Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Pemulihan Ayah


__ADS_3

Pagi hari ini, Selena pamit kepada perawat yang menjaga di ruangan perawatan Ayahnya, ia ingin pulang sebentar untuk membersihkan dirinya dan juga mengganti pakaiannya. Sebab, sejak kemarin Selena masih mengenakan pakaian kerjanya.


Selena pulang kembali ke apartemen Daniel, kali ini dia tidak sendiri, lantaran Daniel turut mengantarnya pulang. Keduanya pulang bersama menaikki bus kota dengan menunggu di halte pemberhentian bus yang berada di depan rumah sakit itu.


"Kau tidak keberatan naik bus, Dan?" Tanya Selena kepada Daniel yang sedang berdiri di sampingnya menunggu datangnya bus kota.


"Tidak. Aku tak keberatan sama sekali. Kenapa?"


"Karena menurutku ini pertama kalinya kamu menaikki bus kota."


"Iya, ini memang pertama kalinya aku naik bus kota. Kurasa tak masalah. Justru aku senang mencoba hal baru."


"Syukurlah kalau kamu tak keberatan. Lagipula, naik transportasi publik itu menyenangkan kok, dan kita belajar sabar menunggu juga."


"Iya, itu benar Selena. Aku setuju padamu."


Keduanya berbincang-bincang hingga sebuah bus kota datang. Mereka berdua pun menaiki bus itu, duduk bersama dalam satu tempat duduk. Sesekali Selena mencuri pandang kepada Daniel, gadis itu tersenyum dan membuang pandangannya ke jendela. Setelah beberapa pemberhentian, akhirnya mereka pun tiba di halte pemberhentian yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Daniel. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.


Sesampainya di apartemen, baik Selena mau pun Daniel masuk ke kamar mereka masing-masing, membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak perlu waktu lama, kini mereka berdua sudah berada di dapur.


"Kamu ingin sarapan apa Selena? Aku bisa memasakkan untukmu." Tanya Daniel kepada Selena yang sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih.


"Apa saja... Hem, tetapi tidak ada bahan makanan di kulkas, Dan. Karena selama kau pergi, aku pun tak memasak di rumah. Aku membeli makanan siap saji."


"Lalu, apa yang kita makan sekarang?"


"Kita memesan secara online saja bagaimana?" Selena menawarkan untuk memesan makanan secara online.


"Iya, boleh. Kamu pesan saja..."


Setelah itu Selena mengambil handphone nya dan mulai berselancar pada aplikasi hijau di handphonenya untuk memesan makanan secara online. Karena hari masih pagi, Selena hanya bisa memesan bubur ayam.


Selang 15 menit, makanan mereka telah datang. Selena menyajikan Bubur Ayam itu ke dalam piring, setelah itu ia membuat teh hangat untuknya dan secangkir cokelat panas untuk Daniel.

__ADS_1


"Sarapan dulu, Dan..." Selena memanggil Daniel yang saat itu tengah menyirami bunga-bunganya di balkon.


"Iya..."


Daniel pun masuk ke dalam dan duduk di meja makan dengan menu makanan yang telah tersaji di sana.


"Terima kasih, Selena." Daniel tersenyum begitu melihat ada secangkir cokelat panas tepat di depannya.


"Untuk??"


"Untuk cokelat panas ini. Kamu masih mengingatku dengan baik."


"Iya, sama-sama."


Sudah tentu Selena akan selalu mengingat Daniel, di ruang hatinya terdalam pun, hanya ada nama Daniel di sana. Saat pria itu pergi sekian hari tanpa kabar pun, Selena selalu mengingatnya.


Selena menyantap sarapannya dan menyeruput teh panas beraroma melati itu. Rasa laparnya sudah hilang, dan kini ia merasa sudah kenyang.


Usai sarapan, ia bergegas ke kamar dan mengambil tasnya, ia akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Ayahnya.


"Ayo, aku antar sekalian Selena. Aku akan menemanimu di rumah sakit."


"Tidak, kamu di rumah saja. Kamu perlu istirahat, Dan."


"Hmm, baiklah kalau kamu menolak, tapi biarkan aku mengantarmu ke sana. Ingat, jangan menolak. Aku antar sekarang. Ayo."


