Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Keputusan Besar


__ADS_3

Selena dan Dexter masih berada di ruangan Dexter bukan membahas pekerjaan, tetapi justru membahas permasalahan rumit antara Selena dan Daniel.


"Jadi apa keputusanmu, Selena?" Tanya Dexter dengan serius.


"Saya masih bingung sekaligus takut dengan konsekuensinya Pak. Saya tak ingin mengorbankan Daniel." Mata Selena nampak berkaca-kaca, namun ia menahannya jangan sampai ia menangis saat ini.


"Bukankah selalu ada peluang Selena? Sekali pun itu hanya 0,001% apakah kau tak ingin mencobanya? Aku tahu Selena, baik Daniel dan kamu tentu akan ingin mengorbankan satu sama lain. Dan, semua orang pun begitu tak akan mengorbankan orang yang mereka sayangi bukan?"


"Benar Pak. Akan tetapi, entah mengapa konsekuensi untuk hubungan saya dan Daniel ini sangat besar. Saya tidak tahu itu apa, tetapi hati saya sesak rasanya Pak."


Mendengar ucapan Selena, Dexter justru tersenyum kepada Selena. "Mungkin saja kisah cinta kalian akan berbeda ujungnya dengan kisah cintaku. Mungkin saja." Dexter melipat keduanya tangannya. "Karena yang menentukan perjalanan cinta masing-masing pasangan adalah Dia bukan? Walau pun, aku dan Daniel sama-sama malaikat, sapa tahu jalan cinta kami berbeda. Kita tidak akan pernah tahu itu."


"Tetapi, risiko terlalu besar Pak. Kita seperti berada di jalan yang lurus tetapi ujungnya berliku. Bukankah itu menakutkan? Bahkan bisa saja di ujung jalan yang lurus itu ada jurang." Selena menundukkan kepalanya. "Saya tetap ragu dan tidak memiliki keberanian, Pak. Saya meminta waktu kepada Daniel untuk berpikir."


"Berapa lama waktu yang kamu minta? Jangan terlalu lama, karena waktu Daniel tidak akan lama lagi. Kau tahu itu kan?"


"Iya, saya tahu."


Waktu yang dimiliki Daniel menjadikannya seolah-olah sedang sakit keras dan tidak ada kesempatan di hari esok. Waktu yang hanya berjalan tidak sampai satu musim. Benar-benar waktu yang singkat dan bisa dihitung dalam hitungan jari. Bagaimana juga cara membuat kenangan bersama dalam waktu sesingkat itu?


"Kalau aku boleh memberi saran, ikuti saja kata hatimu, Selena. Karena yang paling tahu apa yang kamu mau dan inginkan sekarang ini adalah hatimu sendiri. Juga, berdoalah semoga kisah cinta kalian tidak seperti kisahku."

__ADS_1


"Pak, kalau saya boleh tahu, bagaimana awal kisah Pak Dexter? Lalu, bagaimana gadis itu Pak?"


Dexter menghela nafasnya sejenak, ia sudah tahu bahwa Selena akan curiga dengan kisahnya. "Kejadian itu sudah lama berlalu, Selena. Sudah 7 tahun yang lalu. Gadis yang cantik, manis, dan memiliki senyuman indah, namun sayangnya kehidupannya tak seindah senyuman di wajahnya. Sekian lama ia hidup sendiri, berjuang sendiri, lalu aku datang dengan misi untuk menjaganya. Hanya beberapa bulan kami bersama dan akhirnya ia tiada saat terjadi baku tembak di kota itu, aku berlari membawanya ke rumah sakit, tetapi sayang sekali nyawanya tak tertolong. Sudah 7 tahun sejak peristiwa itu terjadi, tetapi dia masih berada di sini." Dexter menepuk-nepuk dadanya.


"Ya, dia masih di sini, Selena. Sekali pun dia sudah tak dunia ini, tetapi semua tentangnya tetap hidup di hatiku. Dia sudah berkorban untukku, maka sisa hari yang kumiliki akan kugunakan untuk mengenang dan mencintainya setiap hari." Ucap Dexter dengan penuh percaya diri. "Dan, perasaan yang besar inilah yang membuatku bertahan."


