Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Sedikit Menjauh


__ADS_3

Hari telah berganti. Apabila banyak orang menyambut hari baru dengan semangat, tapi tidak untuk Selena. Hatinya masih sakit, hari baru serasa mendung kelabu. Dia nampak tak bersemangat, tetapi di depan Daniel dia berusaha baik-baik saja.


Seperti biasa, Selena berangkat ke kantornya diantar Daniel. Bahkan pria itu juga memberikan kotak bekal untuk Selena. Sungguh sebuah sikap yang terlalu manis, untuk seseorang yang terang-terangan telah menolak Selena. Sikap manis Daniel jugalah yang membuat Selena tidak bisa membencinya. Pria ini terlalu manis untuk Selena.


Sesampainya di depan kantor, Selena melepaskan seatbelt nya dan berbicara sebentar dengan Daniel.


"Dan, nanti sore gak usah jemput aku ya. Aku ada kerjaan sampai malam."


"Tapi kamu yakin cuma kerja kan? Kamu enggak bermaksud untuk mengunjungi Ayah kamu kan?"


"Iya, aku di kantor kok. Ada beberapa pekerjaan penting soalnya."


"Ah, iya. Kalau ke rumah Ayah, kabarin ya. Kamu jangan pergi ke sana sendiri, kapanpun kamu mau ke rumah Ayah, aku akan mengantarmu. Okay?"


"Iya Dan, kamu jangan khawatir, aku juga belum ingin ke sana, karena masih banyak pekerjaan. Untuk beberapa hari ke depan aku bakalan lebih sibuk, Dan."


"Gak papa Selena. Yang penting jaga kesehatan. Kalau perlu bantuan dariku jangan sungkan-sungkan ya."


"Iya Dan.... Makasih banyak ya. Aku kerja dulu ya Dan... Bye..."


"Bye Selena... Kalau perlu dijemput kabarin ya. Semangat Selena..."


Selena hanya menoleh ke belakang dan tersenyum sedikit kepada Daniel. Usai itu, Selena kembali ke perasaannya sebagai orang yang sedang patah hati. Selena berjalan dengan langkah yang berat. Hati dan pikirannya masih tersita untuk Daniel. Tetapi, jika berdiam diri di apartemen itu adalah tindakan yang bodoh baginya. Pergi ke kantor untuk bekerja adalah pilihan yang tepat karena ia tidak akan melihat Daniel seharian. Pikirannya bisa dialihkan untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor.


Pagi ini, Selena langsung ke ruangannya dan menyalakan Personal Computers (PC) di meja kerjanya. Setelah itu, dia mulai menyiapkan laporan apa saja yang perlu dicek atasannya pagi ini. Selena sungguh-sungguh telah berniat untuk menyibukkan dirinya sesibuk mungkin, sehingga ia bisa melepaskan pikirannya dari Daniel.


Ketika Selena masih fokus memperhatikan deretan tabel di komputernya, seseorang hadir menyapanya.


"Pagi Selena...." Sapa atasannya, tidak lain adalah Dexter Anthonius.


"Eh Pak Dexter.... Pagi juga Pak."


"Agenda saya hari ini dan nanti laporan yang harus saya cek, tolong disiapkan ya Selena."


"Baik Pak. Akan saya cek terlebih dahulu. Harap tunggu sebentar ya Pak."

__ADS_1


"Hemm.." Dexter segera berlalu dari hadapan Selena dan masuk ke dalam ruangannya.


Di dalam hatinya, Dexter bahagia bisa melihat Selena pagi ini. Namun, entah mengapa bayangan melihat Selena dan Daniel sewaktu menghadiri pernikahan CEO nya beberapa hari yang lalu membuat hati Dexter merasa sakit. Terlebih Dexter memiliki kecurigaan terhadap Daniel dengan melihat sapu tangan unik yang dikeluarkan Daniel saat itu.


Perasaan Dexter menjadi tidak enak, tetapi ia tidak boleh bersikap gegabah. Dia harus terlebih dahulu memastikan semuanya. Apabila ia bertindak gegabah justru berakibat fatal, tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk Selena.


Perasaan yang kembali muncul setelah 7 tahun berlalu. Waktu yang sangat lama. Waktu yang membuat Dexter benar-benar menjadi pribadi yang dingin dan tidak tertarik dengan kehidupan orang lain. Akan tetapi, mengapa hatinya bisa sedikit merasakan hal seperti ini kepada Selena.


