
Sore ini sepulang kerja, Selena yang kali ini tidak dijemput oleh Daniel berencana untuk mengunjungi Ayahnya. Lagipula, sudah tiga minggu lamanya dia tidak pulang ke rumahnya. Tiga minggu ternyaman dalam hidupnya, tidak ada yang membentaknya, tidak ada yang memukul atau menamparnya, tidak ada perkataan kasar yang biasanya ia terima hampir setiap malam. Akan tetapi, hari ini entah kenapa Selena merindukan Ayahnya. Sekalipun Ayahnya selalu kasar kepadanya, jauh di dalam lubuk hatinya Selena selalu berharap suatu hari Ayahnya akan tersadar dari segala perbuatannya selama ini dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Sebelum melaju dengan bus kota menuju rumahnya, ia terlebih dahulu mengirimkan pesan kepada Daniel. Ia memberitahukan posisinya sekarang, bagaimana pun ia tak ingin Daniel khawatir mencarinya.
Dengan membawa Martabak Bangka yang merupakan makanan kesukaan Ayahnya, Selena berjalan menyusuri jalan-jalan kecil menuju rumahnya. Selena mengingat lagi bagaimana dulu ia menghabiskan masa kecilnya di rumahnya itu, bagaimana ia menangis di jalan ketika Ayah dan Ibunya bertengkar, dan saat terakhir ketika Ayahnya memukulnya. Semua memori itu satu per satu muncul di dalam ingatannya. Mendekati rumahnya, Selena melangkahkan kakinya perlahan. Dalam hatinya, ia masih takut menghadapi Ayahnya. Akan tetapi, sebagai anak dan sebagai satu-satunya keluarga yang ada Selena memberanikan dirinya untuk datang.
Di depan rumahnya, Selena melihat beberapa orang duduk di depan teras rumahnya, bau asap rokok dan minuman keras begitu menyengat. Dengan hati yang bergetar karena takut, Selena membuka gerbang rumahnya dan mencari keberadaan Ayahnya.
"Ayah.... Ayah.... Selena datang."
Sekitaran empat orang dengan wajah merah karena menenggak minuman keras pun menatap Selena. Mereka tahu bahwa Selena ini adalah anak yang empunya rumah. Akhirnya orang-orang yang sudah mabuk itu pergi dari rumah Selena. Sementara Ayah yang ingin ditemuinya belum menampak dirinya. Selena tidak berani masuk ke dalam rumah. Dia hanya berdiri di teras rumahnya menunggu Ayahnya. Hingga hari pun telah berganti malam.
Lama menunggu, Selena memberanikan diri masuk ke dalam rumah, dia melihat bagaimana kotor dan berantakannya rumahnya. Dia lalu menaruh tas kerjanya di sofa, lalu mengambil sapu dan pel. Ia punguti putung-putung rokok yang bertebaran di mana-mana. Ia pel lantainya yang terlihat kotor, lalu ia membuang botol-botol minuman keras ke tempat sampah. Hampir satu jam Selena, membersihkan rumahnya. Hingga suara sepeda motor terdengar memasuki halaman rumahnya, dan Selena bergegas ke luar.
Pria yang turun dari sepeda motor dengan keadaan mabuk adalah Ayah Selena.
"Ayah.... Selena datang."
Selena menyapa dengan halus Ayahnya yang pulang lagi-lagi dengan keadaan mabuk.
"Oh, anak durhaka ini sudah pulang ya rupanya."
Perkataan Ayahnya begitu menyakiti hati Selena. Anak pulang tidak disapa dengan sapa dan pelukan hangat, tapi justru disambut dengan perkataan yang menusuk hati.
"Ayah....."
"Untuk apa kamu datang kemari anak gak tau diri? Bukankah kamu yang berniat pergi dari rumah ini, untuk kamu kembali?"
"Ayah..... Maafkan Selena Yah.. Selena cuma ingin mengunjungi Ayah sebentar."
__ADS_1
"Kelakuanmu sudah seperti Ibumu ya yang main kabur sama pria asing? Ternyata gak salah, selama ini. Ya, kamu memang anaknya, jadi jelaslah kalau kamu sepertinya."
Selena menangis beruraian air mata mendengar perkataan Ayahnya yang menyamakan dirinya dengan Ibunya karena pergi dengan pria lain.
"Ayah.... tidak seperti itu, Yah. Ayah salah sangka."
"Aku sendiri yang melihatmu pergi dengan pria itu, bagaimana mungkin kamu berpikir aku salah sangka. Lalu, untuk apa kamu kesini?"
"Selena membelikan Martabak Bangka kesukaan Ayah. Selena sudah kembali bekerja, Yah. Selena teringat Ayah, jadi Selena datang kemari."