Selena menatap dalam, ia sungguh tak menyangka pria singing seperti Dexter rupanya memiliki cinta yang begitu besar. Walau pun gadis yang ia cintai sudah tiada, tetapi cintanya sangat besar.


"Baik Pak Dexter. Terima kasih untuk nasihatnya ya Pak. Saya berharap Pak Dexter bahagia selalu, di hari-hari ke depan semoga selalu bahagia ya Pak."


"Kau juga Selena. Kau berhak bahagia."


Usai keluar dari ruangan Dexter, Selena kembali ke meja kerjanya. Ia berusaha memfokuskan pikirannya pada beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan. Namun, banyak sekali distraksi di dalam otaknya. Hingga sesekali Selena memijat pelipisnya dan meminum air putih supaya konsentrasinya kembali. Tetapi ia selalu terngiang-ngiang ucapan Daniel yang memintanya untuk menikahi dengannya.


Kali ini Selena merasa harus segera ambil sikap, sehingga ia bisa merasakan ketenangan. Lagipula mengingat waktu yang Daniel miliki tidak begitu lama, maka Selena harus mempercepat memberikan keputusannya.


Sepanjang hari ini, berlangsung sangat lama bagi Selena. Hingga akhirnya jam pulang kerja pun tiba. Di depan kantor Selena, sebuah mobil milik Daniel sudah menunggu di sana. Kali ini bahkan Daniel tidak menunggu di dalam mobil, ia memilih menunggu di luar. Daniel menyandarkan badannya ke mobil. Wajahnya yang tampan tentu menjadi perhatian bagi para karyawan Buana Corps.


Beberapa karyawan wanita banyak yang mencuri pandang kepada Daniel. Tapi rupanya Daniel sama sekali tak menghiraukan puluhan pasang mata yang menatapnya. Ia hanya menunggu Selena.


Tak berselang lama, Selena pun keluar. Gadis itu terkejut ketika Daniel melambaikan tangan kepada Selena.

__ADS_1


"Hai Dan..." Sapanya ketika sudah berada di dekat Daniel. Gadis itu pun tersenyum manis kepada Daniel. Setelah berhari-hari wajahnya nampak suram, kini senyuman yang indah itu kembali terlihat di wajahnya yang ayu.


"Hai... Aku sudah menunggu." Balas Daniel sembari tersenyum kepada Selena. "Ayo masuk." Ia pun membuka pintu mobil untuk Selena.


Begitu sudah sama-sama berada di dalam mobil, Selena pun ingin langsung memberikan jawabannya. Lebih cepat lebih baik.


"Dan, boleh aku mengatakan sesuatu?"


"Hmm, apa? Boleh katakan saja."


"Aku mau menerima ajakanmu, Dan. Tetapi, lebih baik jika kita sama-sama berbagi garis takdir gitu. Bisakah? Hmm."


Daniel seketika menatap Selena. Pria itu hanya tersenyum sembari mengelus puncak kepala Selena.


"Jangan dipikirkan. Iya, kita akan lewati semuanya bersama-sama." Lalu, Daniel menautkan jari-jarinya di sela-sela jari Selena. Menggenggamnya erat, seolah ia tengah berbagi kekuatan dengan Selena. "Terima kasih sudah menerimaku. Aku akan urus pernikahannya segera."


Selena pun tersenyum kepada Daniel. "Terima kasih karena sudah menjagaku selama ini, Dan. Terima kasih untuk ketulusanmu. Terima kasih untuk semuanya."


"Sudah terima kasihnya? Aku yang berterima kasih karena kamu mau bersamaku, mau menjalani hari-hariku yang singkat. Semoga Dia menyatukan kita untuk waktu yang lama ya. Kita sama-sama memohon dan berdoa ya Selena."


"Iya Dan... Itu juga selalu kusebut dalam doaku. Terima kasih, Dan..."

__ADS_1


Akhirnya keduanya saling mengatakan perasaan satu sama lain, senyuman tak hilang dari wajah mereka. Keduanya pun sembari berharap kali ini Tuhan berbelas kasihan kepada mereka berdua. Kiranya cinta kasih mereka yang suci, dapat diperhitungkan Sang Empunya Hidup dan beroleh kemurahan-Nya.


__ADS_2