Beberapa menit di dalam ruangannya, Dexter hanya melamun dan menggerak-gerakkan pulpen di tangannya. Seolah-olah begitu banyak pikiran yang sedang berkecamuk di kepalanya.


Lamunan Dexter seketika hilang, saat Selena mengetuk pintunya.


Tookkk..... Tookkkk..... Toookkkkk....


Bunyi ketukan pintu.


"Permisi Pak." Sapa Selena sembari membuka daun pintu.


"Ya masuk."


"Pak, ini jadwal Bapak untuk hari ini. Dan, ini laporan yang harus segera Bapak cek." Ucap Selena sambil menyerahkan beberapa file dokumen kepada Dexter.


"Hem, makan siang Pak? Tapi saya membawa bekal Pak. Bagaimana ya?"


"Bekal bisa kamu makan nanti, lagipula ada yang perlu saya bicarakan ke kamu."


Selena nampak berpikir, apa lagi yang ingin dikatakan Dexter kepadanya. Tetapi, untuk menghormati atasannya akhirnya mengiyakan ajakan atasannya itu.


"Baik Pak. Kalau sudah tidak ada yang perlu disampaikan lagi saya keluar ya Pak. Terima kasih."


"Hem." Lagi-lagi Dexter menjawab dengan singkat.


***


Jam makan siang

__ADS_1


Seperti ajakan Dexter waktu tadi pagi. Dexter saat ini tengah bersama Selena di salah satu rumah makan Jepang yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantornya.


Berbagai menu Sushi dan Minuman Teh Hijau (Ocha) telah tersajikan di depan Dexter dan Selena.


"Dimakan Selena. Jangan sungkan."


"Iya, makasih Pak."


"Kalau mau nambah, kamu silakan nambah lagi."


"Makasih Pak."


"Selena, bolehkah saya bertanya?"


"Boleh, bertanya tentang apa Pak?"


"Sorry ini pertanyaan pribadi tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Berapa lama kamu mengenal Daniel, teman pria kamu waktu itu?"


"Oh, Daniel. Belum lama Pak. Kenapa Pak? Apa Pak Dexter ingin lebih kenal kepada teman saya itu?" Selena sesungguhnya tengah menyelidiki dalam hatinya mengapa Dexter mendadak menanyakan tentang Daniel kepadanya.


"Hem, boleh juga kalau kenalan. Lagipula saya di sini tidak begitu punya banyak teman." Sahutnya dengan wajahnya yang datar dan auranya yang dingin.


"Tapi kenapa Bapak ingin berteman dengan Daniel?" Selena mengerutkan keningnya, banyak yang ingin ia ketahui apa motif dari atasannya itu.


"Tidak, Daniel terlihat baik. Saya rasa saya perlu berteman dengan orang yang baik supaya tidak salah pergaulan." Jawabnya asal. Dexter tahu pasti Selena akan menyelidikinya.


"Oh, Daniel memang baik sih Pak." Bagaimana pun Selena tak bisa memungkiri bahwa Daniel memang baik, hanya saja hatinya kembali sakit saat mengingat bagaimana Daniel tidak menerima perasaannya semalam.


"Kalau kamu baru saja mengenal Daniel, bagaimana kamu bisa mengatakan dia orang yang baik?"


Selena bergumam dalam hatinya, "Ya apa saya harus bilang saya tinggal dengannya Pak. 😳 Gak mungkin juga kan Pak Dexter."


"Hehehehe.. tidak perlu waktu lama untuk menilai orang tersebut baik atau tidak Pak. Hati bisa langsung memberikan tanda orang tersebut baik atau tidak." Ucap Selena seraya menganggukkan kepalanya.


"Hem, benar juga. Oh, iya nanti bisa lembur tidak sepulang kerja? Ada laporan pengeluaran dari Divisi Finansial yang harus segera dicek. Mau tidak bantuin saya mengerjakannya? Dulu kamu bilang kan kalau bisa masih bisa sedikit mengerjakan bagian Keuangan walau hanya sedikit." Penjelasan Dexter memastikan.

__ADS_1


"Ya Pak, saya akan lembur nanti. Terima kasih Pak."


Lembur menjadi kesempatan juga untuk Selena, karena tadi pagi dia sudah berkata kepada Daniel bahwa ia akan lembur sore ini. Dan, ternyata Dexter memang memberikan pekerjaan tambahan untuk Selena.


__ADS_2