
..."Belajarlah dari setangkai bunga. Dalam diam, ia mengajarkan arti sabar untuk mencapai keindahan, dan berjuang untuk mempertahankan kehidupan."...
Daniel mengatakan kata-kata yang indah tentang bunga saat keduanya membicarakan tentang bunga dan rencana Daniel untuk menanam bunga di balkonnya.
Selena cukup terharu dengan kata-kata yang barusan Daniel ucapkan. Pria dari Mars yang aneh dan lucu ini bisa mengucapkan berbagai kata-kata yang menyentuh hatinya.
Selena mulai berkata dalam hatinya. "Ya benar, bunga memiliki caranya sendiri untuk tumbuh, mekar, layu, dan pada akhirnya gugur. Akan tetapi, bunga pun dengan sabar menanti setiap proses perkembangan itu hidup menjadi mekar sempurna, indah. Aku ingin belajar dari bunga."
"Kalau hari ini kita pergi ke pasar bunga itu maukah?"
Daniel mengajak Selena ke pasar bunga, karena Daniel sendiri sudah merindukan kebun bunga Edenweis nya. Ia ingin mulai menanam berbagai bunga di balkon apartemennya.
"Oke boleh. Tunggu sebentar, aku akan mengganti bajuku dulu."
Selena meminta waktu sebentar untuk berganti baju. Dengan cepat Selena mengganti bajunya, ia hanya mengenakan celana jeans dan kaos berwarna pink. Penampilan yang casual dan sederhana. Lalu, Selena menguncir rambutnya yang sebahu menjadj kuncir ala ponytail. Karena ia berpikir akan berbelanja tanaman dan media tanaman di pasar pasti akan membuatnya gerah. Jadi menguncir rambut adalah salah satu solusi untuk mengatasi gerah dan kepanasan di pasar bunga nanti. Selesai dengan semuanya, Selena buru-buru keluar dari kamarnya.
Di ruang keluarga, Daniel pun telah siap dengan jeans denim dan polo shirtnya berwarna navy. Pakaian yang casual, tapi justru terlihat sangat menarik dikenakan Daniel.
"Hanya berpakaian biasa saja, pria dari Mars ini sudah seperti foto model." Gerutu Selena dalam hati.
Mereka segera menuju parkiran di basement dan mengendarai mobil berjenis city car yang sudah tersedia bagi Daniel di parkiran basement. Dengan segera, Daniel mengemudikan mobil itu menuju alamat pasar bunga yang diberikan Selena kepadanya.
"Daniel, kau sudah berpikir untuk membeli apa saja di sana?" Tanya Selena kepada Daniel yang tengah serius mengemudi.
"Hmm, mungkin beberapa benih bunga, media tanam seperti pot, tanah, pupuk, dan beberapa perlengkapan dekorasi tanaman."
__ADS_1
Daniel menjawab dengan rasa antusias, sekian hari berlalu tanpa aktivitas merawat bunga membuat ada yang kurang dengan hidupnya.
"Tetapi, aku dengar membeli benih di sana harus memesan dulu. Terkadang jika langsung membeli, kemungkinan tidak tersedia."
Selena berkata karena dari informasi yang ia dapatkan di dunia maya pasar itu terkadang menjual benih yang terlebih dahulu sudah dipesan secara online.
"Oh, begitu ya.... Aku pikir gak papa sih, kita lihat-lihat saja dulu." Sahut Daniel sembari mengemudikan mobilnya.
Setelah lebih dari 30 menit, mobil itu telah sampai di Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. Selena yang memberitahukan lokasi pasar bunga itu kepada Daniel, dan dari informasi yang ia ketahui pasar itu disebut sebagai Pasar Bunga Terbesar di Asia Tenggara.
"Ini Daniel pasar bunganya. Semalam aku mencari informasi melalui internet kalau ini adalah pasar bunga terbesar di Asia Tenggara. Bunga yang dijual di sini beraneka ragam, terus pasar ini juga beroperasi 24 jam."
