
Dexter menatap Daniel dengan sorot matanya yang tajam. Pria itu tahu bahwa Daniel penuh dengan keputusasaan. Akan tetapi, sekali lagi Dexter tidak ingin menebak terlebih dahulu. Dexter benar-benar memberikan telingaku untuk mendengar cerita Daniel. Lagipula, ini pertamanya kalinya Daniel bertemu dengannya sendiri, ia akan menjadi teman yang baik untuk Daniel.
Obrolan serius kedua pria yang sama-sama memesan cokelat panas itu masih berlanjut. Keduanya nampak serius dengan raut wajahnya. Mengurai cerita dan berharap mendapatkan solusi dari obrolan kali ini.
"Menurutku, akan jauh lebih baik jika kau berani melangkah dan menghadapi konsekuensinya. Selalu ada peluang dan kesempatan bukan? Sekali pun kesempatan dan peluang yang kau miliki hanya 0,001%, tetapi cobalah. Hadapilah konsekuensinya. Kalau tidak mencoba, kau tidak akan pernah tahu tahapan baru dari hubunganmu itu." Ucap Dexter dengan penuh keyakinan.
Daniel menganggukkan kepalanya perlahan, memang benar ada sedikit kemungkinan. Namun, Daniel membayangkan jika konsekuensi itu justru yang menanggung Selena, ia tidak akan bisa membayangkannya.
"Beri dirimu kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Tidak peduli berapa banyak waktu yang kalian habiskan bersama, tetapi cinta kalian akan terkenang selamanya bukan? Berada di dunia yang berbeda pun, kita masih bisa saling mencintai. Yang paling penting adalah kita berani melangkah, lupakan konsekuensinya, pasti ada jalan di saat semua jalan rasanya tertutup. Selalu ada pengharapan bagi orang yang percaya bukan?" Kembali Dexter memberikan nasihatnya kepada Daniel.
"Apa kau juga mencintai gadis yang berbeda dunia?" Tanya Daniel sembari ia mengangkat satu alis matanya. Daniel hanya menaruh curiga bila saja Dexter juga mencintai gadis yang berbeda dunia dengannya.
"Hem, iya. Gadis yang aku cintai, sangat aku cintai sudah tidak berada di sini. Dia sudah tenang di atas sana. Sudah 7 tahun berlalu, dan kau tahu? Cinta itu masih ada di sini." Dexter menepuk perlahan dadanya, sebagai tanda dalam hatinya masih ada cinta untuk gadis yang ia cintai.
Daniel pun tak menyangka bahwa pria di hadapannya adalah pria yang setia, cintanya tetap ada sekali pun gadis yang ia cintai sudah tidak ada di dunia ini.
"Maafkan aku... Aku tidak tahu, kalau gadis yang kau cintai sudah tidak ada di sini. Sorry." Daniel sungguh-sungguh meminta maaf, ia tak ingin mengingatkan Dexter dengan kisah cintanya yang mungkin menyakitkan.
"No problem, Dan. Tidak masalah. Lagipula itulah kenyataannya. Aku pun tidak bersedih sekarang, karena di hati ini masih ada cinta untuknya, dan akan selalu ada." Tentu saja saat ini, Dexter mengenang kekasih hatinya, Rebecca Louissa. "Gadis itu bernama Rebecca, aku bertemu dengannya di London. Dia gadis yang ceria, seorang pianis yang handal dan sangat berbakat. Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Sayangnya jalan cerita kami berdua tidak lebih dari semusim, ia meninggal dalam sebuah baku hantam yang terjadi saat itu. Sebuah peluru bersarang di dadanya. Dengan penuh kepanikan, aku membawanya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan, sayangnya nyawanya tidak tertolong. Dia lebih mencintainya, dan aku pun tertinggal sendirian di sini. Tetapi, cinta di hatiku masih untuknya, bahkan setelah tujuh tahun berlalu."
