
Taxi itu menyisir jalanan yang tidak terlalu macet di siang hari itu. Setelah berkendara hampir 30 menit, sampailah mereka di rumah Selena. Sebelum mereka turun, Daniel berkata kepada supir taxi itu.
"Pak, bisakah Bapak menunggu saya sebentar, saya ingin meminta tolong kepada Bapak untuk mengantarkan saya pulang setelah ini. Apa bisa Pak?"
Supir taxi itu pun sedikit nampak bingung di wajahnya tapi ia menganggukkan kepalanya dan menyanggupi bisa mengantarkan Daniel.
"Baik, saya akan tunggu di sini." Sahut supir itu.
Kemudian Daniel ikut turun dari taxi itu dan mengikuti Selena yang telah berjalan lebih dulu di depannya.
"Rumahmu yang mana Selena?" Tanya Daniel kepada Selena, sebab di kawasan perumahan itu banyak sekali rumah berjejeran.
__ADS_1
"Di sana, rumah berwarna putih itu rumah saya." Jawab Selena dengan jari telunjuknya mengarah pada rumah berwarna putih di sana.
"Anda bisa pergi sekarang, saya bisa pulang sendiri. Lagipula jaraknya sudah dekat."
Selena sesungguhnya tidak merasa percaya diri harus diantar Daniel. Lagipula, tetangganya akan mengatainya yang macam-macam bila dirinya di antar pulang seorang cowok, terlebih cowok itu sangat tampan seperti Daniel. Belum lagi kenyataan apabila Ayahnya berada di rumah dalam keadaan mabuk, itu akan sangat membuatnya ketakutan. Selena hanya tidak ingin pemandangan seperti itu akan dilihat oleh Daniel.
"Hmm, tidak Selena. Biarkan aku mengantar sampai rumahmu. Aku hanya ingin tahu saja yang mana rumahmu, lagipula aku sudah berada di sini." Ucap Daniel dengan terus mengikuti langkah kaki Selena.
Selena sontak menundukkan kepalanya, langkah kakinya yang semula berjalan, kini hanya terdiam seolah-olah kaku yang dirasakan tulang-tulang kakinya, sehingga enggan untuk kembali berjalan.
"Ada apa Selena, kenapa kau berhenti di sini?" Tanya Daniel kepada Selena yang tiba-tiba berhenti berjalan di depannya.
__ADS_1
Selena hanya berdiri dengan kakinya yang terasa kaku, hingga pria itu semakin mendekat kepadanya dan mulai mengenali siapa gadis yang berdiri di jalan itu.
"Selena.... Hah, benar kau adalah Selena, anak Ayah satu-satunya. Dari mana saja kau selama ini? Kau bahkan tidak menghiraukan telepon dari ayahmu. Kemana saja kau, haah dasar anak tidak tahu diri."
Selena hanya menunduk dan berkata dalam hatinya, "Jangan ayah.... aku takut.... jangan pukul Selena lagi." Wajah Selena pun terlihat pucat seketika melihat ayahnya yang menyambutnya dengan kata-kata kasarnya.
Kemarahan terpancar dari Ayah Selena itu. Bahkan matanya terlihat penuh amarah karena Selena tidak menjawab panggilannya dalam 2 hari ini. Ayahnya itu bahkan telah mengangkat tangan kanannya, dan bersiap menampar wajah Selena.
Melihat tangan kanan Ayah Selena yang terangkat dan hendak memukul Selena, Daniel segera menangkis tangan itu dengan tangannya.
"Stop. Hentikan Pak. Bapak tidak boleh menyakiti Selena." Ucap Daniel dengan menangkis tangan ayahnya Selena yang hampir mendarat di pipi gadis itu.
__ADS_1
"Hei, kau siapa anak muda? Berani-beraninya kau ikut campur urusanku. Aku bahkan tak mengenalmu, beraninya kau membela anak tidak tahu diri ini." Kemarahan masih menyelimuti ayahnya Selena, terlebih lagi efek minuman keras membuat ayah Selena semakin emosi hingga tidak bisa berpikir jernih.