
"Kau menghindariku, Selena?" Daniel menatap Selena dengan pandangannya yang terfokus pada wajah Selena. "Kenapa aku merasa, kau sedang menghindariku?"
Selena hanya diam, dia berusaha menetralkan suasana hatinya. Selena menghindari Daniel, bukan hanya hari ini, tetapi sejak cintanya tak terbalas, sejak Selena mengetahui bahwa Daniel adalah seorang malaikat, Selena memang memilih menjauh. Sekali pun hati dan pikirannya selalu tertuju pada Daniel, tetapi ia selalu menjauhkan keberadaannya secara fisik dari Daniel.
"Tidak." Selena menautkan kedua telapak tangannya. "Aku tidak menjauhimu."
"Jadi tadi pulang jam berapa? Naik bus seperti biasanya ya?" Daniel menanyakan karena ia memang perhatian kepada Selena.
"Jam biasanya, tadi jam 5 aku keluar dari kantor, lalu menunggu bus datang. Sekitaran jam 6 aku sudah berada di rumah." Jawab Selena tanpa sekali pun memandang Daniel.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu. Tapi, aku tak yakin ini benar apa tidak."
"Kalau kamu ragu, sebaiknya jangan, Dan." Selena mencegah Daniel untuk tidak mengatakan apa pun, karena Daniel terlihat begitu ragu.
Daniel menghela nafasnya, ia berpikir saat ini waktunya untuk memberi penjelasan kepada Selena. "Coba dengarkan aku, Selena. Tadi aku mengobrol dengan Dexter, aku mengatakan tentang masalahku, tapi aku memang tidak menceritakannya secara gamblang. Dexter mengatakan bahwa lebih baik memang berani melangkah atau tidak sama sekali. Bagaimana pun, saat aku berani melangkah atau berdiam diri pun, konsekuensinya tetap ada bukan?"
Selena mendengar setiap penjelasan Daniel, ia pun percaya bahwa berani melangkah atau berdiam diri, konsekuensinya tetap berlaku. Entah itu konsekuensi berat atau pun ringan.
"Jadi, kalau menurutku, Selena... Konsekuensi tertinggi bila kita tetap melangkah mungkin aku akan dilenyapkan. Aku ingin kau mendengarkan penjelasanku secara langsung. Aku tidak mau melangkah tanpa memberi penjelasan secara langsung dari mulutku. Dan, waktuku di sini mungkin hanya tertinggal 60-70 hari saja, karena usia itu misiku akan selesai. Jadi, bagaimana menurutmu Selena, apa kau tetap ingin aku membalas perasaanmu atau menjalani sisa hari yang aku miliki itu?" Daniel bertanya sungguh-sungguh kepada Selena. Bagi Daniel saat ini, apa yang dipilih Selena, ia akan mencoba melakukannya.
__ADS_1
Selena menyandarkan bahunya di tempat ia duduk, sesekali ia memijit pelipisnya, kepalanya mendadak terasa pening mendengar konsekuensi yang diucapkan Daniel.
"Apakah seberat itu konsekuensinya, Dan?" Tanya Selena perlahan. Jujur bagi Selena, konsekuensi itu terlampau berat.
"Iya..." Daniel menjawab dan menatap Selena. "Karena dulu ada malaikat muda yang gagal menjalankan misi, malaikat itu memang tidak dilenyapkan, tetapi ia dilemparkan dan tidak bisa kembali ke Taman itu. Malaikat muda itu hidup dalam kesesakan, tetapi dia jauh lebih beruntung karena dia tak dilenyapkan. Tetapi, mungkin di kasus kita akan berbeda. Aku hanya merasa, salah satu di antara kita akan membuat pengorbanan. Dan, biarkan saja aku yang berkorban, Selena. Karena aku mau menanggungnya." Ucap Daniel dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana bisa aku membiarkanmu untuk menanggung semuanya seorang diri, Dan? Aku tidak akan mungkin membiarkannya."
"Aku rela menanggung semuanya, Selena. Asalkan kau bahagia. Siapa tahu, Dia berkehendak lain dan suatu hari nanti aku bisa kembali mengunjungimu lagi. Bagaimana?"
"Kenapa kau mau berkorban, Dan?" Tanya Selena dengan serius.
