
Beberapa detik keduanya saling diam, lebih tepatnya sama-sama menata hati dengan pertemuan perdana itu. Hingga Gama menyadari siapa yang datang.
"Nessa!" ucap pria itu bangkit dari ranjang yang sebelumnya setengah berbaring. Pria itu berjalan mendekat, sedang Nessa mengangguk dengan panggilan untuk dirinya.
"Iya Mas, bagaimana keadaan kamu?"
Pria itu tersenyum, lalu berhambur mendekat ingin menubruk. Tetapi Nessa dengan cepat merapatkan tangannya lalu memberi salam penuh kelembutan.
"Assalamu'alaikum ... Mas, kamu belum jawab salam aku," ujar perempuan itu seakan memberi jarak.
Gama terpaku di tempat, ia menyadari suatu hal bahwa Nessa-nya telah berhijrah. Mungkin yang menyebabkan menolak untuk dipeluk.
"Waalaikumsalam ... tidak lebih baik sejak kamu menghilang. Aku menyusulmu, aku mencarimu, dan asal kamu tahu aku tidak pernah ngelakuin itu," ucap Gama berapi-api. Akhirnya ada kesempatan untuk memberikan penjelasan yang bertahun membelenggunya.
"Lupakan saja, semoga kita bisa saling memaafkan dan lapang. Aku dengar kamu sakit? Tapi—" Nessa meneliti Gama dari ujung kepala sampai kaki lalu segera beristighfar. Tidak maksud hati ingin menikmati tatapan itu lebih lama.
"Kamu adalah obat dan penawar dari segala rasa sakit yang ada pada diriku," jawab Gama merasa lebih baik. Bahkan jauh lebih sehat setelah mendapat kunjungan langsung oleh pemilik hatinya selama ini.
"Alhamdulillah kalau sudah merasa lebih baik, semoga lekas sehat Mas, aku harus pulang, ini hampir petang," pamit Nessa undur diri.
"Aku akan mengantarmu," jawab Gama cepat.
"Tidak usah Mas, aku akan memesan taksi saja. Mas istirahat saja, lekas membaik Mas. Assalamu'alaikum!" Perempuan itu menunduk sopan lalu beranjak.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ....!" jawab Gama seperti mimpi.
"Nessa!" gumamnya seraya berlari keluar. Tak ingin kehilangan lagi dalam pandangan. Atau benar-benar takut perempuan itu akan menghilang kembali setelah datang.
"Iya Mas, kenapa?"
"Bisakah tetap di sini, rasanya ragaku lunglai tanpa pijakan dan tak bersemangat kala kamu menghilang dari pandanganku."
"Maaf Mas, aku harus pulang. Kalau Tuhan berkendak, insya Allah kita akan bertemu lagi."
"Apakah hati itu masih sama? Perasaan itu masih sama? Aku bahkan tidak bisa merasakan itu setelah kamu menghilang tanpa perasaan."
"Anggap saja semua rasa sakit itu sebuah ujian, yang akan melebur dosa kita yang telah kita perbuat."
"Kita hanya tengah berada dalam persimpangan, aku minta maaf Mas, salahku banyak, rasa tak tahu diriku banyak. Semoga hari ini hatimu lapang untuk memaafkan wanita pendosa seperti diriku."
"Aku selalu menyebut namamu dalam setiap doaku. Aku harap ini adalah jawaban baik yang Tuhan kirim untuk kita. Apa kisah kita masih bersambung?" tanya pria itu sungguh-sungguh.
"Kisah kita telah usai Mas, aku tidak menganut asas pacaran. Jadi, kamu mengerti kan sekarang."
"Kalau begitu, sama, aku juga tidak mau pacaran. Mari kita menikah, memperbaiki semuanya. Izinkan aku menjadi imam untuk hidupmu, Nessa."
Perempuan itu tersenyum kalem, menyikapi semuanya dengan begitu tenang. Secara naluriah, rasa kagum dan perasaan itu masih sama, namun keadaan yang tidak lagi sama. Perempuan itu harus bisa menjaga pandangan dan lisannya agar tidak mudah menyakiti.
__ADS_1
"Aku punya kriteria untuk calon imamku, Mas. Apa kamu sanggup?" ujar Nessa blak-blakan.
"Katakan, aku pasti akan memenuhi apa yang menjadi syarat untuk menjadikan kamu sebagai calon makmum."
"Kunjungi waktu subuh, dan datang tepat waktu ke tempat ibadahmu. Aku hanyalah wanita pendosa, bimbing aku menuju jalan kebenaran-Nya."
Entah mengapa pernyataan yang teramat sederhana itu seakan menohok di ulu hati. Ia merasa tertampar dengan gambaran yang ada, sungguh selama ini telah lalai dan terlalu mencintai dunia. Bahkan sibuk merenungi kesedihan yang tiada akhir.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap Gama yakin.
"Biarlah semuanya berjalan atas garis takdir-Nya. Jangan terlalu risau, serahkan saja semuanya. Kita hanya perlu menjaga untuk tetap menjadi baik. Aku pamit, semoga silaturahmi kali ini menjadikan kita semakin peduli dengan apa yang sebenarnya telah kita lewati. Melapangkan apa yang menjadi gemuruh dalam hati."
Nessa pamit pulang, melangkah keluar dengan pasti setelah sebelumnya berpamitan dengan Bu Marta yang sebenarnya dari tadi menguping pembicaraan mereka. Ibu itu merasa takjub melihat putranya yang jauh lebih sehat dibandingkan beberapa jam lalu, yang bahkan untuk menjawab lawan bicaranya pun enggan.
"Ness! Biar aku mengantarmu," ujar Bayu berlari mendekati.
"Tidak usah, Pak! Aku sudah memesan taksi."
"Bukankah tadi aku sudah berjanji, menjemput dan mengantar pulang. Jadi, jangan membuat aku dalam kubangan pendusta." Bayu menatap Gama lalu mengerling.
"Tidak berdua, tetapi bertiga, ada aku, Pak Gama dan kamu. Silahkan menuju mobil yang siap sedia."
Pria itu memang terbaik, pandai membaca situasi. Akhirnya Nessa kalah telak dan menerima tawaran itu. Gama dan Bayu duduk di depan, sedang Nessa di jok belakang. Sesekali pria itu menatap dalam pantulan kaca spion. Diam-diam menikmati wajahnya yang terlihat begitu meneduhkan.
__ADS_1