
Puas melihat dan merasakan guyuran air hujan di telapak tangannya yang menengadah pada setiap air hujan yang jatuh, Selena kemudian berjalan meninggalkan balkon. Ia ingin masuk ke dalam.
"Daniel, aku akan masuk. Ini sudah semakin malam, lagipula hujannya akan lama. Mungkin bisa semalaman." Ucap Selena kepada Daniel dan ia segera masuk ke dalam apartemen.
Daniel mengekorinya di belakang, "Aku juga akan masuk Selena, karena sudah tidak ada yang perlu kutemani di sini."
Selena duduk sejenak di ruang tamu, pikirannya mulai berputar-putar, setelah cintanya tak terbalas jujur ia menjadi canggung berdekatan dengan Daniel. Walaupun sebelumnya ia merasa biasa, tapi entah kali ini terasa sangat canggung. Ia harus segera mencari cara supaya tidak terlihat tidak nyaman. Mengingat ini sedang hujan, makan mie instan adalah pilihan terbaik. Segeralah Selena beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana Selena?" Tanya Daniel saat melihat Selena tiba-tiba berdiri.
"Oh, aku mau ke dapur. Aku mau membuat mie instan. Kamu mau juga?" Selena pun menawarkan mie instan untuk Daniel.
"Tidak usah, aku tidak lapar." Balas Daniel singkat.
"Hmm, baiklah."
Selena berjalan menuju dapur, dan membuka membuka lemari kecil yang berada di dapur tempat ia menyimpan berbagai merek mie instan dengan berbagai rasa.
"Mie apa yang harus kubuat? Mie rebus, mie goreng, Samyang, atau Udon? Semua jenis mie ada di sini. Aku jadi bingung." Selena berbicara pelan, lalu ia menggaruk tengkuk kepalanya, kembali berpikir, dan akhirnya ia memutuskan untuk memasak mie instan ayam bawang, mie instan dengan cita rasa khas Indonesia ini menjadi pilihan Selena.
Segeralah Selena mengambil panci stainless steel, mengisinya dengan air. Lalu ia memotong-motong cabe rawit. Selena kembali membuka kulkas, mengambil 1 butir telor. Begitu air mendidih, ia memasukkan potongan cabe yang sebelum telah ia iris, begitu uap cabe yang terasa pedes mulai menyengat, barulah ia masukkan mie nya dan disusul telor.
Daniel berjalan mendekati Selena di dapur, dari beberapa meter pria itu terbatuk-batuk mencium uang cabe dari mie instan Selena yang terasa pedas.
"Kau memasak apa Selena? Kenapa aromanya menghasilkan uap sepedas ini?" Tanya Daniel sambil melihat mie instan dua porsi yang berada di dalam panci stainless steel.
"Oh, ini aku buat mie pake cabe setan?"
__ADS_1
"Cabe setan? Emang ada?"
"Ini, ini namanya cabe setan. Oh, iyaa.... aku lupa. Terkadang orang menyebut ini cabe rawit, Dan." Dengan tangannya menunjukkan cabe rawit berwarna merah, oranye, dan hijau itu kepada Daniel.
"Oh.... cabe rawit itu disebut cabe setan ya?" Daniel mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya...." Sahut Selena.
"Tapi, berapa banyak cabe yang kau gunakan kali ini? Mengapa bisa menghasilkan uap sepedas ini?" Tanya Daniel dengan selidik, dia berpikir berapa banyak cabe yang sudah dipake.
"Hmm, sedikit kok. Cuma lima." Senyum Selena kepada Daniel dengan mengangkat kelima jarinya seperti tengah Hi Five. ✋🏻
"Lima ya, kenapa bisa sepedas ini sih."
Waktu memasak mie instan telah usai, mie itu berendam di dalam air panas dalam panci stainless steel selama 3 menit untuk mendapat tekstur mie yang kenyal.
Selena mulai memakan mie instannya dengan sumpit, menyeruput kuah mie di sendoknya. Baru satu sendok, gadis itu sudah kepedesan. Daniel yang duduk di hadapannya hanya memperhatikan tingkah aneh Selena kali ini.
