
Selena mengamati-amati setiap sudut ruangan apartemen Daniel yang didominasi warna cokelat latte itu. Matanya benar-benar takjub melihat apartemen Daniel. Dirinya merasa seperti orang kampung yang terpana melihat keindahan di depannya.
Dalam hatinya, Selena berkata. "Ruangan ini memang sepadan dengan Daniel. Wajahnya yang tampan, penampilannya yang sudah seperti artis ibu kota sangat cocok dengan ruangan apartemen ini. Lagipula wajah setampan itu tidak mungkin juga tinggal di perumahan kumuh atau perumahan pada umumnya. Ah, sejak kapan sih aku selalu berkata dalam hatiku kalau Daniel itu tampan. Husshhh, sadarlah Selena. Bagaimana pun kamu belum mengenal Daniel." Kali ini justru Selena merutuki dirinya sendiri karena ia memuja wajah tampan Daniel dalam hatinya.
"Selena, kemarilah." Panggil Daniel kepada gadis yang masih berdiri mematung di depan pintu itu.
"Hmm, iya." Selena pun kembali mendekat kepada Daniel.
"Di apartemen ini ada dua kamar tidur, kamu pilihlah salah satu untukmu."
"Saa.... saya yang memilih?"
"Iya, pilihlah."
"Bukannya Anda sudah menempati kamar tidur Anda sebelumnya? Aku bisa memakai kamar mana saja."
"Tidak. Baru sekali ini juga aku ke sini."
"Haaa....??" Dengan tatapan mata seolah tak percaya.
"Karena itu pilihlah kamarmu Selena, aku akan memakai kamar yang tidak kau pilih. Aku tidak masalah memakai kamar yang mana saja."
"Bukankah ini apartemen Anda? Kenapa Anda tidak menempati kamar tidur Anda? Anda yakin baru menempati apartemen ini sekarang ini?"
"Iya." Jawab Daniel enteng.
"Bagaimana mungkin, apa sebelumnya Anda dari luar negeri?" Tanya Selena dengan wajah tercengang menatap Daniel.
"Hmm, seperti itulah. Baru tiga hari aku di kota ini." Sahut Daniel dengan entengnya.
__ADS_1
"Apa tiga hari? Dan tiga hari itu untuk menungguiku di rumah sakit? Jadi selama tiga hari Anda tidak pulang ke apartemen Anda ini?"
"Iya. Lagi pula bagaimana aku bisa pulang, sementara kamu tak sadarkan diri di rumah sakit, tanpa ada seorang pun yang menjagamu."
Selena tersentuh dengan ucapan Daniel, pria itu mungkin baru saja pulang dari luar negeri dan langsung menolongnya. Bahkan pria itu jugalah yang menungguinya selama tiga hari selama ia terbaring di rumah sakit, dan sekarang ia jugalah yang menolongnya saat ini. Mungkinkah pria yang menolongnya ini adalah manusia, atau dia adalah malaikat dengan Tuhan kirimkan untuknya? Lagipula bagaimana mungkin ada seseorang yang mau menolong orang lain yang baru di kenalnya.
"Daniel benar-benar malaikat." Selena berbicara dengan dirinya sendiri. Ia memikirkan mungkin Daniel adalah malaikat yang turun ke bumi.
Selena hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Boleh saya lihat kamar tidurnya?" Tanya Selena kepada Daniel.
"Silakan. Masuklah, lihat saja."
Selena lalu memasuki kamar tidur yang dekat dengan area balkon. Ia menatap ruangan berwarna biru itu, terdapat tempat tidur berukuran besar di sana, lemari yang terbuat dari kayu yang menjulang tinggi, dan kamar mandi di dalam kamar itu. Ia mencoba membuka lemari itu, tangannya perlahan menggeser daun pintu lemari itu dan terdapat banyak pakaian pria di dalamnya. Dalam hatinya ia berkata, pasti ini kamar tidur Daniel.
"Oh, benarkah?" Jawab Daniel singkat.
