
Daniel sungguh menyesal tidak menjemput Selena dan tidak mengantarnya mengunjungi Ayahnya. Dan, kini gadis yang harusnya dia jaga dan lindungi justru pulang dengan bajunya kotor, dan wajahnya merah karena tamparan Ayahnya.
"Seperti ini lagi Sel?"
Tanya Daniel lirih, dia tahu pasti Selena merasa sakit, terlebih melihat darah di sudut bibirnya. Daniel merasakan bahwa luka itu sangat perih.
Dengan tangannya sendiri, Daniel menyeka wajah Selena lalu mengoleskan salep di sudut bibir Selena.
"Tahan ya, pasti sedikit perih." Ucap Daniel sembari mengoleskan salep di sudut bibir Selena dengan menggunakan cotton bud.
Selena hanya menundukkan matanya, dia sama sekali tidak berani menatap wajah Daniel. Jantungnya berdetak ketika cotton bud itu berada di sudut bibirnya, tapi ia berusaha menghiraukannya. Ia menahan debaran di jantungnya dan menenangkan hatinya sendiri.
"Sudah selesai." Ucap Daniel mengakhiri mengolesi salep dengan cotton bud di sudut bibir Selena.
"Makasih Dan. Ya udah, aku bersih-bersih dulu. Pakaianku kotor semua terkena Martabak."
"Iya, kalau sudah aku tunggu di sini ya."
"Hemm, iya..."
Selena masuk ke dalam kamarnya, ia segera mandi karena badannya bau Martabak. Sekaligus Selena menenangkan hatinya yang bertalu-talu tidak karuan saat Daniel mengoleskan salep di sudut bibirnya.
Sementara Daniel di ruang makan, ia menghangatkan kembali Sop Ayam yang sebelumnya sudah ia masak. Ia menyiapkan nasi putih, sop ayam, sambal kecap, dan secangkir teh hangat di meja makan.
Tidak lama berlalu, Selena keluar dari kamarnya dan mendapati Daniel tengah berada di dapur.
"Sini.... ayo sini...." Pria itu melambai-lambaikan tangannya kepada Selena.
Selena dengan langkahnya perlahan mulai berjalan ke arah Daniel yang kini sudah duduk di meja makan.
"Kamu sudah makan belum?"
"Hmm, belum."
"Kalau gitu ayo sekarang makan dulu."
Dengan sigap Daniel mengambilkan nasi dan sup ayam untuk Selena. Tidak lupa secangkir teh hangat, sudah tersaji juga di sana.
"Makasih Dan, kamu baik banget." Selena mengucapkan terima kasih dengan menahan air sudut di pelupuk matanya.
"Makasihnya nanti aja. Sekarang dimakan dulu, kasihan perut kamu kelaparan." Ucap Daniel.
"Iya. Kamu enggak makan?" Tanya Selena, sebab seingatnya hanya dia lah yang makan. Bila dipikir-pikir Daniel jarang sekali bahkan tidak pernah makan, hanya makan coklat dan minum coklat.
__ADS_1
"Hmm, aku udah makan. Aku minum aja. Ni aku minum es coklat." Jawab Daniel yang sedang menyeruput minumannya.
"Oh, aku makan ya. Makasih."
Selena menyantap makanan dalam piringnya. Merasakan bagaimana rasa sup ayam itu yang terasa begitu enak.
"Yang masak sup ayamnya sapa Dan?"
"Hemm, emang kenapa?"
"Jawab dulu dong."
"Hehehehe... aku yang masak. Kenapa gak enak ya?"
"Kamu? Serius?"
"Hu-um. Aku." Daniel tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya.
"Ini rasanya enak banget. Paduan rempah-rempahnya pas. Sayurannya juga gak kematangan."
"Apa bener?"
"Iya. Ini enak."
"Gak habis dong, ini banyak banget. Dan, sejak kapan kamu bisa masak?"
"Hmm, belum lama sih. Kenapa emangnya?"
"Kok semua masakan yang kamu bikin enak sih. Kotak bekalku setiap kerja aja pasti habis aku makan saking enaknya. Jangan bilang kalau resepnya dan cara masaknya liat di internet ya?"
Daniel hanya tersenyum-senyum mendengar perkataan Selena. Sebab faktanya dia memang melihat resep dan video tutorialnya dari internet.
"Sebenarnya bener sih. Aku liat-liat resep dan video tutorialnya yang masakan-masakan rumahan gitu. Abis liat dipraktikkan dong."
