
Selena bahagia melihat makanan yang dipesan sudah tersaji di depannya. Menu yang ia inginkan juga sudah tersedia di hadapannya yaitu nasi goreng dan teh hangat. Sementara Daniel memesan capjay sayuran dan es coklat. Begitu pelayan menyajikan makanan di meja, Daniel langsung memberikan capjay yang sudah ia pesan kepada Selena.
"Makanlah sayuran ini, tubuhmu perlu banyak sayuran supaya cepat pulih. Sayuran ini juga mengandung berbagai vitamin yang baik untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Lukamu akan pulih dengan cepat karena serat dan vitamin dalam sayuran ini akan memperbaiki jaringan-jaringan yang rusak atau terluka." Daniel berkata layaknya seorang ahli gizi dan ia mendekatkan sepiring capjay sayuran di hadapan Selena.
"Hmm, lalu Anda makan apa? Kenapa hanya meminum es coklat saja? Apakah kenyang hanya dengan meminum es coklat saja?" Tanya Selena kepada Daniel yang memang memilih tidak makan malam itu.
Daniel kebingungan menjawab pertanyaan Selena, sebab naturnya sebagai malaikat, dia memang tidak makan dan minum. Tuhan menciptakan para malaikat untuk melayani, dan tidak memberikan kepada mereka ***** untuk makan dan minum. Akan tetapi, untuk sebatas menemani Selena makan, Daniel hanya memesan es coklat. Sebab di kebun bunga Edenweis dulu, apabila merasa kelelahan dan sedih, ia akan memakan coklat yang memang tersedia dengan melimpah di sana. Maka dari itu, sekarang Daniel hanya memesan es coklat saja.
"Aku tidak merasa lapar. Dengan meminum es coklat ini saja aku sudah kenyang." Jawab Daniel dengan perlahan.
"Oh, tapi tidakkah Anda merasa lapar. Tidak enak rasanya jika saya di sini makan sendiri dan Anda hanya meminum es coklat."
Selena benar-benar sungkan, sebab hanya dialah yang makan malam di situ. Tetapi, orang yang akan membayari dia makan justru hanya memesan es coklat.
"Tidak apa-apa. Makanlah. Habiskan semua hingga kamu kenyang. Jika kurang, kau bisa memesan lagi." Kata Daniel dengan wajahnya yang penuh ketulusan.
"Tidak ini saja sudah cukup. Sudah membuatku kenyang karena porsinya memang banyak sekali." Sahut Selena.
"Karena itu makanlah. Aku akan kenyang hanya dengan melihatmu makan." Daniel kembali membuka suara sambil meminum es coklatnya.
"Benarkah?" Tanya Selena lagi.
"Iya, aku akan kenyang melihatmu makan. Jadi sekarang, makanlah." Sahut Daniel.
__ADS_1
Pertama-tama mereka terasa canggung, karena baru kali ini mereka makan bersama di Cafe. Tetapi, baik Selena mau pun Daniel berusaha merilekskan dirinya supaya tidak nampak canggung.
Selena mulai memasukkan suapan nasi goreng dan capjay sayuran ke dalam mulutnya. Betapa enaknya dia bisa menikmati makanan yang enak, karena selama di rumah sakit, ia merasa makanan yang ia makan rasanya hambar. Padahal menu yang disajikan oleh rumah sakit itu begitu beragam, enak, dan bergizi. Akan tetapi, sepiring nasi goreng dan capjay di depannya ini terasa sangat enak. Hingga Selena ingin melahap semuanya.
Selena mengunyah makanannya perlahan, merasakan setiap bumbu yang diracik dalam kedua masakan itu memang lezat. Setelah itu, dia memberanikan diri untuk berbicara kepada Daniel yang duduk di depannya.
"Saya berterima kasih untuk semua bantuan Anda. Tetapi bagaimana caraku membayarnya?" Tanya Selena dengan wajahnya yang nampak sedih.
Daniel hanya merasa Selena masih berbicara terlalu sopan padanya, walaupun ia tidak memanggilnya Tuan lagi. Oleh karena itu, Daniel berkesempatan membuat Selena bisa lebih santai dengannya.
