
"Ayah tahu kalau Daniel adalah anak yang baik, Selena..."
Satu kalimat yang diucapkan Ayahnya mampu membuat hati Selena berbunga-bunga. Bahkan, Ayahnya saja bisa menilai bahwa Daniel orang yang baik. Tidak hanya baik, Daniel juga adalah orang yang tulus. Pria itu selalu membantu Selena tanpa mengharapkan pamrih.
"Jadi semalam Daniel yang menjaga Ayah ya Yah? Selena tidur Ayah, jadi tidak tahu bila Ayah membutuhkan air minum."
"Tidak apa-apa, kamu juga pasti lelah dan butuh istirahat. Hari ini kamu tidak bekerja?"
"Selena cuti hari ini Ayah, karena siapa yang menjaga Ayah bila Selena bekerja hari ini?" Wajah Selena masih sendu melihat Ayahnya yang sudah sadar, namun masih terlihat pucat.
"Maaf merepotkanmu, Selena."
"Tidak repot sama sekali Ayah. Yang penting Ayah segera sembuh, dan Selena mohon jangan minum alkohol lagi ya Ayah. Turuti Selena kali ini, Ayah."
"Iya, Ayah akan berusaha. Selena, bolehkah Ayah bertanya?"
"Bertanya apa Ayah?"
"Bagaimana perasaanmu kepada Daniel?"
Selena sungguh tak menyangka, Ayahnya tiba-tiba menanyakan hal demikian. Ini untuk pertama kalinya, Ayahnya menanyakan hal pribadi Selena. Ayahnya dulu begitu acuh, tapi kini tiba-tiba Ayah menanyakan hal demikian kepada Selena.
"Hmm, jujur Selena menyukai Daniel, Ayah. Tetapi..." Selena membuang nafasnya perlahan, menetralisir rasa di dadanya. "Daniel tidak bisa membalas perasaan Selena."
__ADS_1
Ayahnya mengamati wajah putrinya dengan saksama, putri kecilnya ternyata telah tumbuh menjadi gadis yang bisa merasakan rasa suka kepada lawan jenisnya. Sungguh, terkadang kita tak menyadari berapa lama waktu berlalu hingga banyak momen terlewatkan. Begitu juga dengan Ayahnya Selena yang menyadari, berapa lama ia acuh kepada Selena, membiarkan putri kecilnya tumbuh dengan sendirinya, tanpa kasih sayang dan perhatiannya. Kini di hadapannya, putrinya telah menjadi seorang gadis yang dewasa. Memang benar bahwa penyesalan selalu datang terlambat, dan waktu yang terbuang tidak akan pernah bisa diulang.
"Apa alasan Daniel tidak bisa membalas perasaanmu, Selena?"
"Hem, Daniel belum menjelaskannya, Yah... Ia hanya berkata bahwa suatu saat, ia akan menjelaskan alasannya kenapa tidak bisa membalas perasaan Selena."
Ayahnya memerhatikan raut wajah Selena yang nampak sedih, tapi putrinya itu masih berusaha tegar.
"Ayah percaya dia pasti memiliki alasan khusus. Tetapi, menurut Ayah, Daniel itu baik dan tulus. Memanglah, tidak salah apabila kamu menaruh perasaan padanya. Kalau kamu mau menunggu hingga pria itu memberi penjelasan padamu, tunggulah ia... Ayah hanya merasa, Daniel begitu perhatian kepadamu."
Hati Selena menghangat mendengar penilaian Ayahnya kepada Daniel. Bahkan Ayahnya pun bisa merasakan perhatian Daniel kepadanya. Jika Ayahnya yang selama ini acuh saja bisa menilai, berarti Selena semakin yakin bila Daniel memang perhatian kepadanya. Perhatian Daniel itulah yang membuat Selena perlahan dengan pasti jatuh hati padanya.
"Selena pikir... Selena memang akan menunggunya Ayah. Selena akan menunggu sampai Daniel menjelaskan semuanya kepada Selena."
"Iya Ayah..."
Selena begitu tenang dan senang bisa berbicara dengan Ayahnya, kesempatan yang nyaris tidak pernah ia dapatkan. Ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hati, tetapi ada rasa kesedihan karena begitu banyak momen terlewatkan begitu saja. Keduanya bisa berbincang-bincang sedekat ini justru saat Ayahnya terbaring sakit. Manusia memang mereka-rekakan segala sesuatu, tetapi semua itu tidak akan terjadi apabila Tuhan belum menghendakinya. Sama halnya dengan Selena, begitu lama ia mengharapkan momen indah seperti ini dalam hidupnya, namun baru kali ini Tuhan menganugerahkan waktu yang tepat.
