
Hujan menjadi fenomena alam yang berdampingan erat dengan manusia. Hujan yang tenang memberi kesejukan, memberi kehidupan untuk berbagai makhluk di bumi. Menghanyutkan sampah-sampah, membersihkan udara dari banyaknya debu halus. Akan tetapi, hujan yang deras dan tanpa henti bisa menjadi bencana bagi manusia. Banjir, tanah longsor, dan beberapa kerusakan bisa terjadi karena kekuatan air.
Selena melayangkan pandangannya ke arah jendela yang basah terkena rintik-rintik hujan.
Dan hidupku akhir-akhir ini selalu bersahabat dengan hujan. Alam memang mengirimkannya atau Tuhan yang menjatuhkan air dari langit itu. Beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, air ini turun di saat yang tepat. Jika hujan diartikan dengan kesedihan, aku setuju. Faktanya saat ini aku memang sedang sedih. Jika hujan diartikan dengan ketenangan, aku pun setuju, karena saat hujan turun hatiku seperti tanah kering yang haus guyuran air hujan. Jika hujan diartikan dengan tangisan, aku juga setuju, karena beberapa kali hujan turun di saat hatiku menangis sekalipun air mata itu tidak menetes dari mataku.
Hujan....
Ya, agaknya aku akan bersahabat denganmu. Terima kasih telah menyapamu dengan caramu yang membasahi hatiku yang rapuh, dengan hembusan angin yang semilir yang menyejukkan jiwaku. Dengan setiap tetesan air yang turun yang membawa ke dalam mata air kesejukan yang tiada akhir. Terima kasih hujan sudah menyapa. Terima kasih hujan telah menyapaku. Terima kasih hujan telah memelukku dengan caramu.
Selena pun akhirnya tersadar saat bus yang ditumpanginya telah tiba di halte pemberitaannya. Selena segera melangkahkan kakinya keluar dari bus. Matanya mengamati tetesan air yang turun, tangannya mengeratkan tas di pundaknya. Gadis itu tertunduk sejenak, dan ia melayangkan matanya perlahan. Pandangan matanya bertemu dengan seorang pria yang tidak asing baginya. Pria tampan yang mencolok dengan sebuah payung berwarna merah berjalan ke arahnya.
"Aku menjemputmu Selena. Aku senang akhirnya kamu pulang." Sapa Daniel kepada Selena, payung besar berwarna merah nan mencolok itu kini telah melindungi keduanya dari gerimis kecil yang terus menetes.
"Kenapa kamu bisa ada di sini Dan?"
"Aku berpikir bahwa kamu akan naek bus seperti waktu dulu. Aku melihat dari balkon, ternyata gerimis. Aku ingin menjemputmu. Dan, bersyukur aku menemukanmu di sini. Aku mengirimkan banyak pesan, tapi tidak ada yang berbalas. Aku mengkhawatirkan kamu, Selena."
Deg.
Hati Selena sekali lagi bergetar. Kebaikan Daniel yang seperti inilah yang selalu membuat hatinya bergetar. Kebaikan yang tulus, tidak menuntut balas, tidak menguntungkan dirinya. Daniel sungguh-sungguh memberikan kebaikan yang sejati. Dan, kebaikan Daniel inilah yang membuat Selena merasakan kepakan sayap kupu-kupu di dalam hatinya. Kepakan sayap kupu-kupu, sekalipun kecil, tetapi indah dan memberikan dampak. Kupu-kupu yang hinggap tenang di atas sekuntum bunga, mengepakkan sayapnya dengan indah, perlahan-lahan, hingga akhirnya terbang. Seperti itulah perasaan Selena.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku. Tapi, aku memang sedang lembur, banyak laporan yang harus aku selesaikan sehingga aku sama sekali tidak memegang handphoneku."
"Tidak apa-apa Selena. Yang terpenting sekarang kamu sudah di sini. Aku senang bisa melihatmu lagi. Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Ayo ceritakan bagaimana harimu, kita sambil berjalan ya karena sudah larut malam."
Daniel memayungi Selena dengan payungnya yang berwarna merah mencolok mata. Memberikan lebih banyak ruang dari payung itu untuk Selena, dan ia membiarkan bahunya sedikit basah terkena tetesan air hujan.