"Kau bisa membayarku sekarang bila kau mau?" Kali ini Daniel ingin menawarkan sesuatu kepada Selena.
"Bagaimana caranya?" Selena ingin tahu bagaimana caranya membayar Daniel, perlahan ia menaruh sendok dan garpu yang semula dipegangnya di sisi piring nasi gorengnya. Ia ingin mendengarkan apa yang dikatakan Daniel dengan penuh perhatian, sehingga hutangnya sungguh-sungguh bisa ia bayar.
"Kalau kamu mau, caramu membayarku adalah jangan terlalu sopan padaku. Berbicaralah seperti kamu berbicara kepada temanmu, jangan memakai kata " saya" dan "Anda", dan panggil namaku Daniel saja. Itu sudah cukup untuk membayar semuanya."
"Bagaimana bisa saya memanggil Anda langsung dengan nama Anda secara langsung, sementara Anda sudah banyak membantu saya, menolong saya saat saya kecil, membiayai biaya pengobatan saya di rumah sakit dengan fasilitas yang terbaik, menemani saya menghadapi ayah saya yang sedang mabuk, dan sekarang Anda jugalah yang menampung saya di apartemen Anda. Semua bantuan Anda sangat besar dan berarti bagi saya."
Selena menyahut perkataan Daniel. Selena ingin menyatakan bahwa dirinya benar-benar berterima kasih atas pertolongan Daniel kepadanya, karena itulah ia menggunakan bahasa yang formal.
"Sudah, lupakan bahasa formal itu. Sebab, itu justru membuatku merasa tidak nyaman. Tolong, panggil aku Daniel dan gunakan bahasa sehari-hari saja. Nah, cobalah sekarang panggil aku Daniel.... Ya, Daniel...."
Daniel kali ini meyakinkan Selena dan ia berharap gadis itu akan memanggilnya dengan namanya saja dan tidak terlalu formal padanya.
__ADS_1
"Hmm, baiklah akan kucoba. Daniel...." Selena mencoba memanggil Daniel dengan namanya.
"Tuh, kamu bisa melakukannya."
"Iya, aku akan mencobanya."
"Bagus Selena."
"Coba sekali panggil namaku. Ayo!"
"Hmm, Daniel."
Setelah itu keduanya tertawa bersama, Daniel merasa lega karena Selena menerima tawarannya.
"Oke Selena, sekarang hutangmu lunas, karena kamu tak perlu membayar apapun. Kamu sudah memanggilku dengan namaku dan jangan terlalu formal padaku."
Mendengar perkataan Daniel, Selena menganggukkan kepalanya. Sekali lagi Selena ingin berterima kasih kepada Daniel karena ia telah menunjukkan secara tulus kepadanya.
"Terima kasih sekali lagi, Daniel."
"Sama-sama Selena. Sekarang habiskan makananmu ya, keburu dingin."
"Kamu sungguh tidak makan?" Tanya Selena kepada Daniel apakah pria itu benar-benar tidak makan.
__ADS_1
"Hmm, tidak. Aku sudah kenyang. Makanlah Selena. Mau pesan lagi? Kamu boleh memesan apapun yang ingin kau makan."
Satu kecanggungan dalam menggunakan bahasa formal sudah dapat diatasi. Daniel begitu bahagia karena Selena sudah mau memanggilnya dengan namanya, dan Selena pun berusaha untuk menganggap Daniel seperti keluarganya atau temannya sendiri. Keduanya sudah terlihat layaknya seorang sahabat yang saling memperhatikan satu dengan yang lain. Mereka melanjutkan Makan malam sambil sesekali bercanda gurau, tidak ada kecanggungan yang terasa di antara keduanya. Makan malam hari itu memberi satu perubahan baik bagi Daniel dan Selena. Mereka tidak akan lagi berhubung sebagai orang asing yang terpenjara dalam pemakaian bahasa yang formal dan baku, keduanya justru baru akan memulai lembaran baru sebagai dua orang yang akan saling terhubung satu sama lain.