Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 84


__ADS_3

"Mas, hari ini aku ada acara di rumah mama. Mungkin aku akan menginap."


"Harus banget ya? Apa nggak baiknya kalau pulang malam. Besok pagi-pagi datang lagi. Aku nggak nyaman tidur di sana. Bukan masalah tempatnya atau apa, tapi pengen tidur di rumah aja, besok datang lagi."


Nessa menghela napas dalam. Suaminya emang selalu menolak untuk menginap di rumah mama, entahlah, dan Nessa harus menghargai itu. Lebih baik ia mengalah dari pada membuat suaminya merasa tidak nyaman.


"Oke deh, aku pulang malam aja, nanti jemput ya? Habis pulang kerja juga nggak pa-pa."


Gama mengangguk menyanggupi. Pria itu paginya mengantar istrinya ke rumah mamanya. Setelahnya pamit langsung berangkat kerja. Sangat terlihat jelas, kalau Gama benar-benar membatasi diri mungkin lebih menjaga perasaannya walaupun diantara mereka sudah tidak saling berseteru.


"Hati-hati di jalan Mas, kamu nggak mau masuk dulu?" ujar Nessa menginterupsi.


"Aku kan nanti ke sini jemput kamu jadi nanti aja ketemu sama mamanya. Aku berangkat ya, sudah siang ini," ujar pria itu berpamitan.


"Masuk dulu bentar, tuh mama ada di depan. Ayo sayang!" bujuk Nessa lembut.


Gama turun terlebih dahulu ke rumah mertuanya. Menemui ibu yang kebetulan ada di depan rumah. Suara salam keduanya langsung disambut sumringah oleh Bu Rianti.


"Assalamu'alaikum ... Ma," sapa Gama diikuti Nessa.


"Waalaikumsalam ... masuk Nak," sambut Ibu dengan senyuman.


"Nanti aku jemput ya, Mas berangkat dulu," pamit pria itu setelah saling menyapa.


"Lhoh, nggak duduk dulu, Gam? Biar Nessa buatin minum."


"Nanti saja Ma, Gama ada meeting pagi ini. Pamit dulu, Ma. Sayang ... aku berangkat ya."


Nessa menyalim tangan suaminya dengan takzim. Gama balas mencium keningnya seperti biasa. Perempuan itu langsung masuk begitu mobil suaminya menghilang dari pandangan. Suasana rumah nampak ramai, beberapa orang tengah menghias ruangan sebagai jamuan pesta pernikahan There dan Rasyid. Keduanya akan menikah besok, tentu saja kabar itu membuat Nessa bahagia. Akhirnya kakaknya menemukan orang yang tepat, dan begitu baik peringainya.

__ADS_1


Hari ini adalah hari pertunangan There dan Rasyid yang akan berlangsung sore nanti. Keluarga besar menyiapkan di rumah.


"Mbak There di mana, Ma? Aku langsung ke atas ya?"


"Di kamar sayang, lagi dirias. Iya temui saja," ujar Ibu mempersilahkan.


Nessa fokus mengikuti acara di rumah mamanya, sementara Gama sibuk bekerja. Pria itu memang tengah sibuk-sibuknya project baru, jadi tidak bisa libur kalau tidak begitu mendesak.


"Mbak, cantik banget," puji Nessa meneliti tampilan kakaknya.


"Makasih, kamu juga cantik. Do'akan aku ya, semoga ini yang terbaik dan yang terakhir. Aku ingin berumah tangga dengan sebenar-benarnya."


"Pasti Mbak, doaku menyertaimu. Bahagia selalu dengan kehidupan Mbak nantinya."


Acara berlangsung hingga sore, berlangsung lancar dan tanggal pernikahannya pun sudah ditentukan. Nessa masih menunggu suaminya menjemputnya. Hingga petang menyapa, Gama belum muncul.


"Ma, aku mau rebahan di kamar dulu ya, kepalaku agak pusing, nanti kalau Mas Gama jemput, tolong bilang aku tunggu di kamar."


"Sedikit pusing, Ma, mungkin masuk angin," pamit Nessa menuju kamarnya dulu. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan, desain itu masih sama. Rupanya Ibu merawatnya dengan baik. Ah, mendadak Nessa rindu masa-masa manja dengan beliau. Cerita ini sungguh tidak lagi sama, semua sudah berlalu dan Nessa tidak ingin mengingat kepahitan itu.


Rasanya perempuan itu baru saja terlelap ketika tiba-tiba seseorang menyentuhnya dengan begitu lembut.


"Ayo pulang, Sayang. Maaf, aku terlambat menjemputmu."


"Mas, jam berapa ini? Kamu baru sampai?"


"Iya, setengah sembilan. Mau digendong atau jalan sendiri?"


"Kamu ada-ada aja, jalan lah Mas. Emang anak kecil pakai gendong segala."

__ADS_1


"Kali aja mau digendong," ujar pria itu tersenyum.


Nessa bergegas setelah merapikan hijabnya. Merapatkan tubuhnya yang terasa dingin.


"Kamu kenapa? Kata mama tadi ngeluh pusing? Sakit?"


"Sedikit pusing, aku kira bawa rehat sebentar sembuh, ini kenapa malah dingin gini ya?"


"Pakai ini dulu, duh ... jangan sakit dong." Gama mulai khawatir melihat wajahnya yang terlihat tak baik-baik saja.


Keduanya turun ke lantai satu terus pamit pada orang rumah. Nessa langsung menyender ke jok dengan mata terpejam. Rasanya ia kliyengan, mendadak tak enak badan.


Gama langsung melajukan mobilnya ke rumah. Membiarkan Nessa tertidur selama diperjalanan. Pria itu menggendong istrinya hingga menuju kamar. Nessa terjaga begitu saja saat dalam gendongan. Merebahkan ke ranjang perlahan.


"Apa perlu panggil dokter? Kamu sakit kenapa nggak kasih kabar, kalau tahu kan bisa usahain pulang cepat."


"Mas, aku kenapa ya? Nggak nyaman banget." Nessa turun dari ranjang langsung berlari ke kamar mandi. Perempuan itu merasa perutnya bergejolak, sore tadi masih makan beragam, tapi memang rasanya agak berbeda.


"Sayang, kamu nggak pa-pa?" Gama menyusulnya ke kamar mandi. Membantu istrinya kembali ke ranjang.


"Aku panggil dokter saja, kamu pucet banget," ujar Gama tak tenang. Pria itu memanggil dokter keluarga.


"Apa kamu telat, biasanya tanggal-tanggal segini kamu lagi PMS."


"Kamu hafal banget Mas, sampai ngitungin gitu."


"Iya lah, aku kan rutin berkunjung. Jadi saatnya tamu bulananmu hadir, aku jadi hafal."


"Iya, aku belum dapat, seharusnya udah bersihkan malah kalau tanggal pertengahan gini. Apa jangan-jangan!"

__ADS_1


"Ah, semoga saja, aku adalah orang yang paling bahagia bila benar adanya." Gama dan Nessa merasa tidak sabar menanti pemeriksaan.


__ADS_2