
Gama langsung bertolak ke rumah sakit, ia ingin mengabarkan pada Nessa perihal yang telah ia lakukan tadi. Pria itu sengaja membeli beberapa makanan untuk teman berjaga. Sekaligus untuk There. Perempuan itu sama halnya sedikit kacau.
"Mas Gama, aku tahu kamu masih peduli sama aku. Kamu nggak mungkin milih Nessa kan? Aku akan berjuang untuk sembuh, Mas. Aku mengampuni perbuatan kamu yang telah lalu, maafkan aku. Mari kita mulai dari nol, aku akan berubah untukmu," ujar There sendu.
"Aku minta maaf, Re, tolong jangan salah paham. Kalau aku berbuat baik terhadap dirimu, itu karena aku masih bertanggung jawab sampai perceraian final nanti. Aku akui aku salah, dengan atau tanpa Nessa hubungan kita sudah tidak sehat sedari dulu. Kita tidak mungkin bersama lagi, tallaku telah jatuh padamu. Secara agama kita sudah resmi bercerai. Maafkan aku, maaf kisah kita harus berakhir begini."
"Jangan khawatirkan tentang ibu, aku akan tetap menanggung biaya rumah sakit untuk beliau. Untuk kamu, semangat untuk sembuh Re, semoga kelak kamu mendapatkan jodoh, orang yang lebih baik segala-galanya dari aku."
"Tega kamu ya Mas, di saat kondisi ibu seperti ini, kamu bahkan mau ninggalin aku? Di mana perasaanmu selama ini. Semua gara-gara Nessa, semua tentang Nessa, kamu pasti senang kan dengan perpisahan ini, kamu pasti bahagia dan mau menikahi Nessa."
"Asal kamu tahu, Re, kami memang saling mencintai, tapi cinta Nessa tidak pernah egois. Dia selalu menolakku kalau aku ajak menikah. Dia sangat menyayangi kalian, sampai kejadian ini terungkap oleh dirimu pun, Nessa begitu merasa bersalah."
"Ya memang salah dia kan, jelas merebut kamu dari aku?"
__ADS_1
"Dia tidak pernah merebut aku dari kamu. Jauh sebelum Nessa masuk, hubungan kita memang sudah rumit, tapi sayangnya kamu tidak paham itu. Apa waktu tiga tahun tidak cukup untuk membuatku mengambil keputusan itu? Mungkin Nessa memang salah, tapi aku lah yang paling bersalah, karena aku yang terus memaksanya, mengejarnya untuk sebuah hubungan yang salah ini."
Setelah berbicara banyak, Gama masuk ke ruang rawat mertuanya. Bu Rianti masih belum sadar juga, Gama prihatin tentang ini. Nessa pasti akan sangat terluka dan terus menyalahkan diri sendiri melihat kondisi ibunya. Pria itu mendekati ranjang.
"Gama datang kembali, Ma, cepat sadar dan sembuh. Kami menyayangi mama. Maafkan Gama telah membuat kekacauan ini, tapi percayalah hubungan aku dan There sudah lama tidak harmonis tanpa adanya Nessa. Aku mohon mama bangun, terima lah pengampunan dari kami," bisik Gama sendu.
Gama yakin ibu mendengar, walaupun raga beliau terdiam. Tapi telinga dan hatinya mendengar dan merasa. Terbukti air mata ibu merespon. Pria itu mengecup tangannya dengan takzim lalu keluar dari ruang ICU.
There terdiam, percuma rasanya berdebat dengan orang yang bahkan otaknya sudah dipenuhi cinta yang lain. Sudah pasti pria itu akan membela perempuan itu. Diam-diam ia menangis pilu seorang diri. Makanan yang dibelikan Gama hanya diaduk-aduk tanpa minat untuk disuap. Rasanya hambar, Gama benar-benar telah pergi. Rasa kehilangan, sakit hati, kecewa bergemuruh menjadi satu.
"Sus, perempuan yang di rawat di kamar 105 mana ya? Tadi pagi masih ada, apa dipindah?" tanya Gama mulai cemas. Tidak menemukan Nessa di ruangannya jelas membuat pria itu begitu khawatir.
"Maaf Mas, perempuan itu sudah keluar dari rumah sakit sekitar satu jam yang lalu. Perempuan itu keluar dengan surat paksa karena merasa dirinya sudah sehat."
__ADS_1
"Apa?" Gama tercengang mendengar itu. There yang berada tak jauh dari pintu yang setengah terbuka itu sama halnya terkejut mendapati Nessa begitu nekat. Padahal jelas kondisi perempuan itu masih terlihat memprihatinkan.
Gama langsung bergegas keluar dari sana, hampir saja menabrak There bila tak menghindar. Kedua Netra itu bertemu saling diam, sekilas tanpa kata karena pria itu langsung melesat. Rasanya sakit hati kembali tanpa menyapa melihat segitu khawatirnya Gama mendengar Nessa tidak ada di ruangannya.
Pria itu langsung bertolak ke rumah, Nessa pasti pulang ke rumah ibunya. Ia memarkirkan mobilnya asal lalu berlari ke dalam.
"Nessa! Kamu pulang!" seru Gama setengah berlari di undakan tangga. Langsung membuka kamarnya yang ternyata sepi. Bahkan terlihat rapi tak berpenghuni. Membuka lemari pakaiannya, hanya tersisa separonya dan banyak yang kosong.
"Nggak! Nggak mungkin Nessa pergi. Dia masih sakit, dan sedang hamil muda. Ya Tuhan ... bagaimana kalau Nessa benar-benar ninggalin aku."
"Nessa ... kamu di mana? Tolong kembali Ness, jangan menanggung semua ini sendiri. Aku akan bertanggung jawab," lirih Gama tersedu.
Beberapa kali melakukan panggilan telepon tapi sayangnya bahkan handphone perempuan itu off. Tidak bisa membayangkan betapa kehidupannya nanti tanpa dirinya. Seketika Gama lemas.
__ADS_1
Pikirannya terus mencari, bergegas pria itu pergi. Masih ada harapan di suatu tempat. Mungkinkah pujaan hatinya di sana.