
Menaruh harapan akan berbuah kebahagiaan jika diberikan pada orang yang tepat. Apa jadinya bila perasaan itu tumbuh subur pada orang yang salah?
Hampir semalaman Nessa terjaga, membawa hati ini dalam kebimbangan. Berbeda dengan Gama yang begitu mantap melangkah, keyakinannya sudah bulat bahkan jika ditarik dari sudut mana pun. Tak ada lagi kisah yang terselip di antara keduanya. Sekian hari berganti, tetap perasaan itu tak tersisa malah menambah rumitnya hati.
"Mas, aku minta uang. Sepertinya kita tidak bisa pindah sekarang, ibu kurang sehat," jelas There sendu.
"Nanti aku transfer, terserah saja," jawab Gama datar.
"Mas, nanti mau dibawakan makan siang apa ke kantor, aku mau masakin buat kamu."
"Tidak usah Re, kamu jaga ibu saja, aku bisa makan di luar," tolak Gama lembut.
"Akhir-akhir ini kamu selalu bersikap dingin padaku, aku sedang berusaha untuk itu semua Mas, tolong hargai!" There mulai tak tahan dengan sikap Gama yang hanya berbicara seperlunya saja.
"Aku minta maaf, Re, aku ingin kamu belajar mengabaikan aku seperti dulu, agar rasa nyaman itu terbentuk sampai saatnya kita pisah nanti."
"Aku menghormati dan menghargai keputusanmu karena ibu, tapi jangan abaikan kalau kita sedang dalam proses itu."
__ADS_1
There terdiam, pembicaraan tempo lalu tak membuahkan hasil apa pun. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu kuat ingin berpisah dari dirinya. Kalau bukan karena limpahan materi yang Gama punya, tentu saja perempuan itu sudah menyerah.
Perempuan itu tidak akan rela melepas Gama begitu saja. Sisi lain dari dirinya, ingin membalas dengan sempurna.
Pagi harinya, seperti biasa formasi keluarga berkumpul di meja makan. Rencana kepindahannya pun belum terealisasikan karena menimbang kondisi ibu yang akhir-akhir ini ngedrop. Pagi itu, Nessa begitu telaten menyiapkan menu sarapan untuk ibu, menyiapkan obat yang rutin harus diminum selama beberapa hari ini.
"Nessa berangkat dulu, Ma?" pamit gadis itu lalu.
"Gama juga pamit, Ma. Re, berangkat ya?" Seperti biasa mereka masih pamitan alakadarnya. Walau hati mereka berseteru, mereka begitu rapih dan rapat di depan ibu.
Nessa dengan cepat meninggalkan rumah, sudah beberapa hari ini ia selalu berangkat memakai motor dan berusaha menata hatinya bila bertemu dengan Gama. Apalagi di rumah, nyaris keduanya menyepakati aturan Nessa, walau masih sering kucing-kucingan menemui gadis itu.
Sesampainya di kantor, semua aturan itu tidak berlaku untuk keduanya. Namun, karena aturan perusahaan tidak memperbolehkan karyawannya menjalin asmara, tentu pertemuan demi pertemuan yang terselubung pun berdalih demi pekerjaan.
Akhirnya Nessa menerima tawaran Gama, bukan untuk menikah tapi untuk sebuah pekerjaan. Selain karena jadwal bekerja yang padat dari senin sampai jumat, Nessa juga sedang disibukkan dengan skripsi kuliah. Masalahnya sedikit terkubur karena banyaknya aktivitas dan jam sibuk yang menyertainya.
Kesempatan baik tidak datang dua kali, jadi jika ada peluang yang baik, tentu akan Nessa manfaatkan untuk itu.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini kamu terlihat begitu sibuk, tubuhmu juga semakin kurus. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Gama di sore hari. Mereka menghabiskan waktu bersama sore itu masih di ruangan kantor Gama.
"Mungkin aku hanya lelah, maklum saja tugas aku banyak," jawab Nessa benar adanya.
"Aku ingin waktumu besok seharian? Apakah bisa?"
Nessa mengangguk mengiyakan, libur memang saat yang tepat untuk berkencan. Walaupun kesibukan melanda, tentu ia harus meluangkan waktu hanya untuk sekedar berdua. Katakan saja kalau pikirannya bahkan sekarang mulai sesat akal, karena terlalu menikmati perannya sebagai kekasih suami orang.
"Sebaiknya kita pulang, besok urusan kamu bagaimana caranya membuat rencana kita menjadi indah. Aku sudah lelah untuk hari ini," ucap Nessa lalu.
"Aku masih rindu, Ness!" cegah Gama menahan perempuan itu. Ia memeluknya dari belakang sembari mencium aroma tubuhnya yang selalu ia rindukan.
Gama sadar betul, di rumah tidak mempunyai kesempatan itu. Tentu saja terhalang There dan ibu. Satu-satunya alasan Gama begitu betah di rumah itu, selain mempertimbangkan kesehatan ibu, ialah selalu bisa dekat dengan Nessa. Terus melihatnya setiap waktu.
Gama memutar tubuh kekasihnya hingga keduanya saling berhadapan. Mata keduanya saling bersirobok, saat pria itu hendak mempertemukan bibir mereka, tiba-tiba Nessa menolak. Tubuhnya mendadak tidak suka berhadapan dengannya. Ia membekap mulutnya seakan mau muntah.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Gama khawatir
__ADS_1