Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Mengintai dari Jauh


__ADS_3

Dexter berjalan di belakang Selena dan Putri, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan dua staf baru di Buana Corp. itu. Dari perbincangan dua gadis itu juga, ia mengetahui bahwa Selena tinggal tidak jauh dari kantornya. Tapi, Dexter yang dingin hanya ingin sebatas mendengarnya saja. Bayang-bayang masa lalu yang kelam dan menyakitkan, seolah-olah membuatnya mati rasa dengan wanita.


Tidak berapa lama, Selena dan Putri telah sampai di ruangannya, mereka duduk di kubikal masing-masing. Karena hari pertama bekerja, belum banyak yang bisa keduanya kerjakan. Akhirnya, Selena memilih membuka PC di depannya melihat setiap direktori yang ada untuk mengetahui bagaimana proses pengerjaan nanti. Nampak berbagai file yang berderet rapi hasil pekerjaan staf sebelumnya. Selena melihat pula, beberapa file di depannya sebagai panduan untuk mengerjakan juga. Selama beberapa jam, ia mempelajari semuanya, hingga akhirnya jam pulang kerja telah tiba. Tepat jam 5 sore, satu per satu staf berpamitan meninggalkan kantor.


Selena merapikan terlebih dahulu kubikalnya lalu memeriksa kembali kotak bekal dan memasukkannya ke dalam paper bag nya. Hingga handphonenya bergetar. Kali ini, sebuah pesan masuk ke handphonenya.


[Selena, aku sudah di depan kantormu. Di tempat yang pagi tadi waktu nganter kamu.]


[Ah, iya. Tunggu sebentar ya... Aku rapi-rapiin meja kerjaku dulu ya... 5 menit lagi aku turun.]


[Iya, gak usah buru-buru. Aku tunggu.]


Selena tersenyum lagi membaca balasan Daniel, dia memang mengetahui kalau Daniel memang sabar, bahkan selama ini belum pernah dia melihat Daniel marah. Sikap Daniel yang sungguh baik dan belum pernah marah sekali pun seringkali membuat Selena berpikir, pria itu adalah malaikat yang menjadi manusia. Selain wajahnya yang tampan, karakternya pun sangat bagus.


Putri yang juga masih berada di kantor pun menepuk bahu Selena, dan mengajak temannya itu untuk pulang.


"Ayo, Sel. Pulang... Sudah sepi nih ruangannya."


Selena mengangguk, mengambil hand bag dan paper bag nya yang berisi kotak bekal, lalu mulai berjalan bersama teman barunya itu.


"Iya, ayo..."


Keduanya memasuki lift dan turun ke lobby. Putri akan mengantarkan Selena ke depan dulu, setelah itu barulah ia mengambil mobilnya di parkiran basement.

__ADS_1


"Yuk, aku anter ke depan." Ucap Putri dengan menggandeng tangan Selena.


"Eh, gak usah repot-repot. Aku bisa sendiri."


"Udah dijemput?"


"Udah."


"Ya udah, sana. Aku ambil mobil dulu. Bye, Sel.... Sampai ketemu besok lagi ya."


Putri melambaikan tangannya kepada Selena, dan Selena juga melambaikan tangannya. Pemandangan dua orang teman baru yang saling berpamitan itu terlihat pula oleh Dexter yang baru keluar dari lift. Dexter melihat Selena berdiri di pintu keluar dan gadis itu hendak berjalan. Dexter mempercepat langkahnya, hingga ia melihat Selena berjalan menuju sebuah mobil berwarna merah yang berhenti di tepi jalan depan kantornya.


Matanya yang setajam elang, mengintai dari jauh apa yang dilakukan Selena. Dari tempat Dexter berdiri, semua terlihat jelas. Dia tahu gadis itu berjalan ke arah mobil merah. Tidak berselang lama, seorang laki-laki turun mobil menyambut Selena yang semakin dekat. Dexter mulai berpikir.


"Siapa itu? Apa cowok itu pacarnya?" Gumam Dexter dengan pandangan yang belum beranjak dari Selena.


Pria itu berdiri melambaikan tangannya dengan menguntai senyuman manisnya.


"Hai... Gimana kerjanya hari ini?" Sapa Daniel kepada Selena yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Hmm, baik sih. Agak gugup tadi, tapi untung seharian baik."


"Bekalnya udah dimakan?" Daniel melirik paper bag yang ditenteng Selena.

__ADS_1


"Udah... Ludes, aku makan semuanya." Balas Selena dengan mengangkat paper bag nya.


"Yang bener habis? Emang enak? Sini biar aku yang bawa paper bag nya."


Daniel menyambut paper bag yang ditenteng Selena itu, lalu paper bag itu pun sudah berpindah tangan.


"Iya enak banget nasi gorengnya. Aku gak nyangka nasi goreng buatanmu enak banget, kayak nasi goreng di restoran-restoran gitu. Makasih ya..."


"Ah, masak... Baru pertama loh aku bikin nasi goreng itu, masak rasanya langsung enak?"


"Iya, beneran. Enak banget malahan rasanya."


"Ya udah yuk.... Aku ajak mampir sebentar ke suatu tempat mau enggak?"


"Boleh. Yuk, aku temenin."


Daniel mengelus puncak kepala Selena, hingga akhirnya keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor itu.


Dexter yang melihat semua itu dari jauh, sedikit tertegun melihat interaksi yang manis antara Selena dengan pria yang menjemputnya barusan. Hingga Dexter mengambil satu kesimpulan, mungkin pria itu pacarnya.


Dexter berjalan sembari membuang nafasnya, dalam hati kecilnya kenapa dia merasa sakit melihat kedekatan Selena dan pria yang tadi menjemputnya, padahal dia pun tidak ada hubungan sama sekali dengan Selena. Tetapi, hatinya teriris pedih. Hingga akhirnya pria dingin itu, berjalan menuju mobilnya yang sudah siap di depan lobby. Dengan bergegas ia melajukan sendiri mobilnya dengan perasaan yang tidak tenang.


Dexter mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan yang mulai padat karena memang waktunya orang pulang dari bekerja. Hingga mobil Dexter berhenti di lampu merah. Lampu merah di persimpangan besar itu memang cukup lama, Dexter memukul-mukulkan jari-jarinya perlahan ke setir kemudinya menunggu lampu lalu lintas itu akan berubah menjadi warna hijau. Setelah itu ia menolehkan kepalanya ke kanan, terlihat mobil merah tipe city car tepat berhenti di sebelah mobilnya. Pandangannya tertuju pada mobil merah itu dan matanya melihat Selena dari balik kaca jendela.

__ADS_1


"Selena.... Dia lagi. Kenapa seharian ini aku terus-menerus melihatnya. Bahkan saat seperti ini pun di pemberhentian lampu lalu lintas, aku kembali melihatnya. Benar-benar aneh, setelah sekian lama baru kali ini mataku terus-menerus tertarik pada seorang gadis, tetapi sayangnya gadis itu sudah punya pacar. Bahkan kedekatan keduanya manis." Gumam Dexter dari dalam mobilnya sambil mengusap-usap kedua matanya.


Sekilas dia melihat bagaimana gadis itu tersenyum dan berbicara dengan pria yang duduk di kursi kemudinya. Dexter hanya tertegun melihat dari balik kaca jendelanya. Hingga lampu merah telah berganti warna hijau, dan mobil yang dinaikki Selena melaju lebih dulu. Dan, beberapa mobil di belakang Dexter pun membunyikan klaksonnya, tanda bahwa Dexter harus segera melajukan mobilnya yang masih berhenti.


__ADS_2