
Usai bercengkerama untuk waktu yang lama, Daniel, Dexter, dan Selena memutuskan untuk pulang. Waktu telah berjalan semakin malam, dan ketiganya memutuskan untuk kembali pulang.
"Ini sudah malam, Dan. Apa tidak sebaiknya kita kembali pulang?" Tanya Selena kepada Daniel yang duduk di sebelahnya.
"Iya, ini sudah malam dan besok kamu harus kembali bekerja kan?" Sahut Daniel.
"Iya..." Jawab Selena perlahan.
Selena kembali membuka mulutnya, ia berniat untuk meminta izin kepada Dexter untuk pulang.
"Pak Dexter, karena ini sudah malam. Saya dan Daniel pamit pulang ya Pak." Selena meminta pamit dengan perasaan tidak enak, sebab bagaimana pun Dexter adalah atasannya.
"Iya. Sebaiknya kita pulang, karena ini sudah malam. Kamu pulangnya bagaimana Selena?" Tanya Dexter kepada sekretarisnya itu.
"Ah, saya akan pulang bersama Daniel, Pak. Rumah kami satu arah dan dekat. Ya kan Dan?" Selena mencoba mengatakan kepada Daniel bahwa rumah mereka dekat. Dan, Selena berharap Daniel mengetahui kodenya itu.
"Benar Pak Dexter. Saya yang akan mengantar Selena. Tenang saja Pak." Kata Daniel menyakinkan Dexter.
"Kamu sudah tahu rumah Selena?" Kali ini giliran Dexter yang nampak kembali menyelidiki.
"Kami berdua kan teman Pak, tentu saja saya tahu rumah Selena. Saya juga kan seringkali mengantar Selena ke kantor untuk bekerja?" Sahut Daniel.
"Oh, oke baiklah. Lebih baik kita segera pulang."
__ADS_1
Ketiganya keluar dari Cafe dan menuju mobil mereka masing-masing. Selena masuk ke dalam mobil Daniel, setelah pria itu dengan manis membukakan pintu mobil baginya. Setelahnya Daniel baru berputar mengelilingi mobilnya dan duduk di kursi kemudi.
Daniel membunyikan klakson dan membuka sedikit jendelanya, tanda ia berpamitan dan mendahului Dexter. Dexter pun menyahut dengan membunyikan klakson.
Di dalam hatinya, Dexter ingin sekali membuntuti mobil Daniel. Pria itu ingin tahu di mana rumah tinggal Selena. Lagipula, Dexter beberapa kali melihat Daniel yang mengantar dan menjemput Selena, nyaris setiap hari. Bagaimana mungkin seorang yang rumahnya hanya berdekatan bisa selalu mengantar dan menjemput Selena. Rasa ingin membuntuti mobil Daniel, tetapi ia urungkan. Bagaimanapun misi nya untuk mengenal Daniel jauh lebih penting. Dexter mengetuk stir kemudinya dengan jari-jarinya beberapa kali, hingga akhirnya ia memilih kembali ke apartemennya.
Mengemudi nyaris 20 menit, membawa Dexter kembali ke apartemen. Tempat ternyaman sekaligus paling sunyi Dexter. Dia memasuki kamar tidurnya, menatap fotonya dengan kekasihnya yang telah tiada.
Pertama kalinya dalam 7 tahun ini, aku merasa tertarik dengan seorang gadis. Pertama bertemu dengan gadis itu, aku begitu terperanjat. Aku mengira dia adalah kamu. Kalian memiliki wajah yang nyaris mirip, mata yang sama, hidung yang sama, bibir yang sama. Hanya rambutmu berwarna cokelat, sementara dia memiliki rambut hitam segelap malam. Kamu juga lebih ramah dan ceria, sedangkan dia begitu tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Melihatnya membuatku makin merindukanmu, Rebecca.
Andai engkau tahu, Rebecca. Tidak satu hari pun yang kulewati tanpa mengingat dan merindukanmu. Aku sangat rindu. Sangat rindu. Apa kau di sana bahagia? Apa kau di sana juga merindukanku seperti aku merindukanmu saat ini? Jika waktu dapat ku ulang lagi, aku ingin menggantikanmu tertambak saat itu. Kaulah tujuan hidupku. Untukmu aku rela melawan takdirku, dan menjadi sama seperti dirimu. Tetapi, saat kita sama-sama telah sepadan, sejiwa, seraga, Dia justru mengambilmu dari sisiku. Aku merindukanmu, Rebecca. Aku mencintaimu. I'll always love you, Rebecca Louisa.
