Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Makan Malam Pertama


__ADS_3

Daniel bergegas ke kamarnya untuk beristirahat, begitu pula dengan Selena. Waktu yang ada benar-benar dimanfaatkan untuk beristirahat oleh Daniel dan Selena. Daniel sebenarnya tidak benar-benar istirahat, dia merasa tidak capek sama sekali. Tapi, dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Menjelang sore, dia berniat untuk mandi, supaya badannya menjadi lebih segar.


Selesai menyegarkan dirinya, Daniel tidak bergegas keluar dari kamarnya. Ia melihat pemandangan kota itu dari Balkon.


"Benarkah ini yang dinamakan tempat dibangunnya perabadan manusia? Jika benar, tempat ini sungguh indah. Selama aku di kebun Edenweis belum pernah aku melihat bangunan setinggi ini, mobil-mobil berlalu lalang sebanyak ini. Benar yang dikatakan oleh Tuan, di kebun inilah perabadan manusia di bangun."


Dalam lamunannya Daniel membanding tempat tinggalnya sekarang dan kebun bunga Edenweis yang dulu ia tinggali sehari-hari. Walaupun yang ia lihat pada pagi, malam, hingga pagi lagi hanyalah berbagai macam bunga dengan segala keelokannya yang selalu indah di pandang mata. Di malam hari, ini melihat pancaran sinar rembulan yang terang dan bintang-bintang bergemerlapan. Di tambah semerbak bau pretikor ketika hujan turun menyirami seluruh kebun bunga Edenweis.


"Hmm, aku merindukan Edenweis yang selalu bersolek dengan beraneka warna bunganya." Ucap Daniel dengan pandangan matanya yang melihat sekelilingnya dari balkon.


Puas memandangi balkon melihat pergantian hari dari terang menjadi malam, Daniel kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia berniat akan keluar dan mengajak Selena untuk makan malam.


"Gadis itu pasti tengah kelaparan sekarang, aku akan membangunkannya. Lagi pula, dia masih harus meminum sejumlah obat untuk memulihkan kesehatannya, jadi dia pasti membutuhkan makanan."


Daniel membuka pintu kamarnya, ia hendak berjalan menuju kamar Selena yang berada di dekat dapur. Belum sampai ia ke sana, dia sudah melihat Selena di dapur tengah membuka kulkas dan mencari-cari sesuatu di sana.


"Hai Selena, apa yang sedang kau cari?"


Suara Daniel yang tiba-tiba begitu mengejutkan Selena. Hingga ia terkaget-kaget, hatinya rasanya mau copot karena tiba-tiba mendengar suara, padahal sebelumnya suasana rumah sangat sepi.


"Eh.... Ini. Saya hanya menengok-nengok kulkas ini, apa ada isi di dalamnya." Jawab Selena dengan kepalanya memperhatikan isi dalam kulkas itu.


"O.... jadi apa isinya?" Tanya Daniel dengan rasa penasaran.


"Hmm, ini sama sekali tidak ada isinya." Jawab Selena dengan senyuman di wajahnya.


"Oh.... Mungkin karena apartemen ini baru saja ditempati jadi belum ada apa-apa di sana." Daniel kembali berbicara dengan enteng, walaupun jelas kulkasnya masing kosong memang karena baru ini ditempati.


"Iya." Sahut Selena singkat.

__ADS_1


"Kau pasti lapar Selena, ayo kita keluar mencari makan."


Daniel memang berniat membelikan makan malam untuk Selena, dia hanya mengingat-ingat petugas yang menerimanya saat hendak memasuki apartemen ini bahwa ada Cafe di bawah. Daniel tadi berselancar di dunia maya mencari tahu Cafe itu seperti apa. Setelah mengetahui ada makanan dan minuman di situ, Daniel berniat mengajak Selena makan malam.


"Keluar? Ke mana?" Tanya Selena dengan wajah yang menyiratkan keraguan.


"Tuh, di luar sana. Ada Cafe di sana. Kamu bisa makan dan minum di sana." Daniel menjawab sambil menunjuk jarinya sebagai tanda ada cafe di luar apartemen ini.


"Hmmm, tapi... Tapi saya sudah tidak punya uang. Bukankah Anda tadi melihat sendiri bagaimana ayah saya mengambil uang yang tersisa di dompet saya." Selena menjawab dengan wajah tertunduk, ia menyadari bahwa dirinya sudah tidak memiliki uang sama sekali.


"Tenang Selena, ada aku. Kau di sini dan menjadi tanggung jawabku. Ayo, kita membeli makan malam untukmu."


Selena masih terdiam di depan kulkas, ia tidak percaya bahwa Daniel akan sebegitu baik kepadanya. Ia hanya berpikir semoga Daniel tidak memiliki niatan tersembunyi yang jahat kepadanya.


"Iya. Terima kasih." Selena mengucapkan terima kasihnya dan mengikuti Daniel keluar dari apartemennya.


Keduanya berjalan keluar dari unit apartemennya dan menuju ruang lift.


"Kenapa memencet tombol L?" Tanya Daniel dengan wajahnya yang penuh rasa ingin tahu.


"Iya, karena L itu untuk Lobby. Kita akan menemukan pintu untuk keluar di sana." Jelas Selena dengan menunjuk tombol L itu.


"Kalau R ini apa?" Kembali Lukas bertanya kepada Selena tentang tombol-tombol di dalam lift itu.


"R untuk Rooftop, lantai teratas dari apartemen ini."


"O.... Ya, ya, ya..." Daniel mendengarkan penjelasan Selena sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa Anda ini lucu, tombol dalam lift saja tidak tahu?" Tanya Selena dengan senyuman berkembang di wajahnya.

__ADS_1


"Ah, karena aku tidak pernah melihat seperti ini sebelumnya." Daniel tetap menjawab jujur, karena malaikat tidak boleh berbohong, walaupun mungkin itu tidak masuk akal bagi Selena, tapi dia menjawab dengan apa adanya.


"Bukankah seperti ini banyak di gedung-gedung luar negeri?" Tanya Selena kepada Daniel.


"Ah, mungkin iya. Tapi pekerjaan yang terbiasa di kebun, jadi aku tidak mengetahuinya."


Akhirnya lift itu pun telah turun di lobby. Lalu, keduanya berjalan bersama menuju Cafe yang berada tidak jauh dari apartemen itu.


"Pilih makananmu Selena. Makanlah yang banyak supaya badanmu tetap sehat." Ucap Daniel dengan memberikan buku menu kepada Selena.


Selena mulai melihat-lihat isi di buku menu itu, karena Selena tidak mempunyai uang sama sekali, jadi harga di buku itu terlihat mahal. Selena memutuskan untuk memilih menu dengan harga yang murah, sehingga tidak akan merepotkan Daniel yang akan membelikannya makan malam.


"Bolehkah saya memesan nasi goreng dan teh panas saja?" Selena berkata kepada Daniel dan ia telah memutuskan untuk memesan nasi goreng dan teh panas.


"Boleh. Kamu bahkan bisa memesan yang lainnya. Makanlah semua yang ingin kamu makan, Selena." Ucap Daniel meyakinkan Selena untuk memilih menu lainnya.


"Ah, tidak. Saya rasa itu saja cukup. Terima kasih."


Daniel berbisik kepada Selena, bagaimana harus memesannya, karena ia belum tau cara memesannya.


"Hmm, Selena. Bagaimana cara kita memesannya? Bisakah kau yang memesankannya?" Ucap Daniel dengan suara lirih, ia hanya malu orang lain akan menertawakannya.


"Ah, iya. Biar saya pesankan."


Selena lalu memanggil pelayan yang ada di sana, lalu memesan apa yang ingin mereka makan. Selena memesan nasi goreng dan teh hangat. Daniel memesan capjay sayuran dan es cokelat.


Tidak lama, makanan yang pesan pun sudah tersaji di meja mereka. Daniel mempersilakan Selena untuk makan, dan rupanya dia memesan capjay itu untuk Selena. Menurutnya makan sayur itu sehat, apalagi bagi orang yang habis dirawat di rumah sakit, sayuran membantu untuk memulihkan jaringan-jaringan yang rusak.


"Anda tidak makan? Kenapa hanya minum es cokelat saja?" Tanya Selena dengan rasa ingin tahu yang besar.

__ADS_1


"Aku tidak lapar. Cukup minum ini saja dan aku sudah kenyang." Sahut Daniel dengan tersenyum kepada Selena.


Daniel hanya belum memberitahu siapa dirinya sebenarnya, dirinya adalah malaikat yang tidak membutuhkan makan dan minum. Akan tetapi, saat itu ia memesan minuman supaya Selena tidak curiga kepadanya.


__ADS_2