Malaikat Penjaga Selena

Malaikat Penjaga Selena
Layu Sebelum Berbunga


__ADS_3

Tidak ada yang bisa mengira mekarnya sebuah bunga, begitu juga tidak ada yang bisa mengira begitu cepatnya bunga itu layu, mengering di rantingnya.


Lalu, bagaimana apabila bunga yang layu sebelum dia berhasil mekar menunjukkan bentuk dan warna terindahnya? Sungguh tragis bukan. Seperti itulah perasaan Selena saat ini, dengan masih berdiri di balkon di temani oleh pria yang baru saja menolak perasaannya, Selena menatap langit dengan warna jingga tanda matahari terbenam. Melihat senja akan lebih indah bila dinikmati dengan kekasih, berbagi perasaan cinta, sambil berpelukan bersama. Namun kali ini, senja yang begitu indah dinikmati Selena dengan hati yang hancur. Walaupun semula ia berkata tak akan patah hati ketika Daniel menolaknya, nyatanya hatinya begitu sakit mendengar bahwa Daniel tak bisa membalas perasaannya, Daniel tak bisa memberikan perasaan suka layaknya seorang pria dan wanita. Bahkan dengan jelas Selena mendengar bahwa Daniel menyukainya sebatas rasa kasih kepada sesama manusia. Goresan jingga di langit, seperti goresan luka di hatinya.


Daniel yang masih berdiri di tempatnya melihat Selena yang berdiri tidak jauh darinya.


"Selena, kemarilah." Panggil Daniel membuyarkan pikiran Selena yang masih memikirkan hatinya yang sakit karena cintanya tak terbalas.


Selena menoleh kepada Daniel, perlahan ia mendekat dan berdiri lebih dekat kepada pria itu. "Ada apa Daniel?"


"Aku ingin memelukmu sebentar."


Daniel merengkuh tubuh Selena, memberikan kehangatannya sejenak bagi gadis yang tengah patah hati itu. Sementara Selena yang diam, dia merasa seluruh tubuhnya kaku saat ini. Ia pun tak membalas pelukan Daniel, hanya berdiri kaku.


"Sudahlah Daniel, sikapmu yang manis dan baik seperti ini bisa membuat orang lain salah sangka."


Daniel melepaskan pelukannya dan membalas ucapan Selena, "Salah sangka? Maksudnya apa?"


"Ya, kau bisa membuat orang lain salah sangka, termasuk aku. Sikapmu yang demikian ini membuatku menyukaimu Daniel. Aku harap tidak ada orang lain yang menjadi salah sangka kepadamu dengan sikapmu seperti ini." Ucap Selena dengan senyuman getir yang terlihat di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Ah maaf Selena. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin sedikit membuatmu tenang dan memastikan kamu baik-baik saja. Maafkan aku Selena..."


"Tak perlu meminta maaf Daniel, mungkin kesalahannya berada padaku, aku yang mengira sikapmu ini sebagai bentuk kau juga menyukaiku. Hmm, tapi nyatanya aku salah. Apakah kau juga bersikap demikian kepada orang lain, Dan?"


"Tentu tidak, Selena. Di tempat ini aku hanya mengenalmu. Tidak ada yang lain. Ada berbagai hal yang membuatku tidak bisa menyukaimu Selena. Suatu saat aku akan menjelaskannya padamu. Tunggulah penjelasanku di waktu yang tepat."


Selena berpikir keras, penjelasan apa yang ingin Daniel sampaikan. Mengapa juga dia harus menunggu waktu sampai dia mau menjelaskannya. Selena mengingat-ingat apabila dekat dengan seorang wanita lain, tentulah tidak. Ia bahkan tidak pernah melihat Daniel bersama wanita selain dirinya. Ataukah sebelumnya Daniel memiliki istri di luar negeri jauh sebelum ia bertemu dengannya.


Dengan memberikan diri melihat mata Daniel, "Baik, aku akan menunggu penjelasanmu Daniel. Dan aku harap kamu bisa menjelaskan semuanya sehingga aku pun bisa menerima semua itu. Jangan menyembunyikan apapun dariku dan jangan membohongiku. Aku harap kamu bisa menjanjikan itu, Dan..."