"Ayah tak perlu Martabak Bangka dari anak durhaka sepertimu. Lebih baik kau pergi sekarang, dan jangan kemari lagi."
"Ayah.... tapi Ayah...."
Selena masih menangis ingin mengatakan bagaimana pun ia adalah anaknya, ia merindukan sosok Ayahnya, dan ia selalu berharap Ayahnya bisa berubah.
"Ayah, tolong dengarkan Selena kali ini saja. Berhentilah minum minuman keras Yah. Itu tidak baik untuk kesehatan Ayah. Terlalu banyak minuman keras bisa organ tubuh Ayah."
"Ayah...."
"Kamu mau ngomong supaya Ayahmu ini cepet mati kan? Gak usah basa-basi ngomong sama Ayah. Pergi dari sini bawa Martabakmu sana, aku gak sudi nerima makanan dari anak yang mendoakan Ayahnya mati."
"Ayah... Bukan itu maksud Selena. Ayah harus berubah Yah, itu harapan Selena. Jangan minum minuman keras lagi."
Selena menangis terisak-isak berbicara kepada Ayahnya. Dari hatinya terdalam ia sungguh ingin Ayahnya berubah.
"Pergi sana. Jangan kesini lagi. Gak perlu kamu nengokin Ayahmu ini!"
Ayahnya memegang tangan Selena dengan kencang lalu seakan melemparkannya ke luar dari luar rumah. Setelah Selena keluar, Ayahnya juga melemparkan Martabak yang masih berada di meja ke luar tepat mengenai baju dan sepatu Selena.
__ADS_1
Selena menangis sejadi-jadinya. Dia memunguti Martabak yang sudah jatuh ke tanah itu, memasukkan ke wadahnya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Ayah, mengapa Ayah begitu jahat sama aku? Aku padahal selalu mengingat Ayah. Aku gak pernah melupakan Ayah. Tapi, lagi dan lagi Ayah memukulku. Selena sakit Yah.... Huuu.... Huu..... "
Selena keluar dari rumahnya dengan mata bengkak, sudut bibir yang terluka, dan bajunya yang kotor terkena lemparan Martabak. Kondisinya saat ini tentu akan menjadi ejekan orang lain apabila ia pulang dengan menaiki bus kota. Mata-mata orang pasti akan tertuju padanya. Ia lalu membuka tas miliknya, mencari-cari apakah ada masker di sana untuk menutupi luka di wajahnya. Betapa beruntungnya dia mendapatkan masker di dalam sana. Dengan segera ia mengambil dan memakainya. Paling tidak dengan menggunakan masker, luka di wajah dan sudut bibirnya akan tertutupi.
Setelah itu, Selena memesan taksi online untuk mengantarnya pulang ke apartemen Daniel.
Di sisi lain, Daniel menunggu Selena pulang, gadis itu memang mengabarinya untuk mengunjungi Ayahnya sebentar, tapi sudah hampir jam 9 malam dan dia belum pulang. Beberapa kali Daniel menelpon tetapi tidak dijawab. Pria itu mondar-mandir di ruang keluarga menunggu kabar dari Selena. Daniel akan menunggu hingga jam 10, apabila Selena belum datang ia akan menjemputnya.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Daniel mengambil kunci mobilnya dan ingin segera mencari Selena. Baru ia akan membuka pintu, tetapi pintunya sudah terbuka terlebih dahulu.
"Selena....."
Daniel terkejut melihat pakaian Selena yang kotor dan gadis itu pulang menutupi wajahnya dengan masker.
"Sorry, aku baru pulang." Sapa Selena kepada Daniel yang berdiri di hadapannya.
"Kamu kenapa Selena? Kenapa bisa seperti ini?"
"Hmmm, biasa Daniel. Bagaimana Ayahku."
Gadis itu tersenyum getir.
Tanpa banyak bicara, Daniel meraih tangan Selena. Menuntun gadis yang terluka itu ke tempat duduk. Daniel mengambil kotak P3K dan mengambil kembali salep lebam yang dulu diperoleh Selena ketika ia dirawat di rumah sakit.
Daniel melepaskan masker yang menutupi wajah Selena. Dia terbelalak melihat wajahnya yang merah dan sudut bibirnya yang luka.
"Seperti ini lagi Sel?" Tanya Daniel dengan menahan air mata di pelupuk matanya.
__ADS_1
Baru sehari dia tidak menjemput Selena, membiarkan dia waktu bersama Ayahnya, tapi akhirnya gadis itu harus terluka. Daniel menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjaga Selena. Gadis yang harus ia lindungi, tetapi pulang dengan pakaian kotor berantakan dan luka di wajahnya. Daniel sungguh menyesal tidak berada di samping Selena untuk menjaganya.