Selena mengikuti Daniel untuk turun ke parkiran basement, mengambil mobil yang terparkir di sana. Lalu dengan perlahan, Daniel mengemudikan mobil nya perlahan, menyusuri jalanan ibukota yang masih pagi tapi sudah sangat padat. Sekian lama berkendara, akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit.


"Sudah sampai, Selena... Aku akan pulang, karena kau menolak untuk kutemani. Jadi, aku pulang saja. Akan tetapi, ingatlah. Kalau ada apa-apa tolong hubungi aku."


"Hem, baik. Ngomong-ngomong, handphone kamu sudah aktif lagi? Bukannya seminggu lebih handphonemu tidak aktif?"


"Coba saja kamu telepon nomorku, pastilah sudah bisa. Sudah aktif."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. Makasih, Dan... Aku masuk ke dalam."


"Bye Selena, hati-hati."


Keduanya berpisah. Daniel kembali ke apartemennya dan Selena masuk ke dalam rumah sakit ke tempat Ayahnya di rawat.


Saat Selena datang, rupanya Ayahnya sudah sadar. Selena begitu senang, melihat Ayahnya tengah duduk menyandarkan punggungnya di headboard brankarnya.


"Ayah, Ayah sudah sadar? Syukurlah."


"Hem, iya..." Ayah Selena hanya menjawab dengan singkat.


"Ayah, Selena mohon jangan minum minuman keras lagi Ayah. Selena ingin Ayah tetap sehat. Organ tubuh Ayah suka sakit karena terlalu lama terkena alkohol. Dokter bilang itu tidak baik."


"Selena... Maafkan Ayah jika selama ini hanya membuatmu bersedih, bahkan Ayah sudah sangat kasar kepadamu. Maafkan Ayah, Selena... Ayah akan berusaha untuk meninggalkan minuman keras itu. Aku akan berusaha sebisa mungkin."


Mendengar perkataan Ayahnya pun, Selena justru menangis. Hatinya begitu tersentuh mendengar Ayahnya meminta maaf kepadanya. Sungguh, sebuah tindakan yang tidak pernah disangka oleh Selena.


"Selena selalu memaafkan Ayah... Selena sayang kepada Ayah... Please Ayah, jangan minum alkohol lagi karena itu tidak baik untuk kesehatan Ayah. Jika Ayah sayang kepada Selena, tolong tinggalkan minuman itu. Hidup sehat, Ayah..."


"Iya Selena... Maafkan Ayah... Ayah akan berusaha. Kejadian kemarin menyadarkan Ayah bahwa organ tubuh Ayah pasti sedang tidak baik-baik saja. Ayah juga teringat kepadamu, Ayah sadar selama ini Ayah telah banyak menyakitimu. Maafkan Ayah..."


"Tidak Ayah... Jangan berkata begitu. Selena juga minta maaf kepada Ayah, Selena mungkin menyakiti Ayah, dan Selena bahkan pergi dari rumah. Maafkan Selena juga Yah..."


"Tindakanmu sudah tepat, Selena. Ayah justru bersyukur karena kamu bisa lari menyelamatkan dirimu, itu lebih penting. Ayah juga senang kamu bertemu dengan pria baik yang selalu menjagamu."


Selena terkaget ketika Ayahnya menyebut seorang pria. Siapa yang Ayah maksud?


"Pria siapa Yah?"


"Daniel, Nak... Pria yang menjagai Ayah semalam. Pria itu begitu baik, Ayah merasakan dia begitu tulus. Semalam anak itu mengambilkan air minum untuk Ayah saat Ayah tersadar. Pria itu juga yang memanggilkan Dokter jaga ketika Ayah sadar."


Hati Selena pun bahagia, mendengar cerita dari Ayahnya. Tanpa sepengetahuannya justru Daniel telah berbuat banyak hal untuk Ayahnya. Daniel sungguh baik, dia tidak membangunkan Selena, tetapi justru melakukan semuanya untuk Ayahnya.

__ADS_1


"Iya Ayah, Daniel memang baik. Dia juga orang yang tulus, Ayah..."


"Ayah tahu Selena. Dari awal Ayah melihatnya, Ayah sudah tahu kalau temanmu itu adalah pria yang baik."


__ADS_2