"Iya lihatlah, bukankah ini barang-barang Anda?" Tanya Selena sembari menunjukkan pakaian di lemarinya dan beberapa jam tangan berada di laci lemari itu.
"Lalu, kamar tidur itu?" Tanya Daniel sembari menunjuk satu kamar di dekat dapur.
"Iya, saya akan memakai kamar itu." Ucap Selena dan mulai meninggalkan dirinya dari kamar tidur Daniel itu.
Daniel tidak berdiam di kamarnya, tapi ia membuntuti Selena. Ia hanya ingin tahu bagaimana suasana kamar tidur yang akan ditempati Selena.
"Anda mengikutiku?" Tanya Selena kepada Daniel yang sedang berjalan di belakangnya.
"Iya, aku cuma ingin tahu kamar tidurmu." Sahut Daniel.
__ADS_1
Sampailah Selena di depan pintu kamar tidur yang akan ia tempati, ia terlebih dahulu meminta izin kepada Daniel untuk membuka kamar itu. Dengan senang hati, Daniel mengizinkannya, karena Daniel adalah malaikat yang baik, jadi ia tentu mengizinkan Selena. ☺
Lalu, Selena membuka pintu kamar itu. Pandangannya melihat sekeliling kamar dengan cat berwarna cokelat latte itu. Terdapat tempat tidur yang besar, meja rias, lemari kayu yang berwarna putih, kamar mandi dalam, dan jendela kecil yang mengarah langsung ke jalan. Selena benar-benar takjub. Kamar ini saja melebihi kamarnya di rumah. Semua barang-barangnya terlihat masih baru, desain minimalis membuat kamar itu terasa indah dan nyaman. Selena bahagia dengan suasana kamar yang akan ia tempati itu, tapi ia juga sedih karena teringat kamarnya di rumahnya sendiri. Tak terasa air mata menetes begitu saja di sudut matanya.
"Masuklah Selena, kau hanya akan berdiri di depan pintu ini saja?" Perkataan Daniel membuat Selena terhenyak dari pikirannya dan kesedihannya karena teringat dengan rumahnya.
"Ah, iya." Sahut Selena.
"Kau senang dengan kamar ini?"
"Iya, ini sangat bagus."
"Kalau kamu tidak suka, kamu bisa menempati kamarku dan aku memakai kamar ini."
"Tidak. Tidak, saya memakai kamar yang ini saja."
"Sungguh?"
"Iya. Terima kasih karena sudah banyak menolong saya." Selena benar-benar menyatakan rasa terima kasihnya dengan tulus kepada Daniel.
"Iya, tak masalah. Aku justru senang bisa membantumu. Oke Selena, istirahatlah. Lagipula kamu masih sakit. Jangan segan-segan mencariku bila kamu membutuhkan sesuatu."
Daniel lalu keluar dari kamar tidur itu dan memberikan Selena waktu untuk beristirahat. Dia tahu betul bahwa gadis itu masih dalam proses pemulihan, dan ia banyak menangis setelah pulang ke rumahnya. Membiarkan dia beristirahat adalah keputusan yang tepat.
Selena mendudukkan dirinya di tempat tidur di kamarnya itu. Tangannya mengelus-elus sprei berwarna putih yang lembut itu. Lalu, ia bangkit dan menaruh pakaiannya di dalam lemari. Menaruh sedikit make up nya di meja rias. Membuka tirai jendelanya yang menghadap langsung ke jalan.
Dalam lamunannya Selena berucap, "Betapa bersyukurnya aku hari ini. Gadis seperti ini dapat merasakan keadaan seperti ini. Hal yang tak pernah kurasakan seumur hidupku. Ayah, semoga ayah sehat di rumah. Aku akan sering-sering mengunjungi ayah. Saat aku di sini, semoga ayah merindukanku dan ayah bisa berubah menjadi ayah yang baik, dan meninggalkan minuman keras. Dari jauh, aku tetap menyanyangimu, Ayah."
Puas memandangi pemandangan dari jendela kamarnya, Selena merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia merasa lelah dan matanya terasa sangat sembab karena kebanyakan menangis. Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk istirahat sejenak.
__ADS_1