Dexter menceritakan kisahnya untuk pertama kalinya kepada Daniel. "Namun, aku percaya bahwa Rebecca pun dari atas sana masih mencintaiku. Aku merasakan itu. Cinta yang dia berikan cukup untukku. Jadi, tidak perlu sebanyak apa waktu yang kita habiskan bersama, asal cinta kita tulus, cinta itu akan berlangsung dan bertahan untuk waktu yang lama." Ucap Dexter sembari ia mengenang Rebecca, gadis yang sangat dicintainya. Gadis yang membuatnya menerima hukuman, tetapi juga gadis yang memberi warna baru dalam hidupnya.
__ADS_1
"Iya... Aku percaya dan kau sudah membuktikannya. Tetapi, kenapa kau bertahan dengan cinta sebesar itu sekali pun gadis itu sudah tidak ada di sini? Bukankah itu berarti kau menyiksa dirimu sendiri? Tidakkah kau ingin mencoba membuka hatimu untuk gadis lainnya?" Tanya Daniel kepada Dexter.
Bertahan dan memegang cinta ketika orang yang kita cintai sudah tiada seperti menggenggam bara dalam tangan kita. Yang ada hanyalah luka, penderitaan, hingga akhirnya kita sendiri lah yang terbakar karenanya.
"Sebenarnya, beberapa waktu terakhir aku bertemu dengan gadis yang sangat mirip dengan Rebecca. Wajahnya sangat mirip. Pertama kali bertemu gadis itu, aku mengira itu adalah Rebecca. Namun, itu tidak mungkin karena Rebecca telah tiada. Dan, aku bertahan sejauh ini karena aku yakin cintaku bertahan lama, Dan. Tidak peduli ruang dan waktu, itulah cintaku untuk Rebecca." Dexter menjawab dengan penuh keyakinan.
"Andai saja aku seberani dirinya, sayangnya aku tidak memiliki keberanian sebesar itu." Daniel mengatakan dengan raut wajahnya yang nampak lesu.
"Kalau hatimu sudah mantap, pasti kau akan punya keberanian. Tinggal kita berani melangkah, atau tidak sama sekali. Lagipula kita maju atau pun mundur sudah pasti ada konsekuensinya bukan?"
"Iya, benar. Aku berani melangkah atau tidak sama sekali juga akan ada konsekuensinya. Terima kasih Dexter telah mendengarkan ceritaku ini." Ucap Daniel berterima kasih.
Usai mengobrol cukup lama dengan Dexter akhirnya Daniel kembali pulang ke apartemennya. Hari sudah malam, Selena pasti juga menunggunya. Terlebih sore tadi gadis itu pulang sendirian, karena Daniel ingin mengobrol dengan Dexter. Maka, dengan segera Daniel bergegas menuju ke apartemennya. Ia tahu bahwa Selena menunggunya.
Berkendara kurang lebih 20 menit, akhirnya Daniel telah tiba di apartemennya. Ia segera membuka pintu, dan benar saja ia melihat Selena tengah duduk melihat acara di televisi.
"Kau sudah pulang, Dan?" Tanya Selena begitu melihat kedatangan Daniel.
"Iya, aku sudah pulang." Jawab Daniel sembari ia melangkahkan kakinya di tempat Selena sedang melihat acara televisi itu.
Baru beberapa detik, Daniel duduk rupanya Selena justru berdiri.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan masuk ke kamar, Dan. Ini sudah malam. Selamat malam." Selena berjalan melewati Daniel. Namun, sebelum ia menjauh, Daniel memegang tangan Selena.
Gadis itu begitu terkejut karena Daniel tiba-tiba menghentikannya dengan cara menggenggam tangannya.
"Jangan pergi! Di sinilah dahulu, Selena. Temani aku dahulu." Daniel meminta kepada Selena untuk menemaninya terlebih dahulu.
Menimbang-nimbang dalam hatinya, akhirnya Selena melepaskan genggaman tangan Daniel, dan ia kembali duduk di tempatnya semula.
"Baiklah, aku akan di sini." Balas Selena sembari matanya menghindar untuk menatap Daniel.
"Kau menghindariku, Selena?" Tanya Daniel perlahan. "Kenapa aku merasa kau menghindariku..."
***
Dear All,
Mampir ke karya teman aku ya...
My Husband Is A Vampire - Ntaamelia
__ADS_1