Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Menemani


__ADS_3

"Biarkan aku di sini menemanimu, Selena." Ucap Daniel yang enggan meninggalkan Selena seorang diri di rumah sakit.


"Kau bisa pulang, Dan. Lagipula kau baru saja sampai setelah perjalanan jauh. Kau pasti kecapean."


"Tidak Selena. Aku tidak merasa capek. Lagipula sudah lama aku tidak menemanimu, aku tidak menjagamu. Jadi,,, biarkan aku di sini menemanimu." Daniel tetap pada pendiriannya untuk menemani Selena.


"Tetapi, ini di rumah sakit, Dan. Hanya kursi di sini, tidak ada tempat tidur. Kau tidak akan merasa nyaman."


"Tenang saja, aku bisa tidur di mana saja. Di atas tanah berselimutkan awan pun aku bisa tidur. Percaya saja padaku, aku hanya ingin menemanimu. "


"Hem, baiklah kalau kamu memaksanya."


Setelah perbincangan yang panjang Daniel dan Selena kembali masuk ke dalam rumah sakit untuk menjaga Ayah Selena. Keduanya berjalan bersama, seketika hati Selena kembali menghangat. Daniel telah kembali, dan kini Selena tak merasakan kesepian dan kesendirian lagi.


Menelusuri setiap lorong rumah sakit, keduanya hanya terdiam. Nampak Selena yang berusaha menata hatinya. Sementara Daniel melangkahkan kakinya dengan tenang. Mengikuti Selena yang berjalan beberapa langkah di depannya. Akhirnya, Selena pun memasuki ruangan perawatan Ayahnya.


"Duduklah Dan..." Selena mempersilakan duduk dengan tangannya menunjuk pada kursi sofa yang jaraknya tidak jauh dari brankar Ayahnya.


"Hem, terima kasih. Duduklah di sini sebentar Selena, kita perlu membicarakan banyak hal."


Tanpa banyak berkata, Selena pun mendudukkan dirinya di kursi, dan mengambil tempat di sebelah Daniel.


"Ada apa, Dan?"


"Bagaimana hari-harimu saat aku sedang pergi?" Tanya Daniel sembari menatap netra sepekat malam milik Selena.


"Aku menjalani hariku seperti biasa, Dan. Bangun pagi, merawat tanaman, pergi bekerja, dan istirahat. Begitu saja hari-hariku. Kenapa?"


"Aku cukup lega mendengarnya, kau menjalani harimu dengan baik. Jujur, aku selalu memikirkanmu."


"Hem, memikirkanku? Kenapa?"


"Tidak tahu, aku hanya bisa terus memikirkanmu."


"Istirahatlah, Dan... Kau pasti capek."


"Kau istirahatlah terlebih dahulu, Selena. Biar aku yang menjaga Ayahmu. Lagipula kau pasti kecapean setelah seharian bekerja. Oh, iya bagaimana dengan esok, apakah kamu akan bekerja?"

__ADS_1


"Tidak, aku akan meminta izin. Semoga Ayah segera membaik, sehingga aku tidak terlalu lama izin."


"Baiklah. Istirahatlah Selena, aku akan duduk di dekat brankar Ayah."


"Terima kasih, Dan..."


Selena menyandarkan kepalaku di kursi, ia mengusap-usap kepalanya perlahan, tidak lama kemudian mata sembab itu terlihat sayu, hingga akhirnya terpejam.


Daniel yang duduk di samping brankar Ayah Selena pun, hanya memandangi pria paruh baya. Hatinya terasa iba memandang Ayah Selena yang terbaring, pria yang biasanya memiliki emosi menyala-nyala, kini terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


Semoga Anda segera pulih, dan jangan minum alkohol lagi, Anda tidak tahu betapa Selena sedih saat Anda mabuk. Walaupun Anda menyakiti Selena, tapi dia sama sekali tidak membenci Anda. Dia anak yang baik, yang mengharapkan Anda bisa meninggalkan minum minuman keras, memulai hidup baru tanpa alkohol.


Daniel bergumam dalam hatinya. Ia pun berharap, pasca kejadian ini Ayah Selena bisa memulai kehidupan baru tanpa menenggak minuman keras lagi.


