
Mendengar penilaian Ayahnya tentang Daniel, tentu membuat Selena bahagia. Kemungkinan besar, Ayahnya pun telah memberikan restu bagi Selena untuk menjalin hubungan yang serius dengan Daniel. Namun, masih ada satu hal yang harus Selena lakukan sekarang ini, yaitu "Menunggu!".
Orang bilang menunggu adalah sesuatu yang tidak pasti. Menunggu tidak membosankan. Akan tetapi, Selena telah menetapkan hatinya untuk menunggu Daniel. Selena percaya bahwa cepat atau lambat, Daniel akan menjelaskan semuanya kepadanya. Yang diperlukan Selena hanya kesabaran. Ya, kesabaran menunggu penjelasan Daniel.
"Aku akan menunggumu, Dan... Aku percaya kamu akan menjelaskannya semuanya kepadaku. Hatiku berkata, mungkin kamu juga memiliki sedikit perasaan kepadaku. Semoga saja itu benar."
Selena duduk di kursi sofa yang tersedia di dalam ruang perawatan Ayahnya. Membayangkan kedatangan Daniel saja sudah membuat Selena bahagia, ditambah Ayahnya yang secara terbuka mendukung Selena, tentu saja gadis itu senang bukan main.
Sepanjang hari tinggal di rumah sakit tidak membuat Selena bosan, ia justru senang karena bisa menemani Ayahnya. Hari sudah menjelang sore, dan Selena masih menemani Ayahnya di rumah sakit.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar perawatan Ayahnya Selena, seorang pria mengenakan jaket navy dan menenteng kotak bekal.
"Daniel... kamu di sini?" Mata Selena membelalak melihat kedatangan Daniel sore itu.
"Iya, karena sejak tadi kamu sama sekali tidak menghubungiku, jadi aku berpikir untuk kesini menemui kamu, Selena."
"Iya, itu karena aku masih menemani Ayah, Dan..."
"Hum, aku tahu. Tetapi, aku pun menunggu kabar darimu, Selena. Sudah sejak pagi, hingga sekarang sudah sore sama sekali tak ada kabar darimu."
"Sorry, Dan... Aku bahkan tidak memegang handphoneku sejak tadi."
"Iya, gak apa-apa Selena. Aku jadi tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa ada kabarnya sama sekali."
Selena pun tersenyum melihat Daniel. Baru seharian Selena tidak menghubunginya saja, Daniel sudah menyusulnya, bagaimana dengan Selena yang ditinggal Daniel begitu saja tanpa ada kabar sama sekali.
"Sekarang kamu tahu kan bagaimana rasanya kita pergi tanpa memberi kabar sama sekali? Itulah yang dulu aku rasakan, Dan... Aku kira kamu memang sudah melupakanmu." Ucap Selena masih dengan tersenyum melihat Daniel.
"Hmm, baiklah. Maafkan aku Selena. Aku ingin mengabari kamu, tetap tempat yang aku kunjungi memang di tidak koneksi di sana. Jadi, maafkan aku."
"Gak apa-apa, Dan. Lupakanlah yang lalu."
"Terima kasih, Selena. Ayo, makan dulu. Aku sudah membawakan kotak bekal untukmu. Kamu pasti belum makan kan?" Daniel tersenyum dengan mengangkat satu kotak bekal di tangannya.
"Aku memang belum makan, Dan... Dari mana kamu bisa tahu kalau aku belum makan?"
"Apa pun tentangmu, aku tahu itu. Sekarang makanlah terlebih dulu."
"Baiklah... Terima kasih, Dan."
Selena pun menerima kotak bekal yang dibawakan Daniel, ia membuka tutup kotak bekal itu perlahan. Ayam goreng mentega dan sayur orak-arik lah yang berada di dalam kotak bekal berwarna merah muda itu.
__ADS_1
"Hmm, aromanya harum... Kamu yang memasaknya, Dan?"
"Tentu aku yang memasaknya, Selena. Memangnya siapa lagi yang akan memasak untukmu kalau bukan aku."
"Terima kasih, Dan... Masakanmu pasti enak."
"Habiskan Selena, aku sangat senang bisa kembali memasak setelah sekian lama."
