
Nessa menyusut sudut matanya, rasa haru dan ganjalan di hati mengikis seiring doa dan restu yang diberikan ibu dan kakaknya.
"Aku tahu kamu sudah berubah, dan Gama juga sempat menemui ibu dan aku untuk minta maaf terkait masalah yang pernah lalu. Kami tidak mungkin mengungkung pertikaian ini terus hingga berlarut," ujar There tenang.
"Dia pria yang baik, sangat cocok denganmu yang lembut," imbuh perempuan itu terlihat tegar.
Nessa semakin tergugu mendengar perkataan kakaknya yang sudah banyak berubah semenjak dua tahun lebih terakhir kali bertemu. Gadis itu tidak mampu berkata banyak selain gumaman terima kasih dan rasa haru.
"Semoga rencana pernikahan kalian diberikan kelancaran. Doakan mbak juga tengah menjalani terapi rutin, aku insya Allah ingin segera menyusulmu," ujar There yang membuat Nessa semakin lega dengan pengakuan kakaknya.
"Benarkah? Aku berbahagia atas kabar ini, semoga Mbak juga dilancarkan dengan segala rancangan yang ada," doa Nessa tulus.
Keduanya kembali tersenyum sambil memeluk haru. Mama Rianti ikut bergabung memeluk kedua putrinya. Sungguh kebahagiaan yang tak bisa digantikan.
Nessa pamit pagi itu dengan hati lega. Sesampainya di rumah kostnya, menemukan Bu Marta dan supirnya sudah menunggu di depan rumah singgahnya.
"Assalamu'alaikum Tante?" sapa Nessa dengan ramah.
"Sayang, kamu dari mana? Ayo ikut Tante, kita harus nyiapin semuanya buat persiapan nikahan kalian," ujar Bu Marta cukup antusias.
"Secepat ini ya Tante?" tanya Nessa belum persiapan apa pun.
"Iya Sayang, kamu ikutin aja, biar itu menjadi urusan Tante dan keluarga. Lagian Gama udah masrahin semuanya. Hari ini dia ngantor dulu nanti nyusul," ujar Bu Marta dengan rancangan agendanya.
__ADS_1
"Tapi Tante, Nessa belum izin ke pihak kantor, gimana ya?" ujar gadis itu ragu.
"Nggak bisa libur?" tanya Tante ikut galau.
"Nessa kan baru, jadi kalau mendadak libur gimana ya? Gini aja deh Tante, sore setelah dari kantor gimana?"
Pekerjaan juga masalah tanggung jawabnya. Ia sudah terikat kontrak kerja selama masa tiga bulan dan bila seenak meninggalkan kantor atau keluar tanpa sebab akan dikenakan finalti.
"Oke deh, bisa diatur waktunya. Gama meminta minggu ini kalian sudah menikah. Bagaimana Nak?"
"Terserah baiknya Tante saja," ujar Nessa mengiyakan.
Nessa sungguh tidak masalah, keluarga dari pihak Gama yang akan mengamodasi semuanya. Hanya saja ia susah untuk izin cuti jika tidak mendesak. Perempuan itu harus membuat schedule yang tepat agar tidak bertabrakan dengan hari penting yang sudah digadang-gadang.
"Ness, buru-buru amat, ke mana?" tanya Nawang demi melihat temannya yang terlihat sibuk.
"Iya, udah ditungguin orang di depan, duluan ya?" ujar Nessa bergegas.
Calon ibu mertua itu begitu antusias dan tepat waktu menyambut kepulangan calon menantunya.
"Tante, maaf jadi nungguin," ujar Nessa sungkan. Sore ini tak sendiri, melainkan Gama yang menjadi drivernya.
"Langsung berangkat Gam, keburu sore," ujar Bu Marta menyeru.
__ADS_1
"Siap Ma," jawab pria itu fokus menyetir.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mereka menuju butik kenamaan yang sudah dipesan Bu Marta sebelumnya. Tentu saja mempersiapkan pakaian pengantin yang akan digunakan mempelai berdua.
"Ayo sayang, turun," titah Bu Marta menanti calon mantunya. Gama hanya sebagai pengamat yang sesekali tersenyum lalu menundukkan pandangannya canggung. Rasanya sudah tidak sabar menanti di mana hari yang halal untuk keduanya. Supaya tidak ada batas pandangan untuk keduanya.
"Pilih dulu mau yang kaya gimana?" ujar Bu Marta memberikan pilihan untuk kedua calon pengantin.
"Gimana baiknya Nessa aja, Ma, Gama ngikut," ujar pria itu mengikuti selera calon istrinya.
Nessa menjatuhkan pilihan pada gaun muslimah modern berwarna putih gading untuk membersamai akad mereka nantinya.
Selesai memesan cepat sesuai selera Nessa, tidak lantas pulang. Rupanya Bu Marta mengajak membeli sebuah cincin pernikahan. Gama mengekor dua perempuan itu dengan seksama. Rasa bahagia semakin nampak di depan mata.
"Model yang simple aja, Ma, Nessa nggak suka yang ramai." Kali ini Gama berpendapat. Benar adanya, calon istrinya itu memang tidak begitu suka sesuatu yang mencolok.
"Polos maksudnya sayang, apa tidak terlalu monoton. Mama pengen yang paling bagus di sini," ujar perempuan itu begitu antusias.
"Alhamdulillah ... yang ini ya Sayang, masya Allah cantik banget di tangan kamu," puji Bu Marta saat gadis itu tengah mencoba cincin putih itu dengan mata berkilauan.
Nessa terharu dengan perlakuan calon ibu mertuanya yang dirasa begitu menyayangi dirinya.
"Makasih Tante," ujar Nessa tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama sayang. Tolong jaga kesehatan ya, persiapkan dirimu untuk menjelang pernikahan kalian. Semoga tidak ada aral melintang dan semua dimudahkan. Aamiin."