"Seharian aku sangat sibuk, Daniel. Banyak kerjaan yang aku kerjakan, dan kemungkinan besok aku harus lembur lagi."
"Apakah memang harus lembur?"
__ADS_1
"Hem, iya... Harus."
"Selena, kamu tidak sedang menghindari aku kan?"
"Apa menghindari? Siapa yang menghindari? Aku?? Tidak. Aku tidak menghindari kamu, Dan."
"Oh, ya? Tetapi, kenapa aku merasa bahwa kamu seperti sedang menghindari aku."
"Itu mungkin cuma perasaanmu." Selena tersenyum dan terus melangkahkan kakinya.
"Tidak, dari kemarin aku merasa kamu menghindar Selena. Aku yakin itu."
Selena bergumam dalam hati, "Memang aku mengindari kamu, Dan. Aku harus memenangkan hatiku. Memberi waktu untuk hati dan pikiranku."
"Apa kamu kepikiran sesuatu?" Daniel kembali bertanya kepada Selena.
"Ah, tidak. Eh, tapi tadi di kantor Pak Dexter bilang ingin berteman denganmu. Bukankah itu aneh?"
"Pak Dexter atasanmu yang kita bertemu di pesta pernikahan?"
"Mengapa dia ingin berteman denganku?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Dia hanya berkata tidak banyak memiliki teman di sini, jadi ia ingin berteman denganmu."
"Oh, begitu. Oke, tak masalah. Aku akan berteman dengannya."
"Baiklah, besok akan aku sampaikan kepadanya."
"Kamu sudah makan malam?"
"Belum. Aku tidak lapar."
__ADS_1
"Mau makan di Cafe di dekat apartemen kita?"
"Hem, oke baiklah. Tapi biarkan aku yang membayarnya kali ini. Aku sudah menerima gaji pertamaku."
"Oke, baiklah. Aku tidak akan menolak."
Daniel dan Selena berjalan dalam satu payung. Mereka menyisir jalan-jalan yang basah karena hujan, menuju Cafe yang berada di dekat apartemen mereka. Keduanya masuk ke dalam cafe itu, memilih tempat di dekat jendela sembari mengamati beberapa kendaraan yang lewat di depan mereka.
"Kamu mau makan apa, Dan?"
"Aku minum saja Selena. Aku mau cokelat panas."
"Yakin, kamu tidak makan?"
"Iya..."
"Baiklah aku akan memesankan cokelat panas untukmu."
Selena memanggil pelayan, dia memesan dua cokelat panas dan satu roti bakar. Keduanya menikmati secangkir cokelat di tengah rintik-rintik gerimis hujan.
"Bukankah aneh, beberapa hari ini hujan selalu turun dengan tiba-tiba?" Selena menyapukan pandangannya ke arah jendela di sampingnya.
"Mengapa Selena?" Sahut Daniel.
"Aku merasa akhir-akhir ini hujan turun tiba-tiba, beberapa hari lalu saat senja yang merona indah, tiba-tiba tertiup angin dan akhirnya hujan turun dengan lebatnya. Hari ini, aku mengamati langit yang masih berwarna biru, dan lihatlah tiba-tiba saja turun hujan. Aneh bukan?"
"Ya itu mungkin aneh untuk manusia, tetapi tidak untuk Tuhan. Bahkan dalam setiap air hujan yang menetas ada dalam perkenanan-Nya. Kita manusia hanya bisa menikmati saja, Selena. Pasti ada maksudku untuk segala sesuatu yang terjadi. Termasuk hujan yang turun tiba-tiba." Jelas Daniel kepada Selena dengan meyakinkan.
"Benarkah?" Tanya Selena yang kini menatap Daniel dengan netra gelapnya.
"Ya, tentu Selena. Ada maksud dari semua yang terjadi di alam semesta ini. Tidak ada yang terjadi dengan tiba-tiba begitu saja."
__ADS_1
Selena meresapi setiap perkataan Daniel. Ya, dia percaya ada rencana Tuhan untuk alam semesta. Tidak akan ada hal yang terjadi tiba-tiba karena semua berada dalam perkenanan-Nya.
...Jangan biarkan setiap orang yang datang padamu, pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajahmu, kebaikan dalam matamu, kebaikan dalam senyummu....