Selena mulai menyantap makanan yang dibawakan Daniel di dalam kotak bekal itu. Satu suap demi satu suap masuk ke dalam mulutnya, hingga nasi dan lauknya telah habis, tanda, tanpa sisa. Puas menghabiskan makanannya, Selena pun lantas menenggak air putih.
"Benar-benar enak makanannya, Dan... Terima kasih."
"Kau memakannya dengan lahap sekali, Selena."
"Eh, maaf... Itu juga karena aku seharian juga belum makan. Sehingga aku menghabiskannya tanpa sisa." Selena justru cengar-cengir usai menghabiskan makanannya, ia sangat malu karena sejak tadi Daniel selalu mengamatinya saat ia sedang makan.
"Mau jalan-jalan ke taman sebentar?" Ajak Daniel.
"Iya, boleh..."
Daniel dan Selena pun berjalan-jalan di taman area rumah sakit, selain mencari udara segar, tentu supaya meringankan perut Selena yang penuh karena habis makan.
"Anginnya segar bukan?" Tanya Daniel sembari berjalan menuju area taman.
"Iya, cukup segar."
"Sudah kenyang?"
"Sangat kenyang."
Baru keduanya asyik berbincang-bincang satu sama lain, terdapat panggilan ke handphone Selena.
Dexter Calling
"Maaf Daniel, aku menerima panggilan telephon dulu, Pak Dexter menelpon."
Daniel tersenyum sembari mengangguk, mempersilakan Selena untuk menerima telepon.
[Halo, Selamat sore Pak Dexter...]
[Halo, Selena... Bagaimana kabar Ayahmu?]
__ADS_1
[Sudah semakin membaik, Pak. Namun, keliatannya esok saya masih meminta izin Pak. Mohon maaf, karena saya masih harus menemani Ayah saya, Pak.]
[Oke, kamu masih bisa izin, tetapi bisakah untuk beberapa laporan yang mendesak kamu kerjakan dari situ?]
[Oh, iya. Bisa Pak. Saya akan kerjakan.]
[Ayahmu dirawat di rumah sakit mana, Selena?]
[Di rumah sakit Karya Medika, Pak.]
[Oke, baiklah. Semoga Ayahmu segera sembuh dan kamu bisa kembali lagi bekerja.]
[Baik Pak. Terima kasih.]
Selena kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. Ia berjalan menghampiri Daniel yang tengah duduk di bangku yang tersedia di taman itu.
"Sedang apa, Dan?" Sapa Selena sembari ikut duduk di sisi Daniel. "Langitnya indah bukan?"
"Benar, langit sore ini sangat indah. Langit biru membentang luas. Sudah menelponnya? Dari Pak Dexter?"
"Iya, dari Pak Dexter. Dia menanyakan keadaan Ayah dan kapan aku akan kembali bekerja. Aku juga diminta untuk mengerjakan laporan yang penting dari sini. Aku tahu, memang ada beberapa laporan yang harus segera kuselesaikan."
"Lalu?"
"Aku masih meminta izin untuk besok, Dan. Ayah masih harus dirawat. Kemungkinan kalau kondisinya sudah stabil, besok siang atau sore Ayah sudah boleh pulang. Namun, setelah itu Ayah tetap tidak boleh meminum minuman keras lagi, karena hatinya sudah rusak. Tidak mampu lagi menyerap racun yang dibawa dari setiap tetes alkohol yang Ayah minum selama ini."
"Semoga Ayah bisa meninggalkan alkohol, dan hidup sehat." Daniel pun berucap dengan sungguh-sungguh, ia juga ingin Ayah Selena bisa meninggalkan kebiasaan buruknya di masa lalu.
"Iya, semoga Dan..."
Keduanya berbicara sembari memandang langit biru yang indah. Angin sepoi-sepoi membelai lembut keduanya. Saat keduanya tengah berbicara justru, senyum tak pernah pudar dari wajah keduanya. Diam-diam Selena sungguh berharap bahwa Daniel akan segera menjelaskan semua kepadanya. Ia sudah menetapkan hatinya untuk menunggu Daniel. Dalam masa waktu yang tidak pasti, tetapi Selena berani mengambil keputusan untuk menunggu. Semoga asanya tercapai, dan penjelasan yang Daniel sampaikan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Semoga.
***
Dear All,
Mampir ke karya teman aku ya..
Simfoni Temaram Takdir karya Tita Dewahasta
__ADS_1