Selena seperti seorang pemandu wisata bagi Daniel. Sebisa mungkin, ia mencari informasi sehingga di pasar bunga itu ia bisa membantu Daniel dengan sebaik mungkin.
Hamparan bunga-bunga berbagai jenis dan warna menyambut mereka berdua. Bunga-bunga seperti Krisan, Mawar lokal maupun import, Aster, Peacock, Bunga Matahari, Lili, Teratai, dan berbagai bunga lainnya terpampang indah di setiap kios penjual bunga yang ada di sana.
"Wah, banyak juga ya bunga di sini." Ucap Daniel yang nampak senang melihat bunga di sekelilingnya.
"Iya, karena ini pasar bunga di Asia Tenggara, Dan. Aku mengingat ceritamu kalau kamu bekerja di kebun bunga, jadi aku berpikiran untuk mengajakmu ke pasar induk ini supaya kamu bisa membeli yang kamu mau."
Selena benar-benar tidak ingin mengecewakan pria yang sudah banyak membantunya itu. Dia ingin Daniel bisa mendapat semua yang ingin ia beli di satu tempat saja, lebih efisien.
"Bagaimana kalau kita mencari benih dan lainnya dulu?"
"Oke."
__ADS_1
Keduanya berjalan menyusuri kios demi kios menanyakan apakah menjual benih bunga, akhirnya Daniel dan Selena menemukan kios yang menjual benih-benih bunga sekaligus dengan media tanam, aksesoris, dan pupuk organik.
"Hampir semua yang kucari ada di tanam bunga ini."
Mata Daniel berbinar-binar ketika menemukan kios yang menjual apa yang dia cari.
Bapak penjual bunga itu melayani Daniel dan Selena dengan ramah. Memberikan beberapa alternatif tanaman yang cocok untuk ditanam di balkon juga. Setelah memilih, akhirnya Daniel membutuhkan membeli benih bunga Mawar berwarna pink, bunga Petunia, bunga Cantik Manis, tanaman Monstera Deliciousa, dan Calathea.
Setelah itu, Daniel membeli media tanam seperti tanah, batu kerikil, sekam, dan pupuk kandang organik. Tidak lupa juga, ia membeli pot-pot berukuran kecil dan sedang dengan warna putih, planter box, dan rumput sintetis.
Selena yang melihat antusias Daniel memilih dan membeli apa yang ia cari itu, Selena tersenyum, jika seperti ini Pria dari Mars ini terlihat seperti manusia normal. Bahkan Daniel tahu semua tentang tanam-menanam, perbincangan Daniel dan Bapak penjual bunga itu pun didengarkan Selena dengan penuh perhatian. Selena sungguh bahagia bisa membantu Daniel kali ini.
Selesai dengan semua yang ia cari, Daniel segera membayar semuanya dengan kartu ATMnya. Selena terkejut dengan jumlah nominal yang Daniel keluarkan untuk membayar semua yang ia beli.
"Apa untuk menanam bunga mahal seperti ini ya?" Tanya Selena setelah Daniel selesai membayar semua belanjaannya.
"Hmm, mungkin terlihat mahal karena ini awal. Kalau tanamannya sudah tumbuh, tinggal beli pupuk organik saja kok."
Ya benar juga sih, karena untuk memulai dari awal tentu terasa jumlah nominal yang dikeluarkan. Akan tetapi ketika sudah berjalan, biaya operasional tidak akan sebanyak biaya mula-mula.
Mereka memasukkan belanja mereka dibantu orang yang bekerja di kios itu untuk memasukkan ke dalam bagasi mobil Daniel.
"Ayo Selena, kita jalan-jalan lagi. Kamu bisa menanyakan semua nama bunga dan tanaman ini kepadaku, karena aku akan bisa menjawab semuanya."
Daniel berkata penuh percaya diri, sementara Selena hanya tersenyum dalam hatinya sambil bergumam, "Iya, iya tukang kebun. Pasti tahulah semua nama-nama bunga."
__ADS_1
Akhirnya dua orang itu kembali berjalan-jalan melihat satu per satu kios penjual bunga dan sesekali Selena bertanya jenis bunga apa yang ada di sana.