Ya, Selena percaya bahwa dalam cinta ada pengorbanan. Namun, Selena tak akan membiarkan Daniel berkorban sendirian.
"Mengapa kau membahas pengorbanan, Dan? Padahal aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu kepadaku. Bukankah dengan jelas kau telah menolakku, perasaanku tak terbalas. Jadi lebih baik, jangan membahas pengorbanan dan kita bisa lanjutkan hidup kita seperti ini. Apakah sudah selesai, Dan? Aku boleh masuk ke kamarku?"
"Di sinilah dulu, Selena. Dengarkan aku. Aku memang tidak mengetahui apa nama dari perasaanku ini. Tetapi yang jelas, aku bahagia saat melihatmu bahagia, aku juga bersedih saat melihatmu bersedih. Kau adalah prioritas hidupku, Selena. Dan, berada dalam situasi seperti ini sangat menyiksaku."
Hati Selena mencelos seketika mendengar pengakuan Daniel. Tangannya pun menjadi dingin. Wajar saja jika Daniel tak tahu perasaan apa yang ia rasakan sekarang ini, karena dia bukan manusia yang bisa dengan mudah mengungkapkan dan mengerti perasaan yang dirasakannya. Tetapi, bukankah cinta juga perasaan yang seperti itu. Mencintai membuat kita bahagia saat orang yang kita cintai bahagia, dan kita akan menjadi orang yang paling bersedih saat melihat orang yang kita cintai bersedih. Bukankah cinta juga perasaan sesederhana itu?
__ADS_1
"Jadi, apakah kamu menyukaiku juga Dan?" Tanya Selena ragu-ragu. "Apa perasaan itu bisa disebut cinta?"
"Kurasa iya. Ini adalah cinta, Selena. Aku baru pertama kali merasakannya. Dan, tahukah kamu saat aku pergi lama darimu dulu, sepanjang hari, setiap waktu, aku selalu memikirkanmu. Tidak bisa otak ini berhenti memikirkanmu, jantung ini berdegup untuk menyebut namamu, Selena."
Selena pun meneteskan air mata mendengarkan ucapan Daniel. Buliran bening air mata membasahi wajah ayunya. Selena hanya merasa lega, karena Daniel ternyata juga mencintainya. Perasaanya terbalas, namun kini garis takdir berbeda dunia yang harus ia hadapi.
"Terima kasih untuk pernyataanmu tadi, Dan. Itu sangat berarti untukku." Ucap Selena sembari menyeka air matanya. "Juga mengetahui bahwa perasaan kita sama, sudah cukup untukku. Jangan berkorban apa-apa lagi untukku, Dan. Ini sudah cukup buatku. Sungguh."
Daniel menatap Selena dalam-dalam. Jari tangannya mengusap lembut wajah Selena. "Jangan menangis. Apa pun itu jangan menangis, karena aku selalu sedih melihatmu meneteskan air mata. Akan tetapi, biarkan aku berkorban, Selena. Aku juga akan berusaha, memohon dalam doa yang sungguh-sungguh supaya takdir kita berdua berubah. Maukah kamu menjalani sisa hari yang kumiliki bersama-sama Selena? Menikahlah denganku."
Air mata mengalir semakin jelas dari sudut mata, Selena. Ia tak menyangka bahwa Daniel akan memintanya untuk menikah dengannya.
"Tapi, ini konyol Dan... Kita tidak akan bisa melakukannya." Selena menggeleng-gelengkan kepala, apa yang diucapkan Daniel sangat tidak masuk akal.
"Aku sudah memikirkan semua ini, Selena. Walau pun kebersamaan kita tidak lama, tapi cinta kita berdua akan bertahan lama bukan? Cinta kita akan abadi bukan? Karena hubungan kita dibangun atas dasar cinta yang kuat. Cinta itulah yang akan membuang hubungan ini terkenang sepanjang waktu." Daniel mencoba meyakinkan Selena. Ia sangat percaya dengan kekuatan cinta. Kebersamaan mereka sekali pun hanya sebentar, cinta mereka akan bertahan untuk waktu yang sangat lama. Daniel mempercaya itu.
Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
__ADS_1
Dan apabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya. (Kahlil Gibran)