Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Rasa itu Masih Ada


__ADS_3

Setelah hampir tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Ayah Selena diperbolehkan pulang. Tentu saja, Dokter tetap memperingatkan kepada Ayah Selena untuk berhenti meminum minuman keras, tidak mengonsumsi minuman yang asam, dan menjalani pola hidup sehat.


Sore ini, Selena mengantar Ayahnya pulang ke rumah, tentunya masih dengan Daniel yang selalu menolong Selena. Walau pun Selena berusaha menjaga jarak, nyatanya Daniel tetap membuktikan janjinya untuk selalu berada di samping Selena.


Mobil yang dikendarai Daniel melaju dengan kecepatan sedang, sementara Selena dan Ayahnya duduk di kursi belakang.


Kurang lebih hampir setengah jam, mereka telah sampai ke rumah Ayah Selena.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah itu, dan duduk di ruang tamu.


"Ayah, apa Ayah yakin bisa hidup sendiri di sini? Ayah yakin tidak perlu ditemani Selena?" Tanya Selena sembari menatap bola mata Ayahnya.


"Iya, Ayah bisa... Kamu jangan mengkhawatirkan Ayah, Nak. Hiduplah bahagia." Ucap Ayahnya dengan raut wajah sendu.


"Tapi ingat janji Ayah kepada Selena untuk tidak meminum alkohol lagi ya Ayah. Kalau Ayah melanggarnya, Selena akan benar-benar marah sama Ayah."


"Iya, Ayah janji. Kejadian saat Ayah sampai muntah darah sudah menjadi pembelajaran buat Ayah. Selena juga janji ya, kalau libur kerja sering-sering main ke sini. Jenguk Ayah ya, Selena..."


"Iya Ayah. Selena janji akan sering menjenguk Ayah. "


"Daniel, Ayah titip anak Ayah ya... Juga jangan berbuat di luar batas, bagaimana pun kalian harus bisa menjaga diri." Kali ini sorot mata Ayahnya tertuju jelas kepada Daniel.


"Iya Ayah... Daniel berjanji."


"Baiklah, segeralah pulang. Hari semakin malam, kalian juga perlu istirahat."

__ADS_1


"Ya Ayah, kami pulang ya Ayah. Jaga diri Ayah baik-baik, bila ada apa-apa segera hubungi Selena ya Ayah."


Akhirnya Selena dan Daniel pun berpamitan, keduanya lantas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Ayah Selena.


Baru saja mobil itu berjalan meninggalkan rumah Selena, tetapi buliran bening air mata tiba-tiba membasahi pipi Selena. Sungguh, Selena membayangkan Bagaimana Ayahnya hidup seorang diri, tanpa dirinya. Sementara di satu sisi, Selena pun ingin berada di sisi Daniel.


"Kau sedang menangis Selena, kenapa?" Tanya Daniel dengan suaranya yang begitu lembut di telinga Selena.


"Ah, tidak. Aku hanya sedikit memikirkan Ayah saja. Aku berharap Ayah sehat, bisa menjaga diri dengan baik di rumah." Ucap Selena sembari menganggukkan kepalanya.


"Jangan terlalu memikirkan Ayah hingga kamu sedih, nanti kalau kamu libur kita sering-sering ke sini ya..."


"Hem, iya. Makasih ya Daniel..."


Hanya sedikit perkataan Daniel nyatanya dapat menenangkan Selena. Gadis yang masih menangis itu pun, mulai berusaha menenangkan dirinya dengan menghirup oksigen perlahan dan mengeluarkannya perlahan, menenangkan hatinya bahwa Ayahnya akan baik-baik saja berada di dalam rumah.


"Tidak, kita pulang saja. Sudah malam, lagipula esok pagi aku harus kembali masuk ke kantor. Sudah lama aku izin, dan esok aku harus kembali bekerja."


"Baiklah." Daniel pun melajukan mobilnya sedikit lebih cepat menuju ke apartemennya. Lebih cepat sampai di apartemen lebih baik, sehingga Selena bisa lebih cepat beristirahat.


Akhirnya Selena dan Daniel telah kembali tiba ke apartemen. Sesampainya di apartemen Selena langsung masuk ke dalam kamarnya, ia ingin beristirahat lebih cepat karena esok ia akan kembali bekerja.