Daniel merasa ruangan rumah sakit itu terasa sepi, bahkan tidak lagi suara mau pun pergerakan Selena. Daniel memutar posisi duduknya, ia menoleh ke belakang. Rupanya Selena tengah duduk dengan badan yang bersandar di sofa.


Daniel berjalan menuju sofa tempat Selena tertidur, ia tersenyum melihat Selena yang tengah tertidur, tetapi ia juga kasihan lantaran tidur dengan posisi duduk akan membuat Selena merasa tidak nyaman.


Daniel mengamati wajah teduh Selena ketika tidur. Tangannya terangkat begitu saja, mengusap wajah Selena.


"Selamat Malam, tidurlah Selena. Aku akan menjagamu dan Ayahmu juga. Selamat tidur, Rembulan..."


Puas memandangi wajah Selena, Daniel kembali duduk di samping brankar. Ia tidak ingin mengganggu Selena yang sedang tidur, bagaimana pun pasti Selena kecapean.


Malam berlalu begitu saja. Langit yang semula gelap kini telah kembali terang, sinar matahari pagi menyapa dari balik gorden jendela rumah sakit itu. Gadis yang masih tertidur di sofa dengan jaket Daniel terselimut di bagian pundaknya itu pun nampak menggerak-gerakkan mata, meregangkan badannya dan membuka matanya.


Selena tersenyum simpul melihat jaket Daniel yang berada di badannya. Sekali pun tidur dalam posisi duduk dan membuat badan terasa sakit, tetapi itu tidak terasa karena jaket Daniel yang menghangatkannya. Kehangatan itu terasa hingga ke hati.


"Pagi Selena, kau sudah bangun?" Sapa Daniel yang mengagetkan Selena. Pria itu telah nampak segar dengan wajahnya yang terlihat basah.


"Pagi Daniel... Ah, iya. Aku baru saja bangun." Sahut Selena membalas ucapan selamat pagi dari Daniel, dia menundukkan kembali wajahnya lantaran merasa wajah bangun tidurnya pasti aneh.


Selena lalu, mengambil handphone di dalam tasnya, ia berniat untuk menghubungi Dexter untuk meminta izin tidak masuk hari ini. Selena mencari kontak Dexter, lalu segera menelponnya.


[Halo, Pagi Pak Dexter...]


[Ya, pagi Selena. Ada apa?]

__ADS_1


[Saya izin untuk tidak masuk kerja hari ini ya Pak.]


[Memangnya ada apa denganmu?]


[Saya baik-baik saja, Pak. Hanya Ayah saya sedang sakit, saya merawat Ayah saya terlebih dahulu, Pak.]


[Hem, baiklah. Kamu bisa izin dahulu. Begitu Ayahmu sembuh segeralah masuk.]


[Baik Pak Dexter, terima kasih.]


Selena mematikan handphone nya dan kembali menyimpannya di dalam tas.


"Sudah minta izinnya?" Tanya Dexter yang saat ini kembali duduk di samping Selena.


"Hem, iya. Pak Dexter memberikan izinnya."


"Syukurlah."


"Dan, aku ingin pulang dulu. Aku perlu bersih-bersih dan mengganti baju."


"Ayo, aku antar. Aku juga perlu mengganti bajuku."


"Te,,, tetapi?"


"Kenapa? Ayo, kita bisa pulang sebentar dan kembali lagi ke sini."


"Baiklah, aku akan mendatangi perawat dulu, mengabari mereka kalau aku pulang sebentar."


"Iya..."


Akhirnya Daniel dan Selena pun pulang sejenak ke apartemen hanya sebatas membersihkan diri mereka, mengganti baju, dan sarapan sejenak. Setelahnya, keduanya bersiap kembali lagi ke rumah sakit.


"Makasih Dan..."


"Untuk??"


"Untuk semuanya. Makasih sudah kembali, makasih sudah menolongku lagi dan lagi."

__ADS_1


Daniel tersenyum melihat Selena.


"Senang menolongmu, Selena. Tak perlu berterima kasih karena sudah tugasku untuk menjagamu."


__ADS_2