Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Saat Cinta Menyapa


__ADS_3

Seperti musim semi yang perlahan-lahan berbunga setelah gugur berkali-kali. Cinta akan datang, kasih sayang akan menyapa setelah patah dan hancur berkali-kali.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Selena, ia merasakan kuncup-kuncup bunga bermekaran indah di hatinya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan untuk menyayangi dan mencintai seorang pria.


Bukan karena kebetulan, perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Kebaikan dan ketulusan seorang Daniel perlahan-lahan mencairkan perisai es di dalam hati Selena. Hati yang semula ia tutup rapat, perlahan-lahan mulai terbuka. Seperti musim semi yang datang menyapa, musim yang indah, musim yang penuh warna karena bunga-bunga bermekaran dengan pesonanya.


Selena berdiri di balkon usai menyirami semua tanaman yang ada di sana. Dia memikirkan perasaannya untuk Daniel, perasaan yang lebih dari sekadar tertarik, perasaan untuk bisa menyayangi satu sama lain.


Selena berpikir, apabila ia menyatakan perasaannya akankah Daniel membalasnya? Tetapi, meskipun hanya satu kali Selena ingin mengungkapkannya. Sekalipun Daniel menolaknya, dia tak akan patah hati. Bagaimana pun dia hanya ingin menyatakan perasaannya.


Melihat Selena yang duduk di balkon, Daniel pun menghampirinya.


"Hai Selena, ngapain sendirian di sini?"


"Oh, ini... aku abis menyirami semua tanaman di sini. Bunga-bunganya sudah mulai bermekaran. Indah bukan?"


"Iya, indah."


"Daniel...." Selena memanggil nama Daniel, jauh di kedalaman hatinya dia ingin mengungkapkannya perasaannya yang tulus untuk Daniel.


"Hmm, ada apa Selena?" Sahut Daniel sembari ia memotong daun-daun layu yang mulai ada di berbagai tanamannya.


"Hemm, gak papa. Tidak jadi." Balas Selena dengan keraguan yang menyelimuti hatinya.


"Ada apa? Kalau ada yang perlu dibicarakan, ngomong saja, cerita saja, aku akan mendengarkanmu."


"Daniel, pernahkah kau jatuh cinta?" Tanya Selena dengan pelan-pelan, sekaligus ia ingin tahu bagaimana respons Daniel.

__ADS_1


"Jatuh cinta? Hem, kurasa aku belum pernah merasakannya? Kau sendiri?"


"Entahlah, kurasa aku belum pernah merasakannya. Aku memiliki luka yang kudapat dari kedua orang tuaku, sehingga aku tidak percaya pada sebuah komitmen."


"Mengapa demikian Selena?" Telisik Daniel kepada Selena.


"Kedua orang tua nyatanya gagal dalam menjalankan komitmen dalam pernikahan, Ibuku pergi meninggalku dan ayahku, dan kini ayahku hanya menenggelamkan dirinya dalam minuman keras yang ia minum setiap hari. Ibuku pergi bersama laki-laki lain. Aku tumbuh menjadi seorang yang tidak percaya dengan arti sebuah komitmen dalam hubungan."


Daniel mendengarkan cerita Selena dengan penuh perhatian. Sekian lama hidup bersama dalam satu atap, lantaran Selena bekerja, sehingga keduanya terkadang memang jarang mengobrol bersama. Obrolan mereka nyaris hanya di dalam mobil, saat Daniel mengantarnya pagi hari dan menjemputnya di sore hari.


"Selena, tapi apakah hatimu sekarang baik-baik saja? Hmm, maksudku perasaanmu."


Selena membuang nafas perlahan, sejauh ini tidak pernah ada yang menanyakan bagaimana hati dan perasaannya selama ini. Pertanyaan yang membuat hati Selena tersentuh.


"Dulu aku memang merasa sakit. Aku tersiksa setiap harinya, tetapi kurasa sekarang aku baik-baik saja. Aku merasa perasaanku lebih baik sekarang. Aku jarang menangis dan larut dalam kesedihanku sendiri. Huummm, kurasa sekarang aku baik-baik saja, Dan..."


Seperti terpaan angin di musim semi, Daniel merasakan kehangatan dan kebahagiaan dari perkataan Selena itu.


"Syukurlah kalau sekarang kamu baik-baik saja. Ketahuilah Selena, aku akan menjadi orang pertama yang akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaanmu." Ucap Daniel tulus.


