Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Ketulusan dalam Semangkok Mie


__ADS_3

Dua pasang langkah kaki beriringan memasuki apartemen. Hujan masih turun dengan derasnya. Hari menjelang petang, dan belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti.


Daniel dan Selena bergegas masuk ke dalam apartemen mereka. Selena terhenyak ketika mengetahui bahu sebelah kiri Daniel basah terkena air hujan.


"Hoodie yang kau yang pake basah. Segera berganti baju supaya tidak masuk angin."


"Oh, iya. Ini pasti karena hujannya yang sangat deras tadi." Sahut Daniel.


Selena usai berbicara segera masuk ke dalam kamarnya. Dia berpikir dengan serius tentang Daniel.


***


*Hari ini aku mengikuti wawancara sebagai staf akuntan di Buana Corp. Pagi ini, Daniel mengantarku ke perusahaan itu, dia juga memberiku semangat supaya aku tidak cemas dan khawatir. Dia pun berharap aku mendapat hasil yang baik.


Wawancaranya pun dapat kulalui, aku rasa aku sudah memberikan yang terbaik. Semuanya aku serahkan kepada Tuhan bagaimana pun hasilnya.


Dan, sore ini ketika aku turun dari bus kota, hujan telah turun. Aku berniat untuk lari menuju ke apartemen Daniel, tapi rupanya Pria dari Mars itu justru datang menjemputku. Dia bilang berulang kali menelpon handphoneku dan pesannya tidak kubalas, bahkan aku sama sekali tidak memegang handphone seharian ini. Daniel berkata dia mengkhawatirkanku. Apa aku tidak salah dengar? Kenapa semakin hari, rasanya pria aneh itu justru semakin baik padaku. Dan, terakhir aku melihat hoodienya basah, mungkinkah itu karena aku? Dia memberi bagian dari payungnya untukku supaya aku tidak kebasahan. Oh, betapa manisnya perlakuan Daniel.


Terima kasih Daniel, kau selalu ada untukku. Di waktu yang rasanya tidak mungkin seperti hari ini pun, kau ada di sana dengan payung merahmu untuk menjemputku.


**


Puas bermonolog dengan dirinya sendiri, Selena segera ke kamar mandi, dia berniat mandi dan keramas karena tadi kehujanan. Walaupun, tidak basah kuyup, tetapi bagaimana pun air hujan sudah berhasil menerpa wajahnya. Karena itulah, dia berniat untuk mandi supaya lebih segar.


Di kamar sebelah pun, Daniel juga mandi membersihkan dirinya dari tetesan air hujan yang juga mengenai sebagian badannya. Usai mandi, Daniel bergegas ke dapur. Ia ingin membuat semangkok mie instan untuk Selena.


Dalam mesin pencarian di handphonenya, dikatakan ketika hujan biasanya orang-orang akan memasak mie instan dan menambahkan telor. Karena itu, Daniel berpikiran untuk membuatkan mie instan untuk Selena.


Di dapur, mulailah Daniel mencari mie instan dan telor. Dia membaca terlebih dahulu cara membuat mie instan tersebut lalu mulai mempraktikkannya.


Pertama-tama Daniel mencari sebuah panci kecil, dia mengisi panci itu dengan air, lalu mulai merebus air itu hingga mendidih. Setelah mendidih, dia memasukkan mie instan ke dalamnya. Kemudian bumbunya dia pisahkan dan taruh dimangkok. Tidak lupa ia menambahkan telor dan 2 buah cabai yang sudah dia iris-iris sebelumnya. Hanya 3 menit, jadilah mie instan rasa ayam bawang dengan telor. Daniel terlihat puas dengan hasil masakannya untuk pertama kalinya itu.


"Wah, ternyata aku bisa memasak mie instan juga. Rasanya aku bisa beradaptasi dengan baik di sini. Heheheh."


Daniel terkekeh melihat seporsi mie instan hasil buatannya itu. Setelah itu, dengan hati-hati dia menaruh Semangkok mie di meja makan.


Tookkkk..... Tookkkkkk...... Tookkkkk.....


Daniel mengetuk pintu kamar Selena.

__ADS_1


"Selena.... Selena...."


Daniel memanggil Selena dengan mengetuk pintunya.


"Ya, Daniel. Sebentar."


Gadis yang berada di dalam kamar pun menyahutnya.


Tidak lama kemudian, Selena membuka pintu kamarnya dan mendapati Daniel berdiri di depan pintunya.


"Ayo, makan. Aku memasakkan sesuatu untukmu."


Selena tersenyum bahagia, setelah sarapan tadi pagi, dia belum makan sama sekali. Perutnya memang kelaparan minta untuk diisi.


"Masak apa emangnya?" Tanya Selena kepada Daniel yang masih berdiri di depannya.


"Yuk, ikut aku ke meja makan."


Keduanya pun berjalan menuju meja makan yang berada di dekat dapur.


"Duduklah."


Daniel menyuruh Selena untuk duduk, di hadapannya telah tersaji satu mangkok mie instan dengan telur di atasnya.


"Wahhh.... Kamu yang membuat ini?"


"Hmm, iya..."


"Kenapa tidak menyuruhku saja untuk membuatnya?"


Selena menatap wajah Daniel, kenapa pria itu tidak menyuruhnya saja untuk membuat mie instan itu.


"Tidak. Aku mau membuatnya sendiri. Kan, aku pernah bilang aku mau belajar di sini. So, aku belajar memasak mie instan itu setelah tadi siang aku melihat video tutorialnya."


Daniel nampak bangga karena untuk pertama kalinya dia berhasil melakukan sesuatu di dunia manusia. Setelah melihat video tutorial dan cara pembuatan, dia membuat mie itu untuk Selena.


"Tapi, kenapa hanya ada satu mangkok di sini? Kita akan berdua?" Tanya Selena kepada Daniel karena di meja makan hanya tersaji Semangkok mie.


"Iya, memang satu. Dan itu untukmu. Aku sudah makan tadi. Kamu pasti lapar, jadi makanlah."

__ADS_1


Selena berkaca-kaca mendengar jawaban Daniel, terasa ada ketulusan di dalam setiap kata-katanya.


"Boleh aku memfotonya dulu, sebelum memakannya?"


Selena ingin memfotonya terlebih dahulu, baru kali ini ada orang yang memikirkan dirinya lebih dulu, orang yang memperhatikan keberadaan orang lain. Sekaligus semangkok mie di hadapannya akan ia jadikan kenang-kenangan, bahwa ada pria yang memasakkan semangkok mie untuknya.


"Boleh." Sahut Daniel.


Usai memfotonya, Selena mulai menyantap mie instan itu. Perlahan-lahan dia menggunakan sumpit, memasukkan mie itu ke dalam mulutnya, setelahnya menyeruput kuahnya dengan menggunakan sendok.


"Hmm, ini enak, Dan. Kamu bilang baru pertama bikin mie instan, tetapi gimana bisa seenak ini sih?"


Ucap Selena sembari menyantap mie instan itu.


"Emang iya? Pedas enggak, tadi aku tambahkan dua buah cabe."


"Enggak. Menurutku ini enak. Mienya tidak lembek, kuahnya kerasa, telornya juga enak. Ini mie instan terenak yang pernah aku makan."


Selena memberikan dua jempolnya ke hadapan Daniel, tanda kalau mie instan buatan cowok itu emang enak.


Daniel hanya tertawa melihat ekspresi Selena menyantap mie instannya.


"Syukurlah kalau itu enak. Berarti aku berhasil membuat mie instan."


"Iya ini enak. Enak banget kok malahan." Sahut Selena.


"Berarti kapanpun, kamu mau mie seperti itu, panggil aku saja, Sel. Aku akan memasakkannya untukmu."


"Hmm, iya.... Tetapi kenapa kamu kepikiran membuat mie ini?" Tanya Selena kepada Daniel.


"Kemarin aku baca-baca artikel online katanya kalau hujan enaknya makan mie instan dan minum minuman hangat. Ya udah deh, karena sekarang hujan, aku memasakkan mie instan itu aja untukmu. Dan syukurlah kalau kamu menyukainya."


"Hmm, sekarang kamu udah makin pinter deh, Dan." Ucap Selena dengan tawa di sudut bibirnya.


"Haaa, maksudnya?"Daniel justru kebingungan mendengar perkataan Selena, itu pujian atau ejekan?


" Hehehe, beberapa hari lalu, kamu seperti orang aneh yang gak bisa melakukan hal-hal kecil dalam aktivitas manusia, dan sekarang kamu bisa membuat sendiri mie instan. Berarti kamu makin pinter kan?"


"Ya itu kan karena aku belajar." Daniel buru-buru menyahut ucapan Selena.

__ADS_1


"Iya, karena kamu belajar, kamu jadi makin pinter." Selena tertawa geli melihat Daniel dengan masih menyantap mie instannya.


Bagaimanapun Selena bersyukur, dalam satu mangkok mie instan itu dia merasakan ketulusan Daniel. Dia juga melihat hasil usaha Daniel. Dia bersyukur ada orang yang memikirkan orang lain terlebih dahulu, sebelum memikirkan dirinya sendiri.


__ADS_2