
Setelah beberapa hari tinggal di apartemen Daniel, Selena akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Dia ingin tetap berpenghasilan, supaya ia tidak terlalu merepotkan Daniel dan ia tetap bisa memberikan sedikit dari penghasilannya untuk ayahnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Selena telah mengemailkan beberapa surat lamaran kerja di beberapa perusahaan, akhirnya ada satu perusahaan yang menghubungi Selena untuk wawancara hari itu.
Selena bangun lebih pagi, ia bergegas mandi dan membuat sedikit sarapan seperti biasanya, lalu ia akan segera menuju Perusahaan Buana Corp, Selena melamar sebagai staf akuntan di perusahaan tersebut. Dia belum bercerita kepada Daniel kalau hari itu, ia akan wawancara. Beberapa hari sebelumnya ia memang mengatakan kepada Daniel akan mencari pekerjaan, dan Daniel pun menyetujuinya bahkan Daniel juga mendorong Selena untuk tetap bekerja.
Selena menikmati sarapan yang ia buat hari itu, roti bakar selai cokelat dan secangkir teh hangat. Baru ia akan membuatkan cokelat hangat untuk Daniel, pria itu sudah bangun dan menuju ke dapur.
"Pagi Selena..."
"Pagi Daniel..."
"Kamu sudah bangun? Kok pagi-pagi sudah rapi?"
Daniel memperhatikan gadis di depannya yang sudan menggunakan celana kain berwarna hitam dan kemeja berwarna putih, siap dengan blazer berwarna hitam yang ditaruh gadis itu di kursi dekat meja makan. Pemandangan tak biasa. Selena biasanya hanya mengenakan pakaian santai setiap harinya. Dan, hari ini penampilannya sangat rapi.
"Iya, aku hari ini ada wawancara pekerjaan di Perusahaan Buana Corp. Aku melamar sebagai staf akuntan di sana."
"Oh, iya di mana itu?" Sahut Daniel dengan cepat.
"Kemarin aku lihat di peta, tempatnya tidak jauh dari sini bila naik motor hanya 15 menit."
Daniel menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Selena.
"Mau antar ke sana?"
"Hmm, apakah aku tidak merepotkan?"
"Gak sama sekali kok."
Daniel segera meminum habis cokelat panas yang sudah dibuatkan oleh Selena. Setelah itu, dia bersiap kurang selama 10 menit, dan dia bergegas mengantar Selena untuk mengikuti wawancara Selena.
__ADS_1
Jarak tempuh Buana Corp. dengan apartemen Daniel tidak terlalu jauh, bahkan bila menaiki bus umum hanya melewati dua halte pemberhentian saja.
"Terima kasih ya Daniel, sudah mau nganterin aku."
Ucap Selena sembari keluar dari mobil Daniel dan melambaikan tangannya kepada Daniel yang masih duduk di kursi kemudinya.
"Sukses wawancaranya ya. Semangat Selena!"
Daniel memberikan semangat untuk Selena. Pun, ia berdoa dalam hatinya supaya Selena mendapatkan pekerjaan di kantor itu.
*
Di dalam Perusahaan Buana Corp. Selena bergegas mengikuti wawancara bersama kandidat lainnya. Selena berusaha setenang mungkin untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan.
Tanpa diketahui oleh Selena, salah satu pewawancara yang tidak lain adalah Direktur di perusahaan itu sejak tadi memperhatikan Selena. Bagaimana Selena bersikap, menjawab pertanyaan, dan sebagainya tidak lepas dari mata Direktur ini.
Sementara Selena tidak mengetahui ada orang yang diam-diam memperhatikannya. Selena hanya fokus untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dan memenangkan dirinya sendiri yang memang sedang merasa cemas menghadapi wawancara.
Akan tetapi, Selena pantas bersyukur karena ia bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan. Semua kandidat wawancara diperboleh kembali pulang, karena hasil wawancara akan disampaikan metallic email dan perusahaan akan menghubungi secara langsung.