"Terima kasih Selena untuk semuanya. Selama ini Ayah tahu, kamu begitu menderita. Tetapi, kamu selalu kuat. Maaf juga karena Ayah telah banyak menyakitimu selama ini." Ucap Ayahnya dengan nada getir dan penyesalan yang mendalam.
"Lupakan yang lalu, Ayah. Tidak apa-apa. Selena hanya ingin ke depannya Ayah bisa terus seperti ini. Jangan minum minuman keras lagi, perhatikan kesehatan Ayah. Ayah selalu sehat, ini menjadi doa terbesar Selena."
"Namun, Ayah menyadari bahwa selama ini Ayah banyak memberimu air mata, Nak. Terlalu banyak kesedihan yang terjadi padamu, karena sikap Ayah. Saat ini, Ayah sungguh-sungguh minta maaf kepadamu. Maafkan Ayah..." Air mata menetes begitu saja dari sudut mata Ayahnya.
__ADS_1
"Jangan menangis Ayah... Selena memaafkan Ayah. Apa pun yang telah Ayah lakukan, baik di masa lalu ataupun saat ini, Selena memaafkan Ayah. Kesedihan yang Selena alami sekian lama, telah sirna dengan kebersamaan kita saat ini. Terima kasih Ayah, waktu ini akan selalu Selena ingat. Selena menyayangi Ayah."
Wajah Selena nampak bahagia, tetapi buliran air mata juga menetes begitu saja dari matanya. Ini bukan air mata kesedihan, sama sekali bukan. Selena menangis bahagia bisa mengobrol banyak hal dengan Ayahnya. Waktu berharga yang selama ini selalu ia harapkan.
"Jangan menangis lagi, Selena. Selama ini, kamu sudah banyak menangis, dan... itu pasti karena Ayah yang terus menyakiti kamu, bahkan Ayah sering kali menamparmu, memberimu luka."
"Tidak Ayah, sekarang Selena menangis bahagia karena bisa mengobrol banyak hal seperti ini dengan Ayah. Sungguh, Selena bahagia Ayah. Sangat bahagia."
"Ayah juga bahagia Selena. Nak, bila kamu sedang tidak bekerja, bisakah kamu sering mengunjungi Ayah di rumah? Ayah tidak memintamu untuk tinggal bersama dengan Ayah di rumah, tetapi di waktu liburmu, lebih seringlah mengunjungi Ayahmu ini. Apakah kau bisa melakukannya?"
Dengan berderai air mata, Selena menganggukkan kepalanya. "Ya Ayah, Selena akan lebih sering mengunjungi Ayah. Tetapi, Ayah janji untuk tidak minum alkohol lagi? Jika Selena ke sana, dan aku mendapati Ayah kembali mabuk, maka Selena tak akan pernah mengunjungi Ayah lagi. Janji??"
"Iya, Nak... Ayah berjanji."
***
Sementara itu di Buana Corp, ketidakhadiran Selena dalam bekerja rupanya cukup membuat Dexter tidak tenang. Pria beraura dingin itu berpikir apa yang terjadi sebenarnya hingga Selena harus mengambil cuti.
Dexter memang berada di kantornya, ia duduk menghadap laptop dan file-file yang bertumpukan. Akan tetapi, pikirannya justru tertuju kepada Selena. Sekali pun hubungannya dengan Selena tidak begitu akrab, namun keberadaan Selena nyatanya bisa menenangkan Dexter.
Jika aku menjenguk Ayah Selena di rumah sakit apakah berlebihan? Apakah sebaiknya aku menanyakan Ayahnya di rumah sakit mana? Aku ingin responsif, tetapi Selena pasti tidak menyukai itu. Aku hanya sebatas ingin berteman dengannya saja, ia menolakku. Apalagi, bila aku ingin mengunjungi Ayahnya.
Dexter benar-benar tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya karena ia terus memikirkan Selena. Akhirnya Dexter pun mengambil keputusan, apabila besok Selena masih tidak datang bekerja, ia akan menanyakan di mana Ayahnya dirawat, sehingga ia bisa mengunjunginya.
__ADS_1