
Nessa tengah menyiapkan barang-barang pribadinya yang hendak dibawa dengan Gama membantunya. Suasana masih terlalu pagi namun pria itu sudah di rumahnya. Setelah semalam pulang dengan terpaksa. Ya karena semalam Nessa mengusirnya.
"Kenapa sih nggak boleh tidur di sini aja, ada Mbok juga aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu terkecuali kamu mengijinkan," ucap pria itu.
"Tahu Mas ... aku percaya, takutnya aku malah terlena dan tidak bisa menahan diri. Sudah cukup kita pernah salah, dan pengalaman adalah guru terbaik, jadi tahu kan jawabannya," ujar Nessa sedikit menjaga jarak.
Cup!
"Ngalamun!" satu kecupan di pipi kanannya membuyarkan lamunan Nessa tentang semalam. Pria itu duduk berjongkok menjatuhkan kepalanya di pangkuan Nessa yang tengah duduk di bibir ranjang sembari mengemas barang.
Nessa tersenyum, mengusap lembut kepala kekasihnya.
"Bangun Mas, sarapan dulu yuk!" ajak Nessa sembari mengusap kepalanya.
"Aku nggak lapar, tapi—" ucap pria itu tertahan. Menatap netra perempuan itu dalam dari posisinya.
Nessa berdiri dengan grogi, ditatap Gama lama-lama selalu membuatnya mati gaya.
"Sayang ... aku—"
"Sarapan Mas!" ucap Nessa mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Gama mengekor perempuan itu dengan tangan merangkulnya. Keduanya menuju ruang makan, Nessa menyiapkan makan siang mereka. Semua gerakan Nessa pagi menjelang siang itu tak luput dari pengamatan pria itu.
"Kamu sudah seperti istri yang tengah menyiapkan makanan untuk suamimu," seloroh Gama menikmati hari ini.
"Latihan dulu, biar nanti udah pintar kalau saatnya tiba."
"Apa waktu beberapa jam ke depan bisa membuat kenangan indah untuk kita?"
"Semua yang pernah kita lakukan berdua, terutama hari ini akan menjadi kenangan indah untuk kita berdua Mas," ujar Nessa yakin.
"Kalau begitu sini!" Gama menarik tangan Nessa hingga perempuan itu terduduk di pangkuannya.
"Eh, ngapain?" tanya Nessa kaget.
Nessa pun menyuapi pria itu dengan tangannya. Keduanya makan dengan piring yang sama dan minum segelas berdua. Suasana yang pasti akan selalu mereka rindukan.
"Berjanjilah untuk selalu memberi kabar, wajib telepon bila ada waktu," pesan Gama.
"Iya Mas, pasti," jawab Nessa mengiyakan.
"Tolong jaga cinta kita, perasaan ini sepenuhnya milikmu, aku berjanji tidak akan pergi jika kamu tetap akan tinggal."
__ADS_1
"Semoga hari esok ada lembaran cerita untuk kita, maaf kalau aku membuat hidupmu rumit. Aku berjanji menjaga perasaan ini, semoga saat aku kembali nanti perasaan ini masih sama dengan keadaan yang lebih baik."
Hanya soal waktu, dan biarlah rasa tidak enak dan rasa sakit hati atas semua yang terjadi melebur seiring berjalannya waktu yang terus berputar.
Gama mengantar ke Bandara sore itu. Namun, sebelumnya Nessa meminta Gama untuk mengantar dirinya ke tempat Bima untuk berpamitan secara khusus.
"Harus, lewat telepon saja nggak bisa?"
"Bisa sebenarnya, tapi aku ingin ketemu. Dia pria yang baik, aku harus berpamitan secara langsung padanya," ujar Nessa santai.
Gama harus berbesar hati mengantar Nessa menemui sahabatnya. Hanya untuk berpamitan, saling melepas perpisahan dalam untaian doa.
"Hati-hati di jalan, London itu jauh, kalau kamu telepon aku lalu menyuruhku ke sana aku akan datang sehari kemudian. Kenapa tidak di Indo saja sih," gerutu Bima mengurai pelukan itu.
"Terima kasih Bim, aku tunggu kabar bahagianya. Jangan gonta ganti pacar terus, kasihan tante Tari, cobalah serius dengan satu perempuan. Aku berharap waktu aku pulang nanti kamu sudah insaf," ujar perempuan itu berseloroh.
Bima hanya menimpali dengan senyuman yang cukup santai. Atau bahkan mungkin masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Usai dari apartemen Bima, mobil Gama langsung menuju ke Bandara. Nessa mengambil jam penerbangan sore. Masih ada sekitar satu jam lagi menuju keberangkatan. Gama menyempatkan berfoto-foto dulu membuat kenangan. Sebelum akhirnya waktu benar-benar memisahkan mereka.
Lambaian tangan dengan senyuman khas menawan itu terus terngiang-ngiang di kepala Gama. Pria itu baru beranjak setelah Nessa benar-benar menghilang menuju gate keberangkatan. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Sepi, sunyi dan sendiri. Tak ada lagi sapa dan tawanya yang akan Gama jumpai sehabis pulang kerja jika kebetulan mengunjunginya. Hanya lewat udara gambar keduanya saling menyapa.
__ADS_1
Hari-hari yang berat untuk Gama, dan mungkin juga Nessa, di mana nelangsanya hati ditinggal saat pas lagi sayang-sayangnya. Walaupun batin mereka terpaut, namun jarak yang memisahkan keduanya membelenggu rindu. Demi sebuah cita-cita dan cinta yang tengah diuji kesetiannya. Akankah mereka bertahan, atau memilih untuk mengakhiri kenangan bersama sang waktu.