Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 65


__ADS_3

Sebelum berangkat, Nessa lebih dulu menemui Bu Rianti untuk berpamitan pastinya. Perempuan itu memohon doa restu untuk keberangkatannya besok.


"Kenapa jauh sekali, Nak, Mama pasti akan merindukanmu," ucap Ibu sendu.


"Maaf Ma, kalau keputusan Nessa harus begini. Do'akan Nessa sukses selalu," pinta Nessa sungguh-sungguh.


Mama mengangguk dengan doa kebaikan nan tulus. Perempuan setengah baya itu memeluknya dengan sayang.


"Seharusnya kamu tidak harus pergi dari rumah ini, Nak, dan jangan terus merasa bersalah, maafkan ibumu, tapi kamu harus tahu satu hal, bahwa semua ini milikmu. Mama hanya diamanahkan untuk menjaganya, jadi kamu sangat berhak untuk pulang ke sini."


Bu Rianti akhirnya membuka tabir masa lalu Nessa kenapa sampai jatuh ke pangkuannya. Tak tahan rasanya menanggung amanah beberapa tahun silam lamanya yang malah membuat hidupnya tidak tenang.


"Maafkan Mama Nak, maaf untuk semua hal yang telah terjadi," ucap Mama Rianti sendu. Merasa gagal menjadi seorang ibu hingga membuat kedua anaknya bercerai derai saling bersinggungan.


"Jangan meminta maaf terus Ma, aku yang seharusnya berterima kasih karena Mama telah merawatku," ujar Nessa tak marah sama sekali.


Sedari kecil, Mama Rianti selalu menyanyanginya. Ia mendapatkan kasih sayang yang sama dengan kakaknya.


"Jangan terlalu memikirkan dan menumpuk rasa bersalah pada dirimu, pelan mungkin There akan memaafkanmu, Nak."


"Iya Ma, dalam hal ini aku lah yang paling bersalah, pantas saja Mbak There membenciku sekalipun dia ikut andil dalam pecahnya rumah tangga mereka. Semoga suatu hari nanti, Mbak There bisa memaafkan aku," ucap Nessa sendu.


"Sampaikan rasa maafku yang terdalam padanya, Ma, aku pergi, tidak juga membawa ikatan apa pun dengan Kak Gama, kami memang pernah salah, semoga termaafkan."


Kedua perempuan berbeda generasi itu saling memeluk dalam perpisahan. Dari atas balkon kamarnya, seseorang tengah mengintip dengan menyusut kedua sudut matanya. Kendati mereka tidak begitu dekat, tetapi dibesarkan di atap yang sama dengan panggilan ibu yang sama. There ikut merasakan sedih juga saat Nessa berpamitan. Namun, ia sama sekali tidak muncul di hadapannya karena masih tertutup rasa sakit atas pengkhianatan itu.


Setelah dari rumah yang telah membesarkan dirinya, Nessa lantas menyempatkan diri mengunjungi makam kedua orang tuanya. Perempuan itu mengirim doa sekaligus pamit untuk keberangkatan dirinya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Gama baru saja sampai di rumah yang di tempati Nessa. Ia terkesiap begitu mendapati laporan dari asisten rumah tangganya bahwa Nessa pamit menemui ibunya. Gama takut sesuatu yang tidak diinginkan itu terjadi lagi padanya. Pria itu langsung melajukan kendaraannya ke rumah yang pernah ia singgahi.


Terlihat jelas, di depan pekarangan rumah itu There dan Mama tengah berpelukan dengan wajah sendu. Gama langsung turun, namun tidak menemukan bayangan Nessa di sana.


"Permisi Ma, maaf, apa tadi—?" tanya pria itu dengan ragu. Berjalan menghampirinya.


Perempuan yang pernah menjadi mertuanya itu mengangguk tanpa Gama menyempurnakan pertanyaannya.


"Iya Gam, baru saja pergi, dia pamit sama Mama, besok katanya mau study ke London," jawab perempuan itu begitu saja.


"Terima kasih Ma, infonya, Gama permisi dulu," ucap pria itu menunduk hormat.


"Tunggu!" Suara There menghentikan langkah Gama seiring langkah kaki perempuan itu mendekat.


"Kamu bahkan sekarang tidak sudi menatapku, atau sekedar menyapaku. Sebenci itu kah dirimu padaku?" tanya There sungguh tidak nyaman.


"Apa itu tentang Nessa, semua karena Nessa! Aku tahu perbuatan aku kemarin keterlaluan, tapi wajar bukan aku membencinya. Itu hukuman buat dia karena perbuatannya."


"Cukup There, jangan menyalahkan orang lain terus. Perbuatan kamu kemarin tidak pernah termaafkan, kamu tidak lebih dari seorang pembunuh!" tekan Gama menahan emosinya.


"Aku bukan pembunuh, dan itu karma buat kalian!" teriak There emosional.


"Cukup There! Jangan memperkeruh keadaan!" bentak ibu ikut nimbrung.


"Nak Gama, Mama tahu kamu masih merasa begitu kehilangan dengan calon anak kamu, maafkan atas semua ini, Nak, kalian tidak seharusnya berseteru seperti ini," ucap Bu Rianti sendu.


"Maaf Ma, aku sudah menahan diri, tapi There selalu memancing emosiku."

__ADS_1


"Re, asal kamu tahu, aku memang salah, terlebih dari semua itu aku mengakui dan mau memperbaiki. Aku menyayangkan peringaimu yang banyak merugikan orang lain, kamu boleh sakit hati padaku, bahkan mungkin dendam, tapi satu hal aku juga ikut berjuang dalam rumah tangga kita selama tiga tahun ini. Tidak kah penantian aku kurang? Aku cuma berharaf kamu ikhlas dengan takdir kita."


"Kamu tahu rasanya sakit hati gagal, ditinggalkan seseorang yang kita sayangi. Aku begitu mengharapkan buah hati, dan kamu dengan amarahmu, dengan jahatnya meruntuhkan semua itu, jahat! Sakit Re!"


"Aku meloloskan kamu karena Nessa, sekalipun kamu terus membencinya. Bahkan setelah calon anak kami pergi karena ulahmu, Nessa masih begitu baik hati padamu, ia tidak ingin aku menuntutmu sedikit pun."


"Nessa juga menolak lamaranku setelahnya dan sekarang memutuskan untuk pergi. Sudah cukup kamu membuat perundungan atas diri kami!" ucap Gama berapi-api. Dadanya merasa sesak menyikapi ini semua. Pria itu meninggalkan rumah itu dengan emosi tertahan.


Mood yang tengah berantakan ditambah masalah lainya, seakan membuatnya semakin frustrasi. Gama bergegas pergi, di tengah jalan ia menelpon Nessa untuk menemui gadis itu.


"Kenapa Mas, kamu seperti habis marah?" tanya Nessa mendapati Gama yang terlihat tidak baik-baik saja.


Mereka bertemu di jalan, Nessa yang tadinya memesan taksi urung karena Gama menyusulnya.


"Aku cari kamu ke tempat mama. Aku khawatir padamu, kamu tidak pa-pa?" tanya Gama meneliti kekasihnya. Seketika pria itu menubruk tubuh Nessa dalam pelukan.


"Aku nggak pa-pa Mas," ucap perempuan itu sembari mengurai pelukannya.


"Ayo pulang!" ajak Nessa membimbing masuk ke mobilnya.


Gama langsung membawanya pulang ke rumah. Pria itu seharian bahkan tidak beranjak dari sana. Sengaja ingin menghabiskan waktu berdua sebelum besok akan berpisah lama.


"Apa aku boleh menyusulnya?" tanya pria itu sungguh-sungguh.


Kedua netranya mendung, bahkan mukanya murung dan terlihat sendu. Membuat Nessa berkali-kali menenangkan.


"Mas, kamu jangan gini dong, aku perginya jadi nggak tenang," ucap Nessa merasa kasihan sekaligus galau sendiri.

__ADS_1


"Nggak tahulah, ini berat Sayang," ucap Gama sendu.


__ADS_2