
Sahabat itu seperti bintang, walau tidak selalu nampak terlihat, namun ia selalu ada untuk kita.
Daniel, Dexter, dan Selena nampak mengakrabkan diri mereka ditemani minuman dingin yang sebelumnya telah mereka pesan.
Untuk waktu yang lama, Dexter mencoba mengakrabkan dirinya dengan orang lain. Selama hampir 7 tahun, dia hidup sendiri tanpa ingin tahu masalah orang lain, dan kini sesuatu yang aneh ia rasakan, ya berdekatan dengan orang lain. Walaupun tujuan Dexter tidak murni untuk bersahabat dengan Daniel, tapi dengan sedikit lebih dekat padanya, Dexter ingin membuktikan bahwa kecurigaannya benar sehingga ia bisa mengambil langkah.
"Pak Dexter, apa benar Bapak tidak memiliki teman atau sahabat?" Tanya Selena sembari meminum Karamel Macchiato nya.
"Tidak. Tidak ada. Waktuku habis untuk bekerja setiap hari sehingga aku tidak memiliki waktu untuk berteman." Jawab Dexter dengan matanya menyapu ke arah luar jendela. Dia menyadari betapa dalam waktu yang sangat lama hanya dia habiskan dalam kesendirian, menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang tiada habisnya sembari mengenang sosok wanita yang sangat dicintainya.
"Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba ingin berteman dengan Daniel dan saya? Bukankah itu terasa aneh." Ucap Selena ingin tahu lebih banyak tentang niat seorang Dexter.
"Aku merasa kalian berdua orang yang baik. Entahlah, aku ingin saja berteman dengan kalian. Bukankah aku pernah bilang tidak ada alasan khusus untuk berteman dengan seseorang." Jawab Dexter kepada Selena.
"Butuh waktu untuk menilai seseorang baik atau tidak Pak. Bahkan untuk waktu yang lama. Seringkali yang baik saat ini di hadapan mata kita, belum tentu untuk waktu yang akan datang tetap baik." Sahut Selena sembari mengaduk-aduk minumannya.
"Bagaimana menurutmu Daniel, apakah menurutmu kita perlu alasan untuk berteman dengan seseorang?" Tanya Dexter kepada Daniel.
Daniel yang semula hanya menjadi pendengar, kita mulai tersenyum dan mencoba menjawab pertanyaan Dexter.
"Saya percaya untuk segala sesuatu ada alasannya Pak. Jadi kadang memang perlu alasan mengapa Bapak ingin berteman dengan kami."
"Oh, jadi kalian berdua kompak ya?"
"Kompak? Kompak kenapa Pak?" Tanya Selena dengan sorot matanya kepada Dexter.
__ADS_1
"Ya kompak kalau harus perlu alasan sebelum berteman dengan kalian berdua. Hem?"
"Kalau saya, saya tidak mau menjadi teman Bapak. Hubungan kita hanya atasan dan bawahan saja, Pak. Saya akan menolak hubungan pertemanan dengan Bapak. Tapi, Bapak bisa berteman dengan Daniel, itu pun kalau Daniel setuju."
Daniel nampak tersenyum memandang Selena yang tetap kekeuh dengan pendiriannya untuk menjaga hubungan professional seorang atasan dan sekretarisnya.
"Kalau saya, bisa sih berteman dengan Pak Dexter. Tidak masalah buat saya." Jawab Daniel dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Oke, sekarang kita berteman kan Daniel?"
"Ya Pak, kita berteman."
"Tapi sebagai teman, kau bisa memanggilku Dexter saja. Biar Selena saja yang memanggilku Bapak, karena baginya aku adalah Bapaknya. Hahahaha..." Dexter tertawa ingin sedikit mengejek Selena.
"Terserah Bapak aja. Lagipula, Bapak adalah atasan saya jadi saya tetap harus menghormati Anda." Sahut Selena sedikit ketus.
"Karena Daniel orang yang baik, dia selalu menolong saya." Ucap Selena lirih sambil sedikit mencuri pandang ke arah Daniel yang duduk di sampingnya.
"Jadi saya bukan orang yang baik ya Selena?" Tanya Dexter dengan menatap Selena.
"Ah bukan begitu Pak. Bapak juga baik kok. Tapi kan Bapak atasan saya. Jadi beda konteks dong Pak."
"Kamu aja yang terlalu kaku, Selena. Bukankah saya bilang kita berteman di luar kantor saja, kalau di dalam kantor ya kita professional kerja, atasan dan sekretarisnya. Lagipula banyak juga kok sesama staf yang menjalin pertemanan. Bahkan ada yang punya hubungan lebih dari teman." Sahut Dexter panjang lebar dengan mimik wajah yang terlihat jengkel dengan Selena.
"Sudah Pak Dexter, biarkan saja Selena. Dia pasti butuh waktu, Pak. Tidak baik terlalu memaksakan kehendak kita kepada orang lain, Pak." Ucap Daniel yang mencoba menengahi Dexter dan Selena yang seolah tak menemukan titik temu. Satu ingin berteman, sementara Selena enggan berteman dengan Dexter.
__ADS_1
"Makasih, Dan." Selena mengucapkan terima kasih kepada Daniel. Bagi Selena, tidak ada orang yang bisa mengerti dirinya sebaik Daniel. Karena itulah, perlahan Selena menaruh perasaan kepada Daniel dengan sifatnya yang bijaksana dan baik hati tentunya.
"Dimakan kue nya Selena. Jangan hanya minum terus, perutmu bisa kembung." Daniel mengingatkan Selena untuk memakan kue Chocolate Mille Crepes yang dipesannya.
"Ah, iya. Aku sampai lupa dengan kue ini." Selena mengambil garpu kecil, memotongnya sedikit dan menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya. Kuenya benar-benar enak. Cokelatnya lembut.
Daniel tersenyum geli melihat Selena yang menyantap kuenya. Ekspresi seperti anak kecil yang mendapatkan kue, seperti itulah ekspresi Selena. Sungguh menggemaskan.
"Ada sedikit cokelat di sudut bibirmu, Selena." Ucap Daniel memberikan sebuah tissue kepada Selena.
"Ah, benarkah? Makasih Dan." Selena menerima tissue itu dan mulai mengelap setiap sudut bibirnya. "Kenapa kamu begitu perhatian, Dan. Perhatianmu kepada setiap hal-hal kecil inilah yang membuatku menaruh hati padamu." Gumam Selena dalam hati, dan tiba-tiba pun ia sedih mengingat bagaimana perasaannya tak terbalas.
Dexter yang duduk di depan keduanya pun, mengamati sikap mereka berdua. Selena bersikap tidak seperti biasanya, bahkan terkesan malu-malu. Fixed, Dexter merasa bahwa gadis itu pasti menyimpan yang perasaan untuk Daniel. Tetapi, bagaimana pun inilah tujuan Dexter mendekati mereka, dia ingin mendapatkan jawaban atas setiap hal yang mengganggu pikirannya. Sehingga ke depannya Dexter tidak akan gegabah saat mengambil langkah.
"Hem, jadi saya dicuekin nih?" Dexter berbicara sembari mengamati tingkah tak biasa dari sekretarisnya itu.
"Apaan sih Pak Dexter ini, saya gak cuekin siapa pun di sini ya." Sahut Selena dengan nada cemberut.
"Hem, kamu lucu Selena." Sahut Dexter yang tertawa melihat Selena.
"Aish, apaan sih. Gak lucu juga." Gerutu Selena.
"Saya rasa memang Pak Dexter dan Selena tidak cocok berteman deh, karena sejak tadi kalian cek-cok terus seperti anak-anak yang berebut permen." Daniel tiba-tiba mengeluarkan suaranya dan tertawa. Pemandangan yang sungguh menggelikan melihat dua orang yang bekerja sama, tapi nampak tidak pernah akur.
"Dan...." Selena memukul lengan Daniel yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau kalian tidak pernah akur, kenapa bisa bekerja bersama bahkan kamu bisa menjadi sekretaris Pak Dexter? Bukankah itu aneh, sekaligus lucu?" Tanya Daniel sembari tertawa menatap Selena.
"Kalau untuk kerjaan kan beda, Dan. Harus professional, tugas juga diselesaikan sesuai deadline yang diberikan. Jadi, ya itu tidak masalah." Jawab Selena sembari melihat Dexter.