Main Hati With Iparku

Main Hati With Iparku
Part 27


__ADS_3

Semalaman mereka tertidur saling memberi kehangatan. Tidak terjadi apa pun hanya memeluk saja seperti pinta Nessa. Bagi Gama, Nessa adalah kendali yang kuat, mungkin kalau perempuan itu lemah bisa saja terjadi dan terjadilah.


"Kamu sudah bangun? Kenapa tidak membangunkan aku?" ucap Nessa sedikit kaget. Mendapati Gama yang sudah rapi dengan style kantornya.


"Morning sayang ....!" Kak Gama mencium muka bantal Nessa yang terlihat unyu.


"Jam berapa ini? Aku harus pulang, atau orang rumah akan mencariku," ujar Nessa panik sendiri sembari turun dari ranjang.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, ini sudah lewat jam tujuh dan aku rasa pasti orang rumah sudah mencarimu sedari tadi."


"Astaga! Kenapa tidak membangunkan aku, bukannya kita harus ke kantor?"


"Kamu terlalu menikmati pelukan hangat itu, sampai kamu lupa caranya bangun," cibir Gama tersenyum.


"Apa semalam terjadi sesuatu? Bukankah hari ini kakak harus bertemu dengan Mbak There," ujar gadis itu memperingatkan.


"Iya, aku akan mencoba mengikuti saranmu. Kalau aku berhasil, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gama terlihat sendu.


"Aku pasti baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan apa pun tentang aku," ucap perempuan itu yakin.


"Aku menghargai keputusanmu, aku harap kamu juga akan bahagia dengan siapa pun nanti yang akan menjadi pilihanmu."


Nessa mengangguk, gadis itu segera bergegas ke kamar mandi. Sejenak ia lupa kalau ia bahkan tidak membawa ganti apa pun. Merasa bodoh tapi sudah terjadi, mungkin ia akan meminjam koleksi kemeja mahalnya nanti.


Suara ketukan pintu membuat gadis itu mempercepat ritual mandinya. Gama benar-benar pandai bersilat lidah. Ia tidak benar-benar memeluknya, bahkan meninggalkan beberapa tanda merah di leher jenjangnya yang putih.


Gadis itu segera membuka pintunya sedikit, sadar bahwa penampakannya saat ini terlalu ekstrem untuk dinikmati orang lain.


"Aku tidak membawa baju ganti, mungkinkah Kakak mau memi—"

__ADS_1


Belum sempat selesai berbicara, Kak Gama lebih menyodorkan paper bag yang Nessa yakini adalah pakaian. Gadis itu langsung mengambil dari tangan Kak Gama tanpa ragu.


"Kamu mempunyai selera yang tinggi?" puji Nessa setelah membalut tubuhnya dengan baju yang telah pria itu beli.


"Aku cukup pengertian, kamu suka? Hmm ... maksud aku, apakah ukuran dalamnya juga sama? Aku hanya mengira-ngira saja, karena aku belum mengukurnya langsung," ujar pria itu terkekeh.


"Kamu nakal, tapi kenapa bisa pas. Ah, jangan-jangan Kakak mencuri ukuran saat aku tidur," tuduh gadis itu tak percaya.


"Kamu benar-benar ingin aku melakukannya? Kamu adalah kendali terbaik," ujar pria itu menatap dalam.


"Sepertinya kita harus berangkat sekarang, ini sudah terlalu siang," ujar Nessa mengalihkan pembicaraan.


Gama mengikuti gadis itu yang berjalan mendahului. Tanpa bisa dicegah, ia berjalan lebih cepat sembari meraih tangannya agar bertaut.


"Ayo berangkat!" ujarnya sambil lalu. Nessa menuju motornya yang terparkir.


"Kamu tidak ingin bareng?" tawar pria itu masih berusaha membujuk.


"Kamu bertingkah seperti istri pada suamimu yang hendak melepas kerja," ujar pria itu menatapnya lekat.


"Anggap saja aku sedang latihan, suatu hari nanti aku pasti akan melakukan ini dengan suamiku," jawab Nessa tanpa beban.


"Terima kasih, sudah dirapikan," ucap pria itu mengikis jarak. Mengecup keningnya tanpa ragu.


"Berangkatlah lebih dulu, sampai ketemu Pak Gama," seloroh Nessa melepas kepergian pria itu.


Gama memasuki mobilnya, namun pria itu tidak lekas berangkat. Menunggu motor Nessa melaju lebih dulu, baru ia mengikuti dari belakangnya. Mengapa seperti ini saja bisa membuat perasaannya begitu bahagia.


Sampai di kantor mereka kembali bertemu, namun langsung berpisah di lobby. Nessa sengaja jalan lebih dulu dan memakai lift lain untuk sampai ke meja kerjanya. Gama setuju, untuk membuatnya terasa nyaman ia tidak melibatkan Nessa terlalu dekat selain urusan pekerjaan, itu pun melalui tim dan juga Bayu. Pria itu terlihat biasa dan bisa mengontrol diri dengan baik di kantor.

__ADS_1


"Pagi Pak?" sapa Nessa pada Bayu yang nampak bertingkah sedikit aneh di depannya.


"Pagi," jawab pria itu tersenyum sambil memperhatikan penampilannya. Sobtak saja itu membuat Nessa menjadi sedikit kurang nyaman.


"Apakah ada yang salah?" gumam Nessa pada diri sendiri.


"Wao ... penampilan kamu beda sekali, Ness?" tanya Mbak Hana.


"Terima kasih Mbak," jawabnya menunduk malu.


Gadis itu hanya memakai make up tipis, namun berbalut pakaian mahal tentu saja akan terlihat lebih menawan.


"Cantik," puji Arka yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Namanya juga cewek ya cantik keles, yakali ganteng," jawab Nessa ceplos saja. Seketika membuat orang-orang di sekitarnya terkekeh.


Suasana di meja kerja cukup akrab satu sama lain. Membuat gadis itu semakin betah saja. Sejenak berbincang pagi, lalu mulai bekerja seperti biasanya.


***


Nessa pulang ke rumah setelah petang, perempuan itu menemukan rumahnya yang nampak ramai. Rupanya sore itu kedatangan Rasyid yang sengaja menunggunya. Ditemani ibu dan juga Mbak There.


"Hai, baru pulang?" sapa pria itu ramah.


"Eh, Rasyid, sudah lama?" Bukan menjawab Nessa malah balik bertanya.


"Hmm, baru sih. Sorry nggak ngabari kamu dulu, tadi sekalian nganter pesanan tante Rianti, dari Ibu," ujar Rasyid merasa tak enak.


"Nggak pa-pa, bentar ya, aku mandi dulu," pamitnya lalu.

__ADS_1


Gadis itu bergegas menuju kamarnya, sedikit bertanya-tanya mengapa Kak Gama belum pulang?


__ADS_2