Keluar dari lift, Selena bertabrakan dengan salah seorang Direktur yang tadi turut menjadi pewawancara para pelamar staf akuntan. Selena menabrak bahu Direktur itu, dia sangat kaget dan langsung meminta maaf.
"Maaf... Maafkan saya Pak. Saya tidak sengaja menabrak Bapak."
Selena menundukkan kepalanya tanda ia meminta maaf kepada orang tersebut.
Direktur itu hanya diam berdiri di depan pintu lift, mendengar permintaan maaf Selena, dia tak bergeming. Dia hanya tidak menyangka kembali bertemu dengan calon karyawan perusahaan itu yang sejak wawancara berlangsung ia perhatikan. Tidak disangka gadis yang sedari tadi ia perhatikan, kini berdiri di hadapannya.
Direktur itu nampak seperti sosok yang misterius. Pria berusia 32 tahun itu memiliki air muka yang dingin dan tegas. Matanya setajam elang, hidungnya mancung sempurna, alisnya yang hitam hampir bertautan satu sama lain. Pria beraura dingin itu melihat Selena sekilas dengan matanya dan berkata.
"Tidak apa-apa. Tidak masalah kau boleh pergi."
__ADS_1
Balas Direktur itu dan lalu ia masuk ke dalam lift meninggalkan Selena dengan kepalanya yang masih menunduk.
"Terima kasih Pak."
Ucap Selena sembari menundukkan kepalanya kepada pria beraura dingin yang tengah memasuki lift itu.
Usai itu, Selena mulai berjalan keluar dari lobby, dan menunggu bus dari halte yang jaraknya tidak jauh dari perusahaan itu.
"Siapa pria yang tadi kutabrak, kenapa pria itu terasa dingin dan misterius. Wajahnya tegas dan mata yang tajam. Kenapa dia tidak seperti Daniel, Pria dari Mars itu memiliki padangan mata yang teduh dan bersahabat. Hmm, lagian kenapa juga aku tiba-tiba teringat kepada Daniel." Gumamnya dalam hati sembari menunggu datangnya bus kota.
Hari yang semula terang, tiba-tiba berubah mendung gelap. Selena menatap langit yang mulai berwarna gelap.
"Hmm, tadi pagi begitu cerah. Sekarang mendung, pasti sebentar lagi hujan. Semoga hujannya turun ketika aku sudah sampai di rumah, apalagi aku sekarang tidak membawa payung." Gumam Selena.
Tidak berapa lama, bus kota yang akan ia tumpangi telah tiba. Dengan segera ia menaikki bus itu, Selena berdiri karena dia hanya perlu turun di dua halte pemberhentian. Baru saja, ia menaikki bus itu, tiba-tiba hujan turun.
"Yah, ternyata hujan turun sekarang. Ini berarti aku harus berhujan-hujan ria berjalan kaki dari halte menuju ke apartemen."
Kini bus kota itu telah berhenti di halte yang diturunin Selena. Selena bersegera turun, dan hendak berlari, mengangkat hand bag nya yang berwarna hitam ke atas kepalanya untuk melindungi kepalanya dari guyuran air hujan. Baru ia berlari berlari beberapa langkah, tiba-tiba ada sosok yang memayungi Selena.
Gadis itu pun berhenti berlari, perlahan-lahan matanya melihat ke atas, mencari siapa orang yang tiba-tiba berdiri memayunginya. Pria itu berdiri di hadapan Selena dengan sebuah payung berwarna merah dengan ukuran besar. Selena mulai menaikkan pandangan matanya.
Satu.... Dua.... Tiga....
Deg.
Mata Selena menatap seorang pria yang tadi sore tiba-tiba ia pikirkan sembari menunggu bus kota.
"Daniel.... Bagaimana kamu bisa ada di sini?"
Pria itu adalah Daniel. Dengan senyumannya yang membuat wajahnya semakin tampan, Daniel tiba-tiba saja ada di halte itu tepat saat Selena turun dari bus.
__ADS_1
"Ya, Selena.... Aku di halte ini menunggumu pulang."
Senyum keduanya bertemu di bawah payung saat hujan turun dengan lebatnya.