"Iya Selena, aku berjanji. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Cukup tunggu aku. Tunggu waktu yang tepat itu tiba dan aku akan jelaskan semua kepadamu."


"Huhh, Tuhan pun tahu hatiku sedang tidak baik-baik saja. Dia sengaja menurunkan gerimis ini untuk mendamaikan hatiku. Sayangnya bunga di hatiku yang terpaksa layu sebelum berkembang, tidak bisa disemai lagi. Sungguh tragis cinta pertamaku. Hiks." Kata Selena dalam hatinya dengan satu tangan terulur merasakan tetes demi tetes air hujan yang turun petang itu.


"Baru saja aku menikmati momen senja dengan hati yang hancur, dan kali ini Tuhan memberikan sedikit hujan untuk gadis yang sedang patah hati. Ironis memang. Mengapa hujan selalu berkaitan dengan patah hati? Mengapa awan gelap turun saat seseorang sedang berada dalam kesedihan? Bila air hujan ini bisa menenangkan, maka tenangkanlah hatiku." Masih dengan tangan terulur merasakan tetesan air hujan, dan ia mencium semerbak petrikor (aroma alami yang dihasilkan saat air hujan jatuh ke tanah) dengan sedikit memejamkan matanya.


"Jangan bermain hujan Selena, kau bisa sakit." Ucap Daniel yang memperhatikan Selena. Posisi Selena yang begitu dekat dengan tepi balkon dan hujan yang semula gerimis perlahan menjadi lebat membuat Daniel memperingatkan gadis itu untuk tidak bermain air hujan.


"Iya, aku cuma ingin merasakan air hujan ini saja. Lagipula aku tidak berniat untuk hujan-hujan. Kamj tidak perlu khawatir, Dan..." Sahut Selena dengan memberikan senyumnya kepada Daniel. Dan itu adalah senyuman di wajahnya saja, hatinya sesungguhnya menangis.

__ADS_1


"Kamu tak ingin masuk ke dalam Selena? Hari sudah petang dan malam segera tiba. Lagipula hujannya semakin lebat. Masuklah jangan sampai masuk angin karena berada di sini."


"Tidak, aku masih ingin di sini. Aku masih ingin merasakan air hujan ini."


"Tapi hujannya semakin deras Selena."


"Iya, aku tahu Daniel." Sahut Selena singkat.


"Kalau begitu mundurlah sedikit, jangan terlalu berdiri di tepi balkon. Kau bisa basah karena air hujan." Daniel masih memperingatkan Selena.


Selengkah melangkahkan kakinya mundur tiga langkah ke belakang dengan menaruh kedua tangannya bersidekap di dadanya. "Baik, aku sudah mundur. Aku tidak terkena air hujan lagi. Jangan khawatir, Dan."


"Ya, itu lebih baik daripada posisimu sebelumnya yang begitu dekat dengan tepi balkon. Hujan yang deras ini bisa membuatmu sakit."


Selena mengangguk dan bergumam lirih, "Bukan air hujan yang membuatku sakit, tapi penolakanmu yang tidak membalas perasaanku itulah yang lebih membuatku sakit."


"Kau bicara apa Selena?" Rupanya Daniel tahu bahwa gadis itu sedang bergumam, hanya saja ia tidak mendengar suaranya. Suaranya tenggelam di dalam dentingan air hujan yang turun dengan derasnya.


"Tidak apa-apa, Dan. Kau mungkin salah dengar ataupun salah lihat. Aku sama sekali tak berkata apa-apa." Sanggah Selena.

__ADS_1


Menyadari bahwa cinta pertama tak terbalas itu sangat menyakitkan. Cinta pertama yang manis dan indah bagi banyak orang, nyatanya justru menjadi momen yang membuatnya merasakan patah hati untuk pertama kalinya. Ya, cinta Selena tak terbalas, dan Daniel tahu dengan pasti bagaimana perasaan gadis itu. Dia hanya tetap berdiam menemani gadis itu melihat hujan yang turun dari balkon apartemennya.


__ADS_2