
Kedua mata itu saling bersirobok, tak ada yang minat untuk saling mengakhiri. Malah tertantang untuk menatapnya semakin lama. Walau degup jantung hampir menggila saat pria itu semakin mengikis jarak. Sapuan hangat napasnya menyerbu pipi, seakan begitu menikmati moment lucknut ini.
Sadar apa yang akan terjadi, Nessa buru-buru mengembalikan angannya. Sedikit memberi jarak dengan gelengan kecil saat jarak mereka begitu dekat.
"Jangan Kak! Seperti ini saja sudah membuat aku bahagia, kita tidak boleh melampaui batas. Mana yang boleh dan mana yang tidak," ujar perempuan itu membuang muka. Yang jelas gadis itu takut jatuh terlalu dalam, dan susah menemui jalan pulang.
"Baiklah, tapi kalau memeluk sama cium kening boleh, 'kan?" ujar pria itu tanpa mengalihkan tatapan itu.
Entah bujukan dari mana, Nessa mengangguk setuju. Tak berselang lama, bibir Kak Gama dan jidat Nessa bertemu. Cukup lama moment itu, hingga akhirnya memeluk begitu dalam dan erat.
"Jangan dilepaskan Ness, aku merindukan sesuatu yang selama ini terasa hampa," ucap Kak Gama lirih memeluk semakin erat.
Nessa hanya diam, tidak bisa dipungkiri hatinya begitu bahagia berada dalam dekapan hangatnya yang selama ini gadis itu impikan.
"Kak, kamu menghimpitku," protes Nessa saat dadanya terasa semakin penuh menempel sempurna pada dada bidang pria itu.
"Maaf, Nessa! Aku akan mengontrolnya! Ngomong-ngomong sudah dandan secantik ini bagaimana kalau kita pergi malam ini."
"Tapi Kak, tadi aku udah janjian sama Bima, masa aku cancel aja nggak enak dong," protes Nessa merasa galau.
"Jalan sama Bima-nya besok-besok aja, malam ini kita jalan berdua dulu mumpung ada waktu dan kesempatan," bujuk Gama penuh solusi.
"Berdua?" tanya Nessa memastikan.
"Iya lah, masa bertiga, ganggu dong."
"Nggak, maksud aku tadi tuh aku udah pamit sama mama, tapi kalau pergi berdua terus gimana pamitnya? Yang ada mama nanti curiga, aku nggak mau orang lain sampai tahu kedekatan kita."
__ADS_1
"Kamu kan tadi udah pamit, kamu bisa keluar dulu, aku mandi dan siap-siap, nanti kita ketemuan. Pamitnya gampang aku mah."
Keduanya sepakat bertemu di suatu tempat, hal gila pertama yang disepakati berdua. Bahkan Nessa benar-benar membatalkan pertemuannya dengan Bima, rencananya malam ini Nessa akan mengunjungi sahabatnya dan meminta pendapat, tapi kalau soal kak Gama sudah bisa dipastikan jawabannya sama. Melarang dan melupakan!
"Ness, hallo!" Pria itu mengibaskan tangannya di depan wajah perempuan itu. Saat ini mereka sudah di dalam mobil dan benar-benar merealisasikan jalan berdua.
"Eh, kita mau ke mana?" tanya gadis itu memastikan.
"Ke mana pun kamu pergi, aku akan menjadi bayanganmu," jawab Kak Gama puitis.
Ah, selalu saja ada momen dan celetukannya yang membuat gadis itu susah move on.
"Kita awali saja dengan hal-hal kecil yang menarik, bagaimana kalau kita nonton, terus makan malam romantis?"
"Realy? Aku takut ada yang mengenali kita dan melapor sama Mbak There, kakak tahu sendiri, kan?"
Nessa mengangguk patuh, malam itu menjadi saksi betapa keduanya terlihat saling memberi dan mengisi kehampaan yang terjadi. Rasanya tidak peduli mau ditinggal selama apa oleh istrinya, pria itu mulai terbiasa dengan kehadiran orang lain yang mampu memberikan cinta. Gama merasa ini tidak boleh berakhir.
"Kita makan dulu ya, terus nonton," ujar pria itu memberi jadwal.
"Oke, mau di mana?" tanya Nessa memastikan.
Kak Gama ini ternyata tipe yang begitu romantis, diam-diam memesan ruang VIP di sebuah restoran kenamaan. Nessa jadi berpikir, apakah kakak iparnya itu sering makan di tempat ini dengan istrinya.
"Mmm ... kakak sering ke sini ya?" tanya Nessa kepo.
"Beruntung banget Mbak There dicintai kakak," ujar perempuan itu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Pernah, tapi tidak sering, tolong jangan bahas orang lain. Biarlah malam ini hanya ada kita berdua," ucap Kak Gama tersenyum sambil meraih tangannya.
Gama sengaja memesan ruang privat agar Nessa nyaman. Tidak ada waswas orang lain bakalan melihat keduanya makan bersama. Tentunya pria itu harus pandai menghargai keputusan itu, agar sama-sama nyaman menjalani tanpa takut kepergok orang. Hubungan terlarang memang rumit, tapi Gama sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu, tapi Nessa menurut. Sejujurnya Nessa juga tidak nyaman akan hal itu, hanya saja agar selalu mengingat bahwa apa yang nyata malam itu bukan miliknya. Hanya meminjam, semoga bisa mengembalikan tanpa ada goresan luka. Walau itu tidak mungkin, karena sekarang dirinya bahkan mulai menikmati dan tersesat semakin dalam.
Keromantisan itu terjeda saat hidangan pesanan mereka datang ke meja. Seperti layaknya pasangan romantis yang bahagia, Kak Gama memotong steak di piringnya menjadi bagian kecil lalu menukar piring itu di depan Nessa.
"Ini lebih mudah," ujar Kak Gama perhatian.
"Makasih," jawabnya tersenyum.
Saat-saat seperti ini lah yang membuat Nessa susah untuk menghilangkan dari bayang otaknya. Semua terekam begitu nyata, dan cinta itu bergetar tumbuh semakin pesat.
"Selamat makan, manjakan lidah dan perutmu dengan hidangan ini, setelahnya manjakan matamu dengan menonton film kesukaanmu."
Mereka makan dengan khusuk, menikmati makan malam romantis berbalut syahdu. Biarlah riak-riak aral yang membelenggu Nessa minggirin dulu. Malam ini ia ingin menjadi egois, menikmati tanpa kompromi. Hanya ada mereka berdua seperti kak Gama gumamkan, biarlah malam ini hanya ada mereka berdua.
Setelah mengisi perut dengan makanan berat, saatnya menyantap dengan hidangan penutup. Choco lava cake menjadi menu yang dipilih mereka. Ya, keduanya mempunyai kesukaan yang hampir sama.
Bak ABG yang tengah jatuh cinta, makan berdua dengan lemparan senyum saling bertaut. Lelehan coklat yang mampir di sudut bibirnya pun, tak luput dari incaran keromantisan pria itu.
"Coklat," ucapnya seraya mengelap dengan lembut penuh perhatian.
Nessa hanya tersenyum menikmati sentuhan perhatiannya. Ia menjadi grogi sendiri saat pria itu terus menatapnya seakan tengah menyelami isi hatinya.
Ah ... aku benar-benar jatuh cinta
__ADS_1