
"Selamat ya Bu Nessa dan Pak Gama, istri Anda sedang mengandung. Usia kehamilannya baru berjalan enam minggu jadi tolong di jaga ya?" ucap Dokter Ana selaku dokter keluarga Gama.
"Beneran Dok? Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah ... akhirnya aku diberikan kesempatan untuk mencari orang tua lagi," ucap syukur Gama dengan hati mengharu biru. Jelas sekali wajahnya menampilkan kebahagiaan yang nyata.
"Iya, tolong perhatian dan bantu menjaganya. Usia segitu masih sangat rentan dan harus berhati-hati."
"Iya Dok, siap!"
Dokter Ana pun segera pamit setelah melakukan pemeriksaan. Gama mengantarkannya hingga depan teras seraya menggumamkan terima kasih. Setelahnya kembali ke kamar dengan langkah lebar.
"Dokter Ana sudah pulang?"
"Sudah, kamu mau ke mana, Sayang?" Gama mendekati istrinya yang turun dari ranjang.
"Kamar mandi Mas," ujar perempuan itu merasa diperhatikan.
"Perlu bantuin?" tawar pria itu begitu manis.
"Bisa Mas, kamu istirahat saja."
Gama menunggui istrinya di depan pintu toilet. Pria itu menjadi sedikit posesif mengetahui istrinya hamil.
"Eh, Mas, kenapa nungguin di sini?"
"Siapa tahu butuh bantuan," ujar pria itu santai mengekor istrinya sampai ke ranjang.
"Kamu kenapa lihatin aku gitu banget Mas, jadi aneh."
__ADS_1
"Kamu nggak tahu aja Sayang, hari ini tuh terutama malam ini aku bahagia banget tahu kamu hamil. Kamu adalah anugerah terindah yang Allah titipkan untukku. Nggak ngerti harus ngomong apa, tetapi cuma mau bilang. Terima kasih sudah menerima aku lagi. Semoga cinta kita senantiasa Tuhan jaga hingga akhir hayat."
Nessa tersenyum haru mendapati suaminya yang hari ini terlihat begitu bahagia. Mereka melewati hari-hari dengan indah. Cinta yang dibalut dengan restu orang tua dan pastinya jodoh terbaik yang hadir saat ini membuat batinnya lebih bahagia.
Setiap hari pria itu akan selalu bersikap manis, menjaga dengan penuh cinta. Bahkan tidak membiarkan istrinya melakukan hal-hal yang sekiranya bisa membuat perempuan itu merasa kepayahan.
"Mas, kamu jangan berlebihan begini, aku nggak sakit, aku hanya hamil, dan perlu gerak biar makin sehat," protes Nessa terlihat kesal. Saat suaminya begitu protective.
"Tahu ... emang salah ya kalau aku manjain kamu. Aku emang pengen aja ngelakuin ini."
"Nggak salah Mas, tapi aku tuh pengen juga melayani kamu. Ini pekerjaan yang tidak akan membuat aku capek. Udah, tenang ya jangan berlebihan. Sekarang aku mau buat sarapan, Mas mau makan apa?"
"Pengen makan kamu, gemes Sayang," ujar Gama memeluknya dari belakang.
"Ya Allah ... kalau itu mah beda Mas, nanti malam boleh deh, semalam kayaknya udah. Aku masih sedikit ngilu," jawab Nessa jujur.
"Emang bisa, bantu ngrecokin kayaknya deh."
"Hmm, kalau boleh request aku lagi pengen sarapan nasi goreng saja deh, kangen nasgor kamu," ujar Gama pada akhirnya.
"Oke, kamu tunggu aja di meja makan, dalam lima belas menit semuanya sudah beres."
"Tapi aku pengen ngrecokin, gimana dong?"
"Ish ... terserah Mas aja deh. Tolong ambilin nasinya Mas!"
Pria itu ikut membantu, namun saat Nessa tengah mengupas bawang merah tiba-tiba ia merasa mual. Nessa pun menghentikan kegiatannya dan langsung menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya yang bergejolak.
__ADS_1
"Sayang, udah tinggalin aja nggak usah buat. Aku sarapan roti aja, kamu nggak pa-pa?"
"Iya Maaf Mas, anak kita ternyata nggak bisa dengan bau bawang. Atau kalau nggak beli aja buat sarapan," sesal Nessa merasa kacau.
"Aku bisa buat sendiri, nggak usah khawatir, kamu istirahat aja. Kamu pecet banget, aku buatin susu dulu."
Gama mengantar istrinya ke kamar, jadilah pagi itu Nessa tidak melakukan apa-apa. Gama membuat sarapannya sendiri, bahkan membuatkan untuk Nessa.
"Sayang, coba cicipi masakan pertamaku, aku rasa tidak terlalu buruk," ujar Gama membawa seporsi nasi goreng dan segelas susu dalam nampan.
"Makasih Mas, kamu jadi repot sendiri. Aku makan ya."
"Sini aku suapin," ujar pria itu perhatian. Kebetulan hari ini adalah hari libur jadi waktu keduanya lebih panjang. Biasanya Gama akan bermanja-manja sepanjang hari, tapi hari ini sepertinya Nessa yang akan dimanja oleh suaminya.
"Makasih Mas, kamu selalu sabar untuk aku."
"Sudah seharusnya di antara suami istri itu saling. Saling menerima kekurangan, saling mengisi, dan saling melengkapi. Semoga cinta kita senantiasa Allah jaga sampai maut memisahkan kita. Menua bersama, dan dipersatukan kembali hingga ke jannah-Nya."
"Aamiin!"
.
End
Akhirnya sampai juga di penghujung cerita. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca hingga akhir. Ikuti cerita author yang terbaru ya "Pengantin Pengganti CEO Arogan"
__ADS_1