Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Selena Sadarkan Diri


__ADS_3

Malam menjelang dini hari, gadis itu mengigau dalam keadannya yang masih tidak sadar.


"Saa.... sakit Ayah. Jangan pukul Selena lagi. Saaakkkiitt." Igauan disertai isakan tangis dari gadis itu.


Daniel lalu menggenggam tangan gadis itu, dan ia berkata.


"Tenang Selena, mungkin kau sedang bermimpi buruk. Tenang, karena sekarang kamu aman Selena ada aku di sini. Tidur dan segeralah sadar, aku akan menjagamu Selena. Malaikat penjagamu ada di sini. Tuhan, Sang Pencipta berbaik hati kepadamu. Doanya yang tulus telah didengar oleh-Nya. Maka dari itu, segeralah sadar Selena. Kau harus segera pulih." Ucap Daniel dengan menggenggam tangan Selena.


Malam telah berlalu, dan matahari kembali menyapa menandakan hari sudah pagi. Daniel yang tidak tidur semalaman masih menggenggam tangan gadis itu. Dan, setelah Daniel menggenggam tangan itu, gadis itu tidak mengigau lagi.


Daniel kemudian masuk ke dalam kamar mandi, untuk mencuci wajahnya terlebih dulu. Lalu, ia kembali duduk di sisi brankar Selena.


Gadis yang tidak sadarkan diri itu, mulai menggerak-gerakkan tangannya dan kakinya, kini matanya pun mulai terbuka perlahan. Hanya langit-langit berwarna putih yang ia lihat dengan pandangan matanya yang masih kabur, dan hidungnya mencium seperti bau obat-obatan. Matanya memutar ke kanan dan kiri, hingga ia akhirnya melihat Daniel yang duduk di sisi kanannya. Lidahnya yang masih kelu mulai membuka suara.


"Di... Di mana saya? Anda siapa?" Tanya Selena dengan suara lirihnya.

__ADS_1


"Tenang Selena, kamu sedang di rumah sakit."


"Rumah sakit? kenapa saya di sini?"


"Semalam kamu mengalami kecelakaan Selena, badanmu penuh luka, jadi saya membawamu ke rumah sakit untuk dirawat."


"Karena kamu sudah sadar, saya akan panggilkan perawat untuk memeriksa kondisimu lagi." Ucap Daniel lagi dan berlalu dari ruang perawatan untuk mencari perawat, Daniel tidak tahu bahwa di dalam ruangan terdapat tombol yang bisa digunakan untuk memanggil perawat. Tapi ia segera berlari untuk menemukan perawat atau pun Dokter yang bisa segera memeriksa keadaan Selena.


Setelah sekian menit, Daniel masuk kembali ke dalam ruangan perawatan Selena bersama dengan seorang Dokter dan dua orang perawat.


Daniel berdiri di depan pintu, hatinya terasa sedikit lebih lega karena Selena akhirnya telah sadar. Perkataannya Tuannya semalam benar, bahwa pagi ini Selena sudah sadar. Dan, ia pun berharap hasil pemeriksaannya baik, sehingga Selena dapat pulih dan sehat kembali.


Pemeriksaan pun selesai, lalu Daniel diperbolehkan untuk masuk.


"Bagaimana kondisinya Dokter?" Tanya Daniel kepada Dokter yang usai memeriksa Selena.

__ADS_1


"Kondisinya sudah baik. Pasien hanya masih mengalami gejala anemia, tapi nanti saya bisa meresepkan obat untuknya."


Daniel teringat dengan luka lebam yang masih terlihat di wajah ayu Selena itu.


"Dokter, bisakah resepkan pula obat atau pun salep untuk luka lebam di wajahnya itu. Semalam saya sudah bertanya kepada perawat bila ada salep untuk luka lebam di wajahnya itu."


"Oh, iya benar. Memang ada salep yang bisa digunakan sebagai obat luar untuk luka lebam. Baik akan saya resepkan juga."


Setelah itu, Dokter itu melihat kepada Selena dan berpesan kepadanya.


"Perawat akan mengantar sarapan tidak lama lagi, makan dan istirahat yang cukup ya Nona Selena. Siang nanti, saya kembali lagi untuk memeriksa kondisi Anda. Bila kondisinya sudah baik, besok siang Nona Selena sudah bisa pulang ke rumah. Tinggal minum obat rutin saja, sampai sembuh." Ucap Dokter itu kepada Selena


Selena yang terbaring di brankar dengan posisi sedikit duduk itu hanya berucap.


"Ya Dokter. Terima kasih." Jawabnya singkat dan suaranya masih terdengar lirih.

__ADS_1


__ADS_2