"Masak sih? Kalau gitu kenapa seenak ini?"
"Bener. Kadang hari ini aku liat-liat dulu, besok aku coba resepnya, masak sendiri gitu."
"Apa ada keajaiban di tanganmu?" Selena kini memerhatikan kedua tangan Daniel, menelisik kenapa tangan itu bisa menghasilkan masakan seenak ini.
"Mana ada keajaiban? Tanganku biasa aja." Tawa Daniel sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Tapi kenapa bisa seenak ini? Ini sudah seperti orang yang terbiasa masak loh rasanya. Bukan hanya masakan, tanaman yang kau tanam pun bunganya mekar-mekar dengan indah."
__ADS_1
"Kalau bunga-bunga bisa bermekaran dengan indah kan karena Tuhan yang menumbuhkannya. Aku hanya merawat, tanganku gak bisa memekarkan bunga secantik itu." Sahut Daniel dengan senyum di wajahnya.
"Selena...." Daniel menyebut nama gadis yang duduk di hadapannya.
"Iya, apa?"
"Sorry, kenapa tadi bisa terjadi seperti itu?"
"Oh, yang waktu aku ke rumah Ayah?"
"Iya...."
"Hmm, tadi aku tiba-tiba kangen Ayah, aku ke sana dengan membawa Martabak Bangka kesukaan Ayah. Yah, tapi akhirnya ya semua masih sama. Selang 3 minggu pun, Ayah masih begitu. Hemmmm... gak papa Daniel."
Sebatas perasaan atau apa, Daniel merasa Selena tersenyum getir. Daniel menebak apakah hati Selena kembali sakit karena sikap Ayahnya.
"Kenapa tadi enggak telepon aku saja? Aku bisa menemanimu."
"Aku terlalu malu apabila orang lain melihat bagaimana aku ditampar dan diperlakukan seperti itu oleh Ayahku sendiri. Aku malu mendapat belas kasihan dari orang lain, Dan. Aku malu orang lain melihatku lemah dan menyedihkan."
"Tapi, aku bukan orang lain. Aku akan selalu Ada untukmu. Kapanpun dan di manapun itu aku selalu ada untukmu. Jangan malu padaku. Jangan menilai dirimu lemah dan menyedihkan. Justru bagiku malu itu kuat, Sel. Ya, kamu itu kuat. Kamu bisa bertahan dalam kesulitan hidup, bahkan kamu tidak membenci Ayahmu. Kamu hebat, Sel."
"Benarkah?"
"Iya. Kamu hebat."
"Tidak seperti itu, Dan. Jauh di dalam hatiku, banyak luka di sana dan itu menyakitkan."
"Enggak, bagiku kamu hebat. Kamu kuat. Kamu tahu batas teratas kasih sayang Sel?"
"Kasih sayang? Apa?"
"Batas teratas kasih sayang adalah saat kita memaafkan orang lain yang sebelumnya telah menyakiti kita. Dan, kamu tidak menaruh kebencian kepada Ayahmu."
Selena sembari memikirkan setiap ucapan Daniel. Ya mungkin, dia tersakiti dengan ucapan dan perlakuan kasar Ayahnya. Tetapi, Selena sama sekali tidak membencinya. Selena hanya berharap Ayahnya bisa berubah, meninggalkan semua kebaikan buruknya dan memulai kehidupan yang baru. Bagaimana pun dia adalah Ayahnya. Jika tidak ada Ayahnya, ia juga tidak akan ada di dunia ini.
"Aku tidak membencinya, Dan. Tetapi, aku sungguh-sungguh berharap Ayah akan berhenti minum minuman keras, dan memulai kehidupan yang baru. Aku sungguh menantikan hari itu datang."
"Percayalah Sel. Hari itu akan datang. Asalkan kau tetap berpengharapan. Ada masanya Tuhan meminta kita menunggu, bahkan menunggu lama, supaya kita bersabar dan berbahagia ketika saat yang lama kita tunggu itu datang."
"Iya Daniel. Semoga."
Selena tersenyum kepada Daniel, ia melihat Daniel dengan mata yang mengisyaratkan sesuatu. Sikapnya begitu baik. Kata-katanya begitu bijak, perhatiannya kepadanya juga sangat baik. Sikap semanis itu bisa membuat orang jatuh cinta kepada Pria dari Mars yang Tuhan kirimkan untuknya itu.
__ADS_1