***


Keesokan harinya, Selena telah berada di dalam kantor perusahaannya. Ia memilih datang lebih pagi, karena beberapa hari ia tidak masuk kerja. Beberapa laporan pun, harus ia cek terlebih dahulu sebelum akhirnya dicek final oleh Dexter.

__ADS_1


Sejak pagi, Selena berkutat dengan komputer dan berbagai file di meja kerjanya. Mengerjakan berbagai tugas yang tertunda memang sudah menjadi prioritas Selena saat ini karena beberapa hari dirinya memang tidak masuk kerja. Sudah menjadi kewajibannya untuk menyelesaikan semuanya, bahkan sekali pun ia harus lembur.


Tidak berselang lama, Dexter rupanya juga tiba lebih awal di kantor. Mungkin karena Selena tidak masuk beberapa hari, beban pekerjaannya semakin banyak, jadi Dexter memang memilih berangkat lebih pagi. Menyadari kehadiran kembali di meja kerjanya, membuat Dexter mengutas sedikit senyuman di wajahnya.


"Pagi Selena..." Sapanya sembari berhenti sejenak di depan meja Selena.


"Pagi Pak Dexter..." Balas Selena sembari berdiri dari kursinya.


"Sudah masuk ya setelah libur tiga hari. Bagaimana kondisi Ayahmu sekarang?" Tanya Dexter kepada Selena.


"Kemarin sore sudah boleh pulang Pak. Sudah sehat kok Pak. Makasih ya Pak untuk izin yang diberikan." Kali ini Selena nampak bersungguh-sungguh mengucapkan terima kasih kepada Dexter. Izin yang diberikan Dexter membuat Selena bisa merawat Ayahnya dan sedikit lebih dekat dengan Ayahnya juga. Tanpa izin yang diberikan Dexter, sangat mustahil ia bisa merawat Ayahnya dan memperbaiki hubungannya dengan Ayahnya.


"Iya sama-sama. Kalau membutuhkan bantuan jangan sungkan-sungkan Selena, kan saya sudah bilang di luar perusahaan ini, anggap saya sebagai temannya. Kita bisa berteman dan saling membantu bukan. Aku akan senang bila kamu juga memperlakukan aku sebagai teman." Ucap Dexter. "Oh, iya. Karena kamu sudah masuk, nanti siang kita makan siang bersama ya Selena ada beberapa hal perlu saya bicarakan dengan kamu." Tambah Dexter.


Merasa tidak enak untuk menolak apalagi setelah mendapatkan izin sekian hari darinya.


"Baik Pak Dexter."


Usai berbicara dengan Selena, Dexter pun segera masuk ke dalam ruangannya. Dari tempat duduknya ia bisa melihat tempat yang selama beberapa hari kosong, telah kembali terisi lantaran Selena telah kembali masuk bekerja. Pemandangan yang selalu Dexter amati dari jauh.


Sekalipun hubungan keduanya hanya hubungan profesional semata, tetapi melihat Selena rasanya jantung Dexter kembali berdetak. Kerinduannya kepada kekasihnya yang telah tiada sedikit terobat ketika ia melihat Selena walau pun dari jauh.


Ya, Rebecca Louissa. Gadis yang dulu dicintai Dexter bahkan hingga saat ini masih dicintainya akan selalu menempati sisi terindah dalam hatinya. Sekian tahun berlalu, tetapi perasaan Dexter untuk gadis bermata indah itu masih ada. Perasaan tidak hilang sekalipun gadisnya telah tiada.


Melihat Selena dari jauh, sedikit membuka kembali memori Dexter bersama Rebecca. Dexter sadar sepenuhnya bahwa keduanya adalah gadis yang berbeda, namun wajahnya yang mirip membuat Dexter seolah-olah tengah menatap Rebecca saat ini.

__ADS_1


Andai kau masih ada di sini, Rebecca. Kau tentu pasti akan bahagia bukan? Aku pun juga bahagia. Sekian lama waktu berlalu, tetapi rasa itu masih ada. Cinta di hatiku masih ada dan selalu ada untukmu.


Gumam Dexter sembari tatapan matanya memandang Selena dari jauh.


__ADS_2