Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 28


__ADS_3

Nessa tidak menyangka ajakan Rasyid tadi siang benar-benar terealisasi. Gadis itu pikir, ia akan sedikit berbasa-basi tapi malah di luar ekspektasi datang langsung ke rumah menjemputnya pergi.


"Sudah siap?" tanya pria itu tersenyum.


Nessa berpenampilan yang sangat sederhana, tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Bahkan sedikit tidak peduli dengan penilaian pria itu. Kendati demikian wajahnya tetap terlihat cantik walau hanya dengan polesan make up tipis.


"Ya, kita mau ke mana?" tanya Nessa ragu.


"Nak Rasyid, maaf ya, Nessa memang orangnya sedikit blak-blakan dan apa adanya," ucap Ibu seakan tahu pendapat tentang pikiran anak gadisnya.


"Tidak apa Tante, Nessa orang yang cukup menyenangkan. Jadi saya juga tidak keberatan untuk ke jenjang lebih serius," jawab pria itu percaya diri.


"Ayo Kak, kita berangkat saja nanti kemalaman," ujar Nessa merasa harus menghindari perdebatan ibu yang semakin jauh. Gadis itu belum mau membahas apa pun.


Saat keduanya hendak memasuki mobil, terlihat Gama baru saja memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya.


"Sore Gam!" sapa Rasyid ramah.


"Ya, kalian mau pergi?" tanya Gama sembari menatap keduanya.


"Iya, duluan ya," pamit pria itu sembari meraih tangan Nessa menuntunnya memasuki mobil.


Kedua netra itu saling bertemu, walaupun sama-sama diam, seakan menatapnya lain.


"Nessa, sorry tadi ngomongnya mungkin buat kamu tidak nyaman," sesal Rasyid melihat wajah Nessa yang berubah. Mereka sudah di dalam mobil.


"Nggak pa-pa kok," jawabnya datar.


Rasyid dan Nessa menghabiskan malam itu berdua di kafe langganannya.

__ADS_1


***


Sementara di tempat lain, Gama baru saja selesai mandi.


"Maaf Mas, kemarin aku udah keterlaluan," ucap There sembari memeluk suaminya dari belakang.


Pria itu masih terlihat dingin, walau keduanya sudah terlibat komunikasi nampaknya hatinya masih mengganjal.


"Terima kasih sudah pulang, aku harap kita akan sama-sama memperbaiki ini semua." Perempuan itu mengurai pelukannya.


"Iya," jawab pria itu datar. Merangkak ke atas kasur begitu saja. Menyibukkan diri membaca buku, berharap pikirannya tenang.


Entah mengapa Gama begitu resah saat mengetahui Nessa jalan berdua dengan Rasyid. Jelas saja ada sesuatu yang beda dalam perasaannya.


There mengikuti jejak suaminya, menjatuhkan kepalanya pada pundak Gama sebagai sandaran.


"Mas, kamu sibuk terus, mumpung aku lagi di rumah," ujar There manja.


"Kamu mau mencobanya?" tanya pria itu ragu. Sedikit menekankan dengan tatapan lain.


"Mas ... kamu sabar ya? Aku bukannya nggak mau, tapi kan kamu tahu sendiri."


"Oke, istirahat saja," jawab pria itu datar. Seakan menelan kembali apa yang ada dalam pikirannya.


"Aku rasa kamu harus stop dengan pekerjaan kamu dan memulai memikirkan solusi dari semua ini," ujar Gama serius.


"Mas, tolong kamu mengerti, aku bisa aja maksa tapi dampaknya seperti kemarin dan aku semakin trauma. Hanya dengan pekerjaan itu aku bisa menghibur diriku sendiri, tolong pahami kekurangan aku."


"Sampai kapan? Aku rasa kamu tidak benar-benar sungguh-sungguh berusaha, menunggu stigma yang bahkan bisa membuatku gila."

__ADS_1


"Kamu kok ngomongnya gitu, aku juga tersiksa dengan semua ini. Kamu pikir ada orang yang mau seperti ini?"


"Tiga tahun aku coba buat sabar, Re, bisa sekarang kamu pahami aku? Aku ini pria normal! Atau memang benar kamu itu tidak mencintai aku?" tuduh pria itu sendu.


"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan, oke, aku bakalan nurut, aku bakalan berusaha, aku butuh Gama yang selalu support aku."


"Aku ingin kamu bersungguh-sungguh menjalani terapi, bukan malah sibuk dengan karir yang tiada berujung. Kalau kamu ingin keluarga kita tetap utuh, pikirkan mulai sekarang," tekan Gama serius.


Kalau sudah begini, keduanya hanya bisa terdiam. There yang mulai kacau dengan pikiran-pikiran yang ia punya pun, memilih mengkonsumsi obat penenang lalu tidur. Tanpa memikirkan perasaan Gama yang sebenarnya begitu kacau.


Pria itu berusaha menguasai diri, sampai kapan pernikahannya begini. There yang cuek seakan menambah gersang hatinya yang sejatinya mulai rapuh. Sejenak berpikir untuk menyudahi, namun seperti kurang adil dan terlalu jahat. Tapi dengan keadaannya sekarang, jelas saja pria itu mulai merasakan di titik jenuh.


Jarum jam baru menunjuk di angka sebelas. Pria itu masih sibuk menatap bintang seorang diri sambil menyesap kopinya. Sama sekali tidak bisa tidur, memikirkan banyak hal yang mulai melingkupi hati.


Sementara Nessa baru saja pulang diantar Rasyid. Perempuan itu menghabiskan waktu malam ini berdua. Ia masuk ke rumah dengan memelankan sepatunya.


"Baru pulang?" sapa Gama yang sengaja menunggunya.


"Eh, kakak belum tidur?" tanya Nessa terjingkat kaget.


"Nggak bisa tidur," jawab pria itu lirih.


"Kakak udah bicara sama Mbak There?"


"Udah," jawab pria itu datar.


"Owh ... syukur lah, semoga cepat dapat titik temu ya?" ujar Nessa lega.


"Ya udah aku ke kamar dulu Kak," pamit Nessa tersenyum simpul.

__ADS_1


Gama hanya bisa menatap dalam diam punggung gadis itu yang semakin menjauh.


__ADS_2