Nampak Selena mulai berkeringat keningnya, matanya mengeluarkan air mata, bibirnya menjadi merah, beberapa kali mulutnya mengeluarkan kata "haaahh.. pedas....". Tapi Selena tidak menghentikan kegiatannya, dia tetap melanjutkan menyantap mie instannya yang pedas itu.
Kening Daniel berkerut memerhatikan Selena, lalu ia berdiri mengambilkan tissue untuk Selena.
"Pakai ini Selena, hidungmu berair." Ucap Daniel sambil menyodorkan tissue.
"Hmm, makasih Dan."
Selena mengambil satu tissue lalu mengelap hidungnya yang berair akibat kepedasan.
__ADS_1
"Kalau tidak kuat, jangan di makan Selena. Perutmu bisa sakit, itu terlalu pedas."
Selena tak menghiraukan ucapan Daniel. Makanan pedas ini mungkin bisa menjadi obat baginya, dia tak perlu malu menangis karena perasaannya ditolak, cabe ini bisa membuatnya menangis tanpa Daniel tahu perasaannya yang sesungguhnya.
"Bukan perutku yang sakit, Dan. Tapi, hatiku....." Hiks! Gumam Selena dalam hatinya. Hatinya yang sakit tak sebanding dengan mie pedes cabe setan yang saat ini ia makan.
Wajah Selena mulai merah, air mata pun keluar dari matanya. "Huuhhhh... Pedes banget sih. Pedes...." Tangannya mengipas-ipasi wajahnya yang terasa panas efek kepedasan. Sambil jarinya menghapus air mata yang jatuh begitu saja di pipinya.
"Sudah. Jangan di makan lagi. Kamu bisa sakit perut."
"Gak papa, Dan. Lagipula ini tinggal sedikit."
Selena kembali melahap habis mie nya dengan beberapa tissue yang tergeletak di meja makan. Tissue yang mengiringnya mengelap keringat di keningnya dan air mata yang wajahnya.
"Jangan makan itu lagi. Aku tak akan membiarkanmu makan mie pedes itu lagi. Lihat dirimu sekarang ini." Daniel mengoceh sembari mengangkat mangkok mie dari meja di depan Selena, memindahkan ke tempat cucian. Pria itu bahkan memungut setiap tissue yang sudah terpakai Selena dengan tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.
Sementara Selena matanya masih mengeluarkan air mata. "Pria aneh, aku menangis bukan karena mie itu. Aku menangis karenamu. Bagaimana mungkin mie yang begitu lezat menyakitiku. Bila boleh memilih, aku lebih memilih sakit perut karena makan mie pedas, daripada sakit hati." Kata Selena dalam hati dan mengelap sudut matanya yang basah.
Daniel mencuci mangkok keramik yang sebelumnya dipakai Selena, lalu ia mencuci tangannya. Setelah itu ia mengambil madu dari kulkasnya, menaruh 3 sedok makan madu dan melarutkannya dalam segelas air hangat.
"Minum ini Selena, ini air madu. Aku pernah mendengar, madu bisa digunakan untuk menghilangkan rasa pedas. Ini, minumlah." Ucap Daniel dengan menyodorkan segelas air madu kepada Selena.
"Hmm, terima kasih." Selena kemudian meminum seteguk air madu itu.
"Kenapa masih menangis?"
"Aku kepedasan. Mataku menangis dengan sendirinya. Hidungku sampai meler." Jawab Selena, padahal ia sesungguhnya menangis karena Daniel yang lagi-lagi bersikap baik padanya. Pria itu yang mencuci mangkoknya dan membuang bekas tissue yang barusan ia pakai dengan tangannya sendiri, bahkan kini pria itu membuatkannya air madu. "Sebenarnya siapa yang bodoh di sini? Aku yang bodoh karena terlihat menyedihkan seperti sekarang ini, atau dia yang sama sekali tidak jijik membuang tissue yang telah kupakai." Gumam Selena dalam hatinya sembari ia meminum air madu buatan Daniel.
__ADS_1