Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 39


__ADS_3

"Bim, aku pulang dulu ya? Nanti aku telepon balik. Setidaknya aku harus mengabari rumah kalau punya agenda menginap," pamit Nessa.


"Oke, hati-hati di jalan, jangan terlalu dipikirkan. Kabari saja bila butuh sesuatu," ujar Bima kalem.


Nessa keluar dari apartemen Bima, sementara Gama sudah menunggunya di depan pintu. Pria itu langsung menggandeng tangan Nessa begitu mereka berjalan menjauh dari kediaman Bima.


Tak ada percakapan sampai mobil. Pria itu membukakan pintu lalu memastikan adik iparnya duduk dengan nyaman. Gama langsung masuk dan duduk di belakang kemudi. Menatap sekilas sebelum akhirnya menyalakan mesin mobilnya. Melaju dengan perlahan.


"Kenapa tidak masuk kantor?" tanya Gama membuka suara setelah beberapa menit mobil membaur di jalan raya.


"Bukankah kata kakak boleh mengambil izin sehari, aku benar-benar lelah butuh sendiri," jawab Nessa sendu.


Tangan kiri Gama terulur meraih tangan Nessa, menggenggamnya begitu erat.


"Aku hanya khawatir terhadapmu, aku mencari kamu seharian ini. Kamu marah? Aku minta maaf, membuatmu dalam posisi yang sulit," sesal Gama sembari menepikan mobilnya. Ia butuh berbicara banyak dengan kekasih hatinya.


"Kenapa berhenti sembarangan, nanti bisa kena tilang. Jalan saja!" titahnya kurang nyaman.


"Oke, kamu maunya ke mana? Aku akan menemanimu ke mana pun kamu pergi."

__ADS_1


Nessa memang sedang tak ingin pulang, terlepas sudah bertemu dengan Gama atau belum. Di rumah itu, selain membuat dirinya dihantui rasa bersalah, sekaligus menyadarkan bahwa laki-laki yang tengah bersamanya itu suami dari kakaknya.


"Sayang, mari kita menikah, kita bicara pelan-pelan dengan mama, untuk urusan There biar aku pikirkan caranya nanti sendiri. Aku nggak bisa jauh dari kamu, Ness," ucap Gama sungguh-sungguh.


"Jangan pernah lakukan apa pun, Kak, aku tidak sanggup melangkah lebih jauh. Jangan katakan apa pun dengan mama ataupun Mbak There. Aku tidak mungkin sanggup melihat itu," jawab Nessa sendu.


Nessa tidak pernah berpikir untuk melangkah sejauh itu. Ia tidak menyangka Gama benar-benar berharap serius. Tapi tentu saja Nessa tidak mau, mengambil keputusan itu terlalu sulit.


"Aku akan berbicara baik-baik sama There, rumah tangga kami memang harus diakhiri karena hanya akan selalu menyakiti. Tolong kamu percaya, dan jangan ngilang-ngilang lagi."


"Jangan pernah lakukan itu untuk aku, apa pun keputusan kamu, tetap saja kebersamaan kita tidak akan menjadi baik. Biarlah aku dan kakak tetap begini, aku tidak akan merubah status apa pun."


"Tapi aku mencintaimu, Nessa, aku menginginkan dirimu," ucap Gama menggebu. Netranya menyorot lekat penuh kerinduan.


"Sayang, aku rindu," bisik Gama sembari mendekap penuh damba.


Aura maskulin yang terpancar dari tubuhnya, selalu membuat Nessa mabuk kepayang. Hingga membuatnya terlena dalam untaian hasrat yang menggebu.


"Jangan di sini, ini di mobil," tolak Nessa tersadar dengan tempat yang tidak semestinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membawamu di mana kamu menjadi ratu dalam setiap jengkal napasku," ucap Gama puitis.


Pria itu kembali melajukan mobilnya, tidak pulang ke rumah, tidak pula pulang ke kediaman Gama. Gama benar-benar membawa Nessa ke suatu tempat. Sore itu pria itu begitu nekat.


"Kita ke mana?" tanya Nessa bingung.


"Ke mana yang membuat kita nyaman. Aku sudah pamit pada orang rumah kalau ada acara yang mendadak dan tidak pulang. Kamu tidak usah khawatir," ujar Gama santai.


Sementara Nessa sendiri, sebenarnya sedari pagi sudah mengatakan kalau mungkin malam ini tidak pulang lantaran sepulang kerja ingin mencari kost setelah masa magang usai. Nessa akan kembali ke kost. Ekspektasinya memang seperti itu, tapi realitanya mereka berakhir kencan yang tak pernah terencana.


Gama membawa Nessa ke puncak, villa indah yang mengantarkan hubungan mereka semakin jauh. Menepi dari kegalauan dan kegundahan yang menyelimuti keduanya. Melupakan semua yang menjadi ganjalan hati, jatuh cinta memang membutakan segalanya.


"Kenapa membawa aku ke sini?" tanya Nessa serasa galau. .


"Katanya sumpek, kita butuh berbicara banyak berdua, tolong Sayang, nikmati saja hari ini dan jangan terlalu pusing untuk hari esok. Hanya ada aku dan kamu, malam ini," ucap Gama tak mau dibantah.


Mereka baru saja sampai di villa, Vila Asri milik keluarga Hardiyoga yang sering dijadikan tempat liburan di hari tertentu.


Kalau sudah disuguhi dengan bumbu keromantisan yang hakiki, siapa sih yang mampu menolak pesonanya? Nessa bahkan lupa dan semakin tersesat dengan perasaannya yang semakin dalam. Ia sama sekali tidak menolak saat Gama meminta mengulang kejadian kemarin yang begitu menggetarkan jiwa dan raga.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang," ucap pria itu sumringah. Langsung membawa tubuh itu mengarungi petualangan yang sama. Aktivitas baru keduanya yang nyata menjadi candu untuk pria itu.


Tak ada kompromi, saat jari-jemari nakal itu mulai aktif menanggalkan semua yang melekat pada diri keduanya. Duo sejoli yang tengah jatuh cinta itu menatap dalam tatapan merindu sekaligus menginginkan.


__ADS_2