Dexter memeluk foto seorang gadis dengan wajah yang mirip dengan Selena. Matanya terpejam merasakan rindu yang teramat dalam. Rindu yang hanya terucap, tapi tidak bisa diobati. Rindu yang hanya mampu dikatakan, hanya mampu dirasakan, hanya mampu diredam sendiri. Sekuat apa pun ia berusaha, rindunya semakin hari semakin dalam. Terlebih kehadiran Selena yang justru membuat hatinya semakin merindu.
Rasanya Dexter benar-benar gila merasakan begitu dalamnya luka yang ia terima karena kesalahannya sendiri. Penyesalan yang membuatnya terpisah jauh dari orang yang dikasihinya. Dexter kembali mengingat betapa bahagianya dia bersama Rebecca dulu. Walaupun kebersamaan mereka tidak lama, tetapi cintanya untuk Rebecca berlangsung lama. Perasaannya tidak berkurang, meskipun wanita yang dicintainya sudah terpisah jiwa dari raganya, sudah berbeda dengan dirinya. Cinta yang cukup membuat Dexter bertahan hingga detik ini. Mencintai dalam kesendirian, mencintai tanpa mengharapkan balasan, mencintai dalam setiap hembusan nafasnya.
***
Di tempat lain, Selena masih berkutat dengan hatinya. Dia mengarahkan pandangannya ke jendela kamarnya, mengamati pemandangan malam ibukota dengan kendaraan yang masih berlalu lalang.
Lamunannya terhenyak saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Selena.... Kamu sudah tidur?" Panggil Daniel sembari tangannya mengetuk pintu kamar tidur Selena.
__ADS_1
"Hem, apa? Aku belum tidur, Dan. Sebentar, aku akan keluar." Sahut Selena dari dalam kamarnya.
Selena membuka pintunya perlahan dan mendapati Daniel duduk menunggunya di meja makan.
"Ada apa Dan?" Tanya Selena sembari duduk di hadapan Daniel.
"Selena, untuk beberapa hari ke depan aku harus pergi."
Selena terdiam menatap Daniel, wajah gadis itu menunjukkan beribu pertanyaan kemana Daniel akan pergi.
"Kemana Dan? Berapa lama?" Tanya Selena.
"Besok usai mengantarmu ke kantor aku akan pergi sebentar, mungkin untuk beberapa hari. Ada masalah di Kebun Bungaku." Sahut Daniel dengan mencoba menjelaskan sesuatu kepada Selena.
"Oke, tak masalah. Kamu bisa pergi, Dan." Selena mencoba memahami situasi Daniel. Dia percaya bahwa Daniel memiliki alasan sendiri sehingga membuatnya untuk pergi.
"Jaga diri kamu baik-baik Selena. Istirahat yang benar, makan yang benar, dan tetaplah sehat selama aku pergi. Berjanjilah kamu tidak akan bersedih selama aku pergi." Daniel meminta Selena berjanji untuk tidak bersedih selama dia tidak ada.
"Iya, Dan. Tetapi kamu pergi berapa lama?" Balas Selena dengan wajahnya yang seketika terlihat sendu.
"Aku tidak tahu berapa lama, tetapi begitu urusanku selesai aku akan kembali, Selena. Aku akan menemanimu lagi. Oh, iya... Aku juga minta tolong rawatlah tanamanku, jangan biarkan mereka layu ya. Aku akan sangat sedih bila mereka harus layu." Pinta Daniel kepada Selena.
"Iya, tenang saja. Percayakan tanamanmu kepadaku. Bukankah aku sudah belajar dari ahlinya?" Selena tersenyum menatap Daniel.
__ADS_1
Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya dia berkata, "Jangankan tanaman, kalau hati kamu dititipkan kepadaku ya tetap aku jaga dan rawat setiap hari kok, Dan." Selena diam-diam tertawa dalam hatinya, betapa ia mendambakan pria di hadapannya itu.
"Terima kasih, Selena. Aku harap aku bisa segera menyelesaikan urusanku, dan aku bisa segera kembali bersamamu. Tunggu aku ya."