"Terima kasih Daniel, agaknya perlahan-lahan doamu itu sudah didengar dan dijawab oleh Tuhan. Terima kasih untuk semuanya Daniel."


"Sama-sama Selena. Apapun yang terjadi, berjanjilah kamu akan selalu bahagia ya."


"Iya Dan... Kuharap juga seperti itu. Dan, sebenarnya ada satu lagi yang ingin kukatakan kepadamu."


"Hmm, apa itu?"

__ADS_1


"Perlahan-lahan namun pasti, agaknya aku mulai menyukaimu, Dan."


Ungkapan itu muncul begitu saja dari bibir Selena tanpa bisa dihentikan. Ungkapan perasaannya yang tulus untuk Daniel.


Daniel yang mendengarnya pun, mulai menyadari bahwa Selena memiliki perasaan suka, perasaan yang tumbuh di antara laki-laki dan perempuan.


"Sejak kapan perasaan itu ada Selena?" Jawab Daniel perlahan, bagaimana pun ia tak ingin melukai Selena. Setelah mendengar pernyataan Selena bahwa dirinya kini baik-baik saja, Daniel justru takut apabila ia sendiri yang justru menyakiti Selena. Karena itu, ia berusaha mendengar terlebih dahulu perasaan Selena.


"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu. Hmm, mungkin sama seperti bunga-bunga ini di mana kita tidak tahu kapan ia bertumbuh, mekar, hingga akhirnya layu. Aku pun tak tahu kapan perasaan itu tumbuh. Entah karena kamu menjadi orang yang selalu menolongku, atau kebaikanmu setiap hari yang sungguh menyentuh hatiku. Aku tidak tahu, aku hanya tahu arti perasaanku padamu."


Selena mengulurkan tangannya memegang bunga yang mekar dengan sangat indah sembari menyatakan perasaannya. Dia sungguh-sungguh tidak tahu kapan perasaan itu ada, tapi dia tahu bahwa yang ia rasakan adalah rasa sayang, rasa cinta.


"Selena, tapi....." Sahut Daniel.


"Hmm, aku tahu Daniel, tanpa kamu ucapkan aku tahu kamu gak akan menyukaiku kan." Selena memotong ucapan Daniel dengan tersenyum, walaupun itu adalah sebuah senyuman getir dengan menahan rasa kecewa di hatinya.


"Bukan begitu Selena, aku hanya.... aku hanya tidak bisa untuk menyukaimu. Ya, aku menyukaimu tetapi itu adalah rasa cinta yang dibagi untuk sesama manusia. Bukan rasa cinta antara laki-laki dan wanita." Daniel memberi penjelasan dengan sangat hati-hati kepada Selena, bagaimanapun jangan sampai perkataannya melukai perasaan Selena.


"Aku tahu, Dan. Sangat tahu. Akan tetapi, setidaknya aku berani maju satu langkah untuk menyatakan perasaanku. Dengan begitu, hatiku akan menjadi sedikit lebih lega." Balas Selena dengan menahan air matanya.


"Maafkan aku Selena. Bukan kamu yang tidak pantas untukku, tapi akulah yang tidak pantas untukmu Selena. Dan, aku berharap kamu tidak menutup hatimu. Aku berharap kamu akan menemukan cinta yang baru. Cinta yang akan memperlengkapimu setiap hari. Cinta yang membuatmu hidup bahagia."


"Humm, iya Daniel, aku tahu. Bagaimanapun terima kasih karena kau selalu menolongku, kau selalu baik padaku, kau menjadi orang yang mau mendengar ceritaku, bahkan kaulah satu-satunya yang melihatku dalam kelemahanku. Terima kasih Daniel."


Selena sungguh-sungguh berterima kasih kepada Daniel, tanpa kebaikan hatinya Selena tidak akan sampai pada titik ini. Dan, kepada Daniel lah ia bisa menunjukkan sisi terlemahnya sebagai seorang anak yang tinggal dalam kesedihan dan penderitaan.


"Selena, tapi berjanjilah untuk tidak bersedih ya... Bagaimanapun aku tidak ingin membuatmu bersedih. Kau terlalu berharga untuk bersedih. Janji ya..."

__ADS_1


"Ya Dan, aku berjanji." Selena menganggukkan kepalanya, ia harus kembali menenangkan hatinya, menyembuhkan lagi hatinya lantaran perasaannya yang tak terbalas.


__ADS_2