
Hari telah berganti hari, namun waktu seolah-olah berjalan di tempat bagi Selena. Gadis bersenyum indah itu, mulai merasa kesedihan tak bertepi dalam hidupnya. Memang, ia masih berada di sisi Daniel, tetapi sukar rasanya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Terlalu banyak berpikir membuat Selena kehilangan beberapa berat badannya. Senyuman di wajah gadis itu juga mulai memudar, tetapi ia selalu bersikap dirinya baik-baik saja ketika bersama Daniel. Semua kesedihan dan pikiran yang terus mengganggunya, ia simpan sendiri. Sama sekali ia tak ingin membaginya dengan Daniel.
Daniel bukannya tak mengetahui, tetapi ia hanya ingin memberi Selena waktu untuk bisa menerima semuanya dan memahami bahwa keduanya tak mungkin bersatu. Daniel pun menyadari sorot mata Selena yang sayu dan senyumannya yang memudar, akan tetapi saat ini Daniel pun tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menemani Selena, berdiri di sampingnya, tanpa bisa melakukan hal yang lain.
Malam itu seusai Selena pulang dari bekerja, keduanya tengah duduk bersama di ruang keluarga dengan televisi yang menyala.
"Sedang nonton apa? Bolehkah bergabung?" Tanya Daniel yang menghampiri Selena dan mengambil jarak untuk duduk di sisi Selena.
"Hmm, iya... Gabung saja." Selena sembari sedikit menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu berdekatan dengan Daniel.
"Jadi, sedang nonton apa?" Kembali Daniel bertanya, sembari menolehkan sedikit lehernya untuk bisa melihat Selena.
"Lihat drama aja ini. Atau kamu mau lihat yang lain? Ganti aja." Sembari tangannya memberikan remote televisi kepada Daniel.
"Tidak, aku bisa nonton apa saja kok. Lihat ini juga aku gak masalah. Aku kan gak terbiasa nonton juga."
__ADS_1
Sungguh, baik Daniel dan Selena kini sama-sama canggung. Terlebih saat Selena mengetahui bahwa pria aneh yang selama ini ia cintai adalah seorang malaikat. Ada rasa kebimbangan, kecanggungan, dan juga penasaran yang berkecamuk menjadi satu.
"Kau baik-baik saja Selena?" Kali ini Daniel menatap wajah Selena dengan serius. Daniel hanya ingin memastikan bahwa Selena dalam keadaan baik-baik saja, sekalipun ia sendiri juga tak bisa menjaminnya.
Selena sejenak menghela nafasnya, "Iya, aku baik-baik saja. Apakah aku terlihat sedang tidak baik sekarang ini?" Selena kembali bertanya kepada Daniel.
"Entahlah, aku hanya merasa kamu sedang tidak baik-baik saja. Apakah itu hanya perasaanku saja atau itu kenyataannya saat ini?" Daniel mencoba menghela nafasnya, "Jangan menyembunyikan apa pun dariku, Selena. Walau pun aku tidak tahu, aku bisa merasakannya. Karena aku ada di sini untukmu. Hanya untukmu."
"Tidak, aku baik-baik saja saat ini." Sebisa mungkin Selena menyembunyikan semua perasaannya dari Daniel. Ia tidak ingin apabila, Daniel membantunya hingga memberikan perhatian lebih padanya. Karena semua itu, justru sangat memberatkannya. "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku baik-baik saja? Mengapa kau tidak percaya kepadaku, Dan? Lagipula sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita kan? Semuanya sudah jelas bukan?" Kembali Selena menegaskan memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara keduanya. Cinta beda dunia yang tak berujung ini, hanya bisa dibiarkan begitu saja. Konsekuensi yang akan diterima pun terlalu menyakitkan. Selena teringat ucapan Dexter bahwa melawan hukum alam yang sifatnya mutlak adalah sia-sia. Ya, seperti usaha menjaring angin.
"Baiklah kalau kamu memang baik-baik saja, apa pun yang kamu rasakan tolong bagilah denganku. Aku akan dengan sukarela memberikan telingaku untuk mendengarkan semua ceritamu, Selena. Kamu tahu kan, aku selalu ada untukmu." Ucap Daniel dengan sungguh-sungguh. "Jangan pernah menyimpan apa pun yang justru akan menyulitkan dan memberatkan dirimu sendiri. Ingatlah selalu, ada aku yang selalu berada di sisimu."
Sejenak Selena menatap wajah Daniel. Ya, dia menyadari tidak ada orang yang sebaik Daniel, bahkan satu-satunya orang yang tulus padanya hanya Daniel. Tetapi, keduanya adalah makhluk yang tidak bisa bersama. Dunia mereka berbeda, natur mereka berbeda.
Selena berkelana dalam pikirannya yang kian berkecamuk.
Harus kunamai apa hubungan ini? Aku berbeda dengannya. Dunia kami berbeda. Pada, kenyataannya tidak ada harapan dalam hubungan ini. Cinta ini benar-benar tanpa nama, hubungan ini pun aku tak tahu harus menyebutnya apa. Jika semua Cinta di dunia memiliki nama dan warna, cintaku tak demikian. Karena cinta dan perasaanku tanpa nama.
__ADS_1
"Kenapa melamun Selena?" Pertanyaan dari Daniel menyadarkan Selena dari pikirannya sendiri.
"Ah, tidak apa-apa. Aku rasa, aku harus masuk ke kamar, Dan. Aku harus istirahat, dan besok kembali bekerja. Selamat malam, Dan." Ucap Selena sembari ia berdiri meninggalkan Daniel sendirian di ruang itu. Masuk ke dalam kamar adalah upaya Selena untuk menghindari Daniel.
Daniel memandangi punggung Selena yang semakin berlalu pergi. Pria itu mengusap rambutnya, sungguh ia pun tak pernah mengira akan terjebak dalam keadaan seperti ini.
Jauh di dalam lubuk hatinya pun, Daniel sedikit menyesali fakta bahwa dia adalah seorang malaikat, dan Selena mengetahui kebenaran itu. Andai Selena tidak mengetahuinya, pasti gadis itu masih bersikap sewajarnya dengannya. Namun, rahasia yang disembunyikan, lama-kelamaan akan terbongkar juga. Hanya waktu yang bisa menjawab kapan waktu itu mengungkap rahasia itu.
Tidak hanya Selena yang gusar, Daniel pun gusar, tapi kali ini ia tidak bisa berbuat banyak. Bisa melihat Selena setiap hari saja, sudah merupakan anugerah yang luar biasa untuknya. Daniel pun hanya berusaha bertahan dalam situasi yang penuh dengan kecanggungan ini.
Daniel pun tidak mengetahui bagaimana perasaannya kepada Selena, ia hanya tidak ingin Selena terluka, ia tidak ingin Selena bersedih, dan ia selalu mengharapkan bahwa Selena akan selalu bahagia dengan atau tanpa dirinya. Itulah harapan Daniel.
Bagaimana aku bisa mengembalikan senyuman di wajahmu, Selena? Bagaimana caranya agar kau mau berbagi lagi denganku? Jujur, aku pun tidak menyukai situasi ini. Mungkinkah senyuman cerah di wajahmu itu kembali? Aku ingin memastikan kau bahagia sebelum akhirnya aku benar-benar pergi dari sini dan meninggalkanmu sendiri. Aku tidak ingin meninggalkanmu dalam duka dan kesedihan yang berkepanjangan. Waktu yang kumiliki kurang dari 100 hari, Selena.
Daniel berkata dalam hatinya, ia sungguh-sungguh gusar. Waktunya yang tidak lama lagi membuatnya semakin merasa tekanan yang berat.
Sementara itu, di dalam kamarnya Selena mencoba memejamkan matanya. Hasrat hati ingin tidur, tetapi matanya tak bisa terpejam. Semakin ia mencoba tidur, kepalanya justru semakin pening.
__ADS_1