
Gadis itu mendelik kaget seraya menutup mulutnya cepat. Tidak boleh menimbulkan suara atau Mbak There akan curiga. Kak Gama ini selalu penuh kejutan, bagaimana bisa pria itu melakukan semua itu dengan begitu santai.
"Ah sial, kakak iparku nakal sekali," batin Nessa mengumpat. Saat tangan itu semakin nakal. Untuk membunuh rasa cemasnya Nessa sengaja menutup dengan tas miliknya. Ini lebih menantang dari sebelum-sebelumnya.
Sementara Gama tetap meladeni istrinya yang sibuk bercerita. Tanpa There tahu kalau tangan suaminya bahkan tersesat ke mana-mana.
Nessa berusaha menyingkirkan, namun percuma tangan pria itu akan kembali dengan lebih nakal bahkan meremas gemas hingga menimbulkan rocknya begitu lecek. Pria itu baru berhenti setelah mobil sampai di pekarangan rumahnya.
Nessa langsung turun dan memasuki rumah mendahului dua pasutri yang kelihatan mesra dengan Mbak There berjalan menggelayut manja di lengannya.
Gadis itu menemui ibu, hal yang pertama ia lakukan setiap pulang ke rumah adalah menemui ibunya. Entahlah, mendapati ibunya baik-baik saja sampai rumah selalu membuatnya lega. Terlepas apa pun yang sudah ia lakukan di belakang, biarlah menjadi rahasia dirinya yang tidak pernah akan terbagi.
Mereka berkumpul kembali saat makan malam, terlihat Mbak There begitu telaten menyiapkan untuk suaminya. Jelas saja ibu terlihat senang.
"Eh ya, Bu sepertinya besok saya mau kembali ke rumah," ujar There saat makan malam.
Gama yang tengah mengunyah sampai berhenti dan menatap There kaget. Tentu saja, pria itu bahkan belum diajak diskusi, There selalu mengambil keputusan sendiri.
"Mama berarti sendirian lagi dong, kalau kalian pindah. Nessa juga sudah bilang mau kembali ke kost setelah kembali ke kampus," ujar Ibu terlihat sendu.
"Owh ... kamu jadi pindah? Ness?" tanya There dengan nada senang.
"Iya Mbak," jawab Nessa datar.
__ADS_1
Untuk Gama sendiri sejujurnya lebih senang Nessa kembali kost. Pria itu akan leluasa menemui kekasihnya tanpa gangguan yang berarti.
"Ness, kamu tinggal di rumah saja, kasihan Mama," ujar There perhatian.
Gadis itu pun mengiyakan, alasan untuk kost lantaran dirinya menghindari seatap dengan Gama, kalau pada akhirnya pria itu kembali ke rumahnya tentu saja Nessa tidak usah capek hati pindah dari sana.
Dekat dengan pria itu selalu membuatnya susah untuk mengendalikan tubuhnya. Begitu pun dengan Gama, pria itu rasanya ingin menempel dan mengurungnya setiap waktu dan setiap saat bila mungkin. Berharap jika jauh nanti, mungkin perasaan itu akan mengikis dengan sendirinya dan bahkan menghilang.
Terlepas dengan semua yang telah terjadi, tak perlu direnungi terlalu dalam, toh Nessa juga menikmati kesalahan itu. Tidak harus dipikirkan terlalu berlarut semua sudah terjadi dan tak akan sama seperti dulu.
Usai makan malam semua menuju kamarnya masing-masing. Malam itu, There kembali banyak bercerita, Gama menimpali dengan pikiran sibuk mencari cara untuk keluar dan menyelinap ke kamar Nessa. Seharusnya di rumah memang sesuai aturannya, tapi mengingat bahkan di luar rumah tidak ada kesempatan untuk berdua tentu saja Gama terlalu merindukan gadis itu.
Tepat pukul sebelas malam, diam-diam Gama menyelinap masuk ke kamar Nessa. Gadis itu masih terlihat sibuk memainkan ponselnya.
"Belum, Kakak ngapain ke sini? Ini sudah larut." Seperti biasa, Nessa selalu mengusirnya.
"Aku tidak bisa tidur, terlalu merindukanmu," ucap pria itu sedikit berbisik.
"Bukankah di rumah sesuai aturan aku, kenapa masuk ke kamar?" tanya gadis itu merubah posisinya dari duduk berjalan mendekati pintu. Sungguh berada satu kamar membuat perempuan itu takut tak terkendali.
"Kamu tidak tahu betapa sulitnya diriku, harus tetap tersenyum di dekat There saat pikiranku bahkan memikirkan dirimu. Nessa ....!" tekannya dengan wajah memohon. Pria itu menahan pintu yang hendak dibuka, dan malah mengurung Nessa dengan tubuhnya.
"Kakak gila! Ini di rumah, jangan membuat aku semakin rumit!"
__ADS_1
Nessa mendorong dada Gama agar menjauh. Pria itu hanya terdiam menikmati wajah cantiknya tanpa meminta lebih.
"Kamu berencana kost? Aku akan carikan tempat tinggal yang nyaman untukmu," ujar Gama sembari mengelus pipinya.
"Tidak jadi, kasihan mama sendiri," ucapnya sendu.
"Kalau begitu, jangan meninggalkan kantor, kita akan sulit bertemu bila tak seatap dan tak sekantor."
"Pikirkan saja nanti, tolong keluar! Nanti kalau mbak There bangun terus nyariin gimana?"
"Ah ... aku bosan terus bersandiwara begini. Ayo kita menikah Nessa!" tatap Gama dengan serius.
Sorot netra lentik itu menatap dengan bingung, ada kebimbangan yang besar di lubuk hatinya. Walaupun pada akhirnya memenangkan cintanya, tapi bahagia di atas luka orang-orang tersayang jelas menjadi ganjalan terbesar.
"Beri aku waktu untuk berpikir," nego gadis itu diambang kegamangan.
"Aku takut bertemu esok hari yang akan membuat semua orang terluka." Mata Nessa berkaca-kaca.
"Jangan mengkhawatirkan hari esok, pikirkan saja hari ini dan apa yang bisa membuat hatimu nyaman. Jangan menyesali apa pun, karena aku tidak akan membiarkanmu terluka sendirian."
"Kamu mencintaiku?"
Nessa mengangguk, buliran bening yang jatuh di lupuk matanya Gama usap penuh kelembutan dengan jari jemarinya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap pria itu menarik dalam pelukan.