Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 26


__ADS_3

Nessa galau sendiri, antara cemas, khawatir dan juga takut terjadi sesuatu dengan kakak iparnya. Bagaimanapun ia ikut andil dalam kekacauan ini. Ia melirik jam yang sudah menunjuk di angka sepuluh. Menyambar tas dan ponselnya lalu keluar. Nekat menggunakan motor yang terparkir di garasi.


Gadis itu tak peduli dengan penampilannya saat ini yang hanya memakai piyama berbalut hoodie. Sampai mengabaikan keselamatan diri, tanpa helm ia mengemudikan motor itu sendiri.


Nessa benar-benar mendatangi rumah Kak Gama, dulu ia pernah main ke sana sekali. Itu pun sudah lama hampir lupa. Masih tetap asri dan bersih, namun ia mulai mencari-cari keberadaan pria itu.


Terdengar berisik di lantai atas, Nessa pun buru-buru lari ke sana. Betapa terkejutnya perempuan itu melihat Gama begitu kacau. Duduk termenung di sudut lantai, dengan wine di tangannya.


"Kak Gama?" panggil Nessa lirih. Pria itu mendongak, menatap Nessa yang baru datang.


"Ness, kamu datang?" Pria itu bangkit mendekat lalu berhambur memeluknya begitu erat.


"Kak, Kakak mabuk?" tanya Nessa sembari mengurai pelukan itu. Merebut minuman itu dan menjauhkannya.


"Hanya sedikit, aku pikir kamu nggak datang. Aku seneng banget kamu ada di sini. Ness, ayo kita menikah!" ucap Gama serius.


"Kak, please ... dengerin Nessa. Kakak nggak boleh begini, tolong jangan bertindak yang nantinya akan kakak sesali."


"Kenapa? Kamu tidak mau? Bukannya kamu mencintaiku?"


"Iya, aku mencintai kakak, tapi aku juga mencintai keluargaku, kalau Kakak peduli, tolong jangan membuat keadaan ini makin rumit. Tolong pulang, temui Mbak There, bicara baik-baik. Dia pasti mau mendengar."


"Kamu sungguh tidak ingin kita menikah? Kenapa malah menyuruhku untuk pulang. Hubungan aku dan There terlalu rumit, Nessa!"


Pria itu menyahut, walaupun minum, Gama nampaknya tidak begitu mabuk. Ternyata dia kuat juga. Apakah pria itu sering begitu bila ada masalah?


"Kakak pernah nggak sih mikirin dari dampak semua ini. Mama terus kepikiran sampai selarut tadi masih terjaga. Mbak There terlihat begitu frustrasi, semua itu gara-gara aku, Kak. Gara-gara hubungan ini."

__ADS_1


"Shhttt ... bukan, Ness. Sebelum kamu datang, bahkan hubungan ini sudah begini. Aku tahu hubungan kita salah, tapi aku bahagia dan merasa nyaman selama bersamamu. Aku merasa dihargai, dihormati dan dicintai. Hal yang bahkan tidak aku temui pada diri There. Aku lelah berjuang sendiri."


"Apa maksud Kakak? Mbak There kurang apa? Bukankah selama ini kalian saling mencintai?"


"Mungkin aku iya, hanya seorang diri, dan itu terjadi selama satu tahun pernikahan kita. Karena selebihnya aku begitu kecewa," ucap Gama sendu. Netranya menerawang seakan banyak luka.


"Kak, aku nggak tahu pasti hubungan kakak dengan Mbak There seperti apa, yang jelas aku sedih saat kalian bertengkar."


Selama tiga tahun menikah setahu Nessa mereka hidup bahagia di rumahnya. Keduanya tidak pernah terdengar huru hara. Sampai suatu hari ketika ayah berpulang, karena merasa kasihan melihat ibu yang drop membuat Mbak There memutuskan untuk kembali tinggal di rumah tentu saja Gama ikut sebagai suaminya.


Nessa yang memang sudah memendam perasaan khusus terhadap suami kakaknya merasa terusik dengan kehadiran pria itu di rumahnya secara terus menerus. Untuk menghindari perasaan itu semakin jauh, Nessa terpaksa mengalah keluar dari rumah dengan alibi lain dan memilih kost.


Tiga bulan mulai tertata, walau tak jarang hati itu nelangsa karena memendam rasa sendirian. Bertekad lebih semangat melupakan, tapi lagi-lagi seakan alam terus mempertemukannya hingga keduanya benar-benar terlena dan tergelincir ke dalam hubungan terlarang itu.


"Kamu ingin aku bagaimana, Ness?" tanya pria itu menatap bingung.


"Bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Gama ragu.


Nessa tersenyum, "Berjanjilah untuk selalu bahagia, karena aku cukup bahagia melihat kakak bahagia," ucap Nessa mengangguk.


"Sungguh?" tanya pria itu menyakinkan.


"Ya," jawab Nessa mengangguk yakin.


"Aku akan mencobanya, walapun aku tidak yakin aku bisa. Demi kamu, dan perasaan ini," ucapnya sendu.


"Jalannya memang begini, kakak harus memperbaiki."

__ADS_1


"Kamu ke sini pakai apa?" tanya Gama baru sadar. Mengalihkan topik begitu saja.


"Motor," jawabnya santai.


"Motor? Malam-malam begini tanpa helm? Kamu sudah gila?"


"Aku lebih gila bila melihat kakak nekat melakukan tindakan di luar kendali. Sebaiknya tenangkan diri lalu pulang!"


"Besok aku akan pulang, boleh kah aku malam ini menghabiskan waktuku bersamamu, sebelum aku pulang dan kembali?" pintanya sungguh-sungguh.


Nessa mengangguk, biar bagaimana pun perasaannya tidak mudah untuk dihapus begitu saja. Walau ia sudah berniat mendamaikan mereka kembali.


"Terima kasih, Ness, semoga Tuhan memberikan jalan yang indah untuk kita berdua," ujar Gama membelainya dengan sayang.


"Aku berharap begitu," jawab gadis itu tersedu.


Ada perasaan yang begitu nyaman saat berdua. Cinta memang serumit ini, sakit bila saling mencintai namun tidak bisa bersama. Tapi, hanya itu yang bisa Nessa berikan untuk keluarga tercinta.


"Kamu tahu kan, kalau perasaan ini sudah terbagi. Aku akan mengikuti saranmu, tapi jangan salahkan aku bila ternyata hasilnya lain."


"Setidaknya Kakak mau mencoba memperbaiki, terlepas semua itu aku tidak tahu. Aku tidak ingin memaksa lagi."


"Aku mencintaimu, Nessa. Demi kamu, aku akan memperbaiki semuanya," ucapnya mendadak sedih.


"Aku juga mencintaimu, Mas," jawab Nessa mengangguk.


"Bolehkah aku memelukmu sebelum pagi dan kita akan menjadi seperti dulu," ucap Gama ragu. Nessa mengangguk menikmati pelukan hangatnya malam itu.

__ADS_1


__ADS_2