aku memilih saat bersama dirimu, terlalu menyedihkan!"


"Jangan membahas hal yang tidak berguna. Kapan kamu mau insyaf dan menikah? Orang tuamu pasti sudah resah memikirkan anak bujangnya yang susah diatur dan tak ada aturan."


"Aku tidak suka aturan, biarkan aku menikmati masa mudaku dulu penuh dengan kepuasan sebelum akhirnya aku memilih untuk berkomitmen dengan seorang perempuan yang tepat."


"Aku tidak yakin kamu bisa memilih sendiri, kalau sikapmu terus begini, bukan tidak mungkin orang tuamu akan mencarikan jodoh yang tepat untukmu."


"Semoga saja mama dan papa akan selalu bijak kalau soal pasangan, memberikan kebebasan. Karena jujur aku anti perjodohan."


"Jangan terlalu banyak membantah orang tua, kamu bisa saja jatuh dalam murkanya."


"Serem amad, ganti topik, aku selalu kalah berdebat denganmu. Apa malam ini kamu mau pergi mabuk lagi? Terus teriak-teriak seperti orang tidak waras?"


"Spertinya itu cukup mengasyikkan untuk diulang, tapi kalau kali ini aku takut kamu khilaf, bahkan mungkin kakak iparku khilaf bila menemukan aku nanti malam dalam racauan manisku."


"Kamu selalu punya penilaian yang baik untuk esok hari, tapi tak jarang gagal. Buktinya masih begitu menyedihkan dengan terus memikirkan suami orang."


"Oh suami orang, kenapa kamu begitu menghanyutkan. Sepertinya aku sudah mulai gila, oh ... magang cepatlah kamu berakhir agar aku tak melihatnya lagi di siang hari, dan di malam hari. Lama-lama aku juga bisa gila dengan status ini."


"Turun! Sudah sampai kenapa masih betah, seharusnya kita mampir dulu ke mana? Menghabiskan malam ini begitu saja."


"Ide buruk, lebih baik aku pulang dan tidur. Selamat malam, sudah mengantar. Hati-hati di jalan!" Nessa melambaikan tangannya.


Saat menuju kamar, tak sengaja rungunya mendengar kamar sebelah begitu berisik. Namun, kali ini bukan sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang, tetapi seperti pertengkaran kecil yang entah pasutri itu lakukan.

__ADS_1


Beberapa hari ini memang Nessa lebih memilih menghindar dan sedikit menepi agar tidak begitu sering bertemu dengan pria itu. Walaupun hatinya sulit, namun ia harus terus mencobanya. Tak ingin cari tahu, Nessa pun berlalu begitu saja dan langsung masuk ke kamarnya.


Bunyi-bunyi pertengkaran itu sudah tidak terdengar, Nessa juga tidak ambil pusing karena ia menutup telinganya dengan earphones sambil nugas di balkon kamar. Ia selalu suka dan penikmat angin malam. Padahal tadi sesorean baru saja menghabiskan waktu hingga petang dengan hawa dingin malam itu. Tetapi rasa kantuk yang tak kunjung datang, membuatnya memilih untuk menghabiskan waktunya dengan sedikit menyusun latihan materi untuk bahan pertimbangan skripsi yang mungkin sebentar lagi akan ia kejar.


Perempuan itu mulai sibuk menyusun tema, bahkan mencari judul-judul makalah yang bisa direkomendasikan nanti saat pengajuan. Tanpa Nessa sadari, di balkon sebelah sedari tadi ada seorang pria yang tengah menikmati keindahan wujudnya yang paripurna.


Kedua netra itu tak sengaja bertemu, sekilas Nessa ingin tak acuh. Kak Gama juga hanya diam. Namun, beberapa detik saat Nessa kembali mendongak dan melirik tempat itu, ia mendadak salah fokus dengan tubuh Kak Gama yang tengah bertelankang dada. Pria itu mempunyai bentuk tubuh yang begitu gagah. Tak bisa dicegah, ia pun mulai menikmati pemandangan itu tanpa malu.


"Astaga!" Nessa salah tingkah sendiri saat dirinya bahkan terciduk menatapnya begitu lekat.


"Mau ke mana, Ness?" tanya pria itu di sebelah saat gadis itu bangkit dari kursi santai di balkon kamarnya.


Nessa tidak menjawab, ia langsung masuk ke kamarnya dengan pipi yang memanas. Tiba-tiba saja bayangan sekelebatan dadanya yang bidang terus terngiang di otaknya.


Nessa pun memilih tidur malam itu walaupun jujur ia kesulitan untuk memejamkan matanya. Saat pagi menyapa, gadis itu menyambut dengan begitu riang. Syukur ia tidak mimpi yang aneh-aneh yang bahkan sangat mengganggu pikirannya.


Seperti biasa, Nessa mengunjungi meja makan di saat formasi sudah lengkap. Ada Mbak There, Ibu, dan juga kakak iparnya yang selalu berhasil membuat jantungnya rancak tak berkesudahan.


"Semuanya, maaf ya saya duluan. Ma, pamit Ma, sudah dijemput Bima di depan," pamit Nessa begitu saja.


Gama dan Mbak There tidak menanggapi, kedua orang itu pagi ini terlihat begitu aneh. Bahkan tidak terlibat percakapan di meja makan.


"Terima kasih bestie sudah jemput, kamu memang terbaik," ucap Nessa sembari nyengir.


"Kamu berhutang budi banyak padaku, nanti akan aku catat rinciannya," seloroh pria itu memakaikan helmnya.

__ADS_1


"Motor baru lagi?"


"Test drive! Mari kita coba, seberapa gesit si kuda besi ini membawa kita."


"Go, jangan ngebut gue belum kawin. Eh, nikah maksudnya."


Bima mengantar sampai kantor. Tidak di rumah, tidak di kantor entah mengapa itu membuat penglihatan Gama semakin kesal. Terlebih beberapa hari Nessa tidak menyapa dirinya, seakan benar-benar menghilang dari hidupnya.


Di kantor Gama begitu uring-uringan, hampir semua karyawan mendapat imbasnya dari semua ini. Salah sedikit pria itu menjadi begitu pemarah.


"Bay, tolong libatkan Nessa dalam meeting kali ini," titah Gama sedikit sewot.


"Siap Pak!" jawab Bayu bergegas. Mengabarkan langsung pada perempuan itu.


"Jam berapa Pak?"


"Sore nanti ada ketemu sama klien. Saya mohon jangan banyak bertanya, iyain saja. Ini klien penting dari luar negeri dan sangat berkompeten. Baru bisa sekarang bertemu. Mungkin nanti kita akan sedikit menjamunya. Kondisi Pak Gama sedang tidak baik-baik saja, jadi bekerjalah dan menurut saja."


"Siap Pak!" jawab Nessa mengangguk hormat.


Saatnya Nessa menunjukkan kemampuannya sebelum magang ini berakhir. Toh memang dia harus berkontribusi untuk perusahaan selama menjadi karyawan di sini.


Sore itu, Bayu yang membawa mobilnya. Yang menjadi pertanyaan Nessa mengapa hanya ada Pak Gama dan juga Bayu. Sekretaris satunya tidak ikut, tapi Nessa pun kembali berpikir tenang sebab memang ia sudah membawa berkas di tangannya yang akan dijadikan bahan meeting nanti.


Nessa dan Gama duduk di jok belakang agak berjarak. Pria itu juga terlihat dingin, sepertinya memang sedang banyak pikiran. Rasa ingin kepo, tapi mengingat ada Bayu juga di sana, Nessa urungkan